{"id":177550,"date":"2022-05-21T14:00:02","date_gmt":"2022-05-21T07:00:02","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=177550"},"modified":"2022-05-21T13:50:40","modified_gmt":"2022-05-21T06:50:40","slug":"kritik-acara-kompetisi-di-indonesia-pakai-juri-tapi-nggak-punya-kuasa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kritik-acara-kompetisi-di-indonesia-pakai-juri-tapi-nggak-punya-kuasa\/","title":{"rendered":"Kritik Acara Kompetisi di Indonesia: Pakai Juri, tapi Nggak Punya Kuasa"},"content":{"rendered":"<p><em>Katanya kompetisi, pakai juri, kok menentukan keputusannya pake voting pemirsa?<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai seorang penonton televisi aktif, saya bisa dikatakan cukup hafal acara apa saja yang selalu menghiasi layar kaca ini. Sebut saja, acara yang menggoreng isu selebrita, sinetron dan FTV, serta beragam acara kompetisi. Untuk yang terakhir, saya sudah sering kali melihat tayangannya berlalu lalang, sampai saya mampu hafal di luar kepala.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebut saja beberapa acara kompetisi yang terkenal, seperti Idola Cilik, Indonesian Idol, X-Factor, Indonesia Mencari Bakat, dan Masterchef Indonesia. Sudah banyak pula nama-nama artis baru yang lahir dari ajang semacam ini, sebut saja Lord Adi dari Masterchef Indonesia dan baru-baru ini Danar Widiyanto dari X-Factor Indonesia. Namun, di balik keberhasilan melahirkan nama-nama artis baru di Indonesia, ada satu hal yang selalu mengganjal di pikiran dan benak saya setiap kali acara semacam ini muncul lagi, yakni keberadaan sosok dewan juri.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_177949\" aria-describedby=\"caption-attachment-177949\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-177949\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Penilaian-juri-Shutterstock.com_.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Penilaian-juri-Shutterstock.com_.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Penilaian-juri-Shutterstock.com_-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Penilaian-juri-Shutterstock.com_-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Penilaian-juri-Shutterstock.com_-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-177949\" class=\"wp-caption-text\">Penilaian juri (Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya cukup heran dengan acara kompetisi yang menghadirkan juri, tetapi mereka tidak diberikan tempat sebagaimana mestinya. Padahal, juri yang dihadirkan pun bukan kaleng-kaleng, lho alias sudah orang top dan berkompeten di bidangnya. Sebut saja, Rossa di ajang X-Factor Indonesia.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun memang berkonsep hiburan, tetapi kompetisi di dalamnya tentu tidak bisa dikesampingkan, dong. Maka dari itu, saya selalu mempertanyakan posisi juri di acara semacam ini. Alih-alih menikmati kompetisi yang adil dari awal hingga akhir, yang paling bikin geger gedhen buat saya adalah sudah ada juri, tetapi kok hasil voting tetap jadi nomor satu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini lho, untuk apa menghadirkan juri, tetapi penilaian utama yang sifatnya mutlak diambil dari hasil voting? Juri kan seharusnya memberikan penilaian, dan nilai yang diberikannya itu yang seharusnya punya bobot yang lebih besar. Atau, malah jadi pertimbangan utama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau voting jadi pertimbangan utama, mending label yang dipakai bukan juri, tetapi komentator, iya kan? Lha wong pekerjaan pada akhirnya cuma duduk, menikmati penampilan, mengomentari, dan keputusan mereka jarang jadi pertimbangan utama.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_177951\" aria-describedby=\"caption-attachment-177951\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-177951\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Ilustrasi-konser-Pixabay.com_.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Ilustrasi-konser-Pixabay.com_.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Ilustrasi-konser-Pixabay.com_-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Ilustrasi-konser-Pixabay.com_-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Ilustrasi-konser-Pixabay.com_-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-177951\" class=\"wp-caption-text\">Ilustrasi konser (Pixabay.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba cek, deh di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Komentator itu didefinisikan sebagai orang yang pekerjaannya mengomentari atau mengulas berita dan sebagainya. Sebutan lainnya ialah juru ulas. Sedangkan, juri adalah orang yang menilai dan memutuskan kalah atau menang dalam perlombaan. Jadi, pikir lagi, deh mana yang lebih cocok digunakan dalam konteks acara kompetisi di Indonesia?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Makanya, kalau memang voting jadi hasil utama, mending mulai sekarang pakai aja embel-embel komentator. Biar jelas, kalau mereka nggak punya wewenang untuk mengambil keputusan. Biar nggak aneh juga sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kira-kira begitulah kritik saya terhadap fenomena acara kompetisi di Indonesia yang selalu menghadirkan juri, tetapi justru posisinya sebatas komentator belaka. Sudah cuma komentator, pengambilan pemenangnya dari voting pula, duh!<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_177948\" aria-describedby=\"caption-attachment-177948\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-177948\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Voting-dulu-Bos-Pixabay.com_.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Voting-dulu-Bos-Pixabay.com_.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Voting-dulu-Bos-Pixabay.com_-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Voting-dulu-Bos-Pixabay.com_-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Voting-dulu-Bos-Pixabay.com_-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-177948\" class=\"wp-caption-text\">Voting dulu, Bos (Pixabay.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, saya mengakui bahwa memang saya bukanlah tipe pendukung yang selalu siap memotong pulsa dan kuota demi memperpanjang napas salah satu peserta di kompetisi. Jadi, tulisan ini saya tulis semata-mata untuk menyuarakan keresahan saja atas fenomena ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, yang sebenarnya harus dilakukan atau setidak-tidaknya dievaluasi oleh penyelenggara acara itu ada tiga. Pertama, yang paling mudah ialah mengganti terminologinya dari juri menjadi komentator, hal ini dimaksudkan agar tidak bias makna. Kedua, kalaupun tetap menggunakan juri, sepatutnya penilaiannya juga diikut sertakan untuk berhak menentukan yang menang dan kalah. Ketiga, tidak perlu menggunakan voting. Saya kira itu paling adil untuk semuanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kecuali, kecuali nih, kalau niat dari awal adalah cari cuan, bukan cari orang berbakat. Kecuali, loooh.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Cindy Gunawan<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/apa-itu-klitih-panduan-memahami-aktivitas-yang-mengancam-nyawa-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Apa Itu Klitih? Panduan Memahami Aktivitas yang Mengancam Nyawa Ini<\/a><\/strong><\/p>\n<h6><strong><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/strong><\/h6>\n<h6><strong><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\">di sini<\/a>.<\/em><\/strong><\/h6>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Juri kok nggak ada kuasanya gimana tuh.<\/p>\n","protected":false},"author":1294,"featured_media":177950,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[364,1698,15720],"class_list":["post-177550","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-juri","tag-komentator","tag-voting"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/177550","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1294"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=177550"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/177550\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/177950"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=177550"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=177550"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=177550"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}