{"id":176912,"date":"2022-05-18T14:30:48","date_gmt":"2022-05-18T07:30:48","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=176912"},"modified":"2022-05-18T13:34:37","modified_gmt":"2022-05-18T06:34:37","slug":"yang-nyinyirin-kriteria-pasangan-itu-punya-masalah-apa-sih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/yang-nyinyirin-kriteria-pasangan-itu-punya-masalah-apa-sih\/","title":{"rendered":"Yang Nyinyirin Kriteria Pasangan Itu Punya Masalah Apa, sih?"},"content":{"rendered":"<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Kriteria pasangan kok dinyinyirin, ada masalah apa siiih?<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Netizen Indonesia, kalau sudah menemukan bahan tubir, bagai hiu mencium darah, alias jadi beringas dalam sekejap. Masalahnya, apa-apa bisa jadi bahan tubir. Jadi, media sosial bisa diibaratkan kolam yang berisi penuh hiu alias n666ri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya serius perkara apa-apa bisa jadi bahan tubir. Masalah personal pun bisa jadi bahan tubir, kriteria pasangan contohnya. Kriteria pasangan lho, digawe ribut. Contoh terbaru, si mas-mas itu yang cari pasangan lewat media sosial, dan menyebarkan kriteria pasangannya di medsos.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalahnya, jika netizen sudah menyerbu, permasalahannya kerap melebar. Yang awalnya perkara kriteria pasangan, bisa jadi melebar ke arah tinggi badan, gaji, aib, preferensi makanan, kepala desa yang dipilih, dan klub bola mana yang ia dukung. Nah, itu kan yang nggak lucu.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_175941\" aria-describedby=\"caption-attachment-175941\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-175941\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Ilustrasi-gibah-Pixabay.com_.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Ilustrasi-gibah-Pixabay.com_.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Ilustrasi-gibah-Pixabay.com_-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Ilustrasi-gibah-Pixabay.com_-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Ilustrasi-gibah-Pixabay.com_-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-175941\" class=\"wp-caption-text\">Ilustrasi gibah (Pixabay.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, nggak ada yang salah lho. Memanfaatkan media sosial untuk mencari pasangan sesungguhnya sudah dilakukan oleh masyarakat sejak lama. Beberapa dekade yang lalu, ketika penggunaan internet belum semarak sekarang, orang-orang banyak yang memasukkan data diri serta kriteria pasangan mereka di media cetak seperti surat kabar. Bahkan, media televisi pun beberapa kali pernah menayangkan ajang pencarian jodoh yang dikemas seperti reality show, terlepas apakah tontonan tersebut settingan atau murni tanpa rekayasa. Intinya, cari jodoh itu bisa pake cara apa pun, bahkan lewat media sekalipun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya, kejujuran untuk memberikan info mengenai poin yang diharapkan dari calon pasangan tersebut sering disalahartikan, bahkan dibelokkan menjadi sesuatu yang pantas untuk dicibir. Suatu kali, seorang selebtwit menuliskan bahwa ia menginginkan pasangannya kelak berpenghasilan minimal di angka dua digit. Sontak saja, netizen langsung memberondong twit tersebut dengan berbagai komentar. Ada yang setuju, tak sedikit pula yang mencemooh. Sisi yang kontra berpendapat bahwa nominal tersebut tidak masuk akal. Lebih jauh lagi, ada yang mengatakan kalau si selebtwit yang kebetulan perempuan tersebut, matre.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_169068\" aria-describedby=\"caption-attachment-169068\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-169068\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Uang.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Uang.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Uang-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Uang-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Uang-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-169068\" class=\"wp-caption-text\">Uang (Pixabay.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oke, kita kesampingkan dulu apa motivasi dari blak-blakkannya seseorang menyampaikan minimal penghasilan calon pasangan hidupnya. Tapi jelas, hal ini tidak melanggar hukum dan sah-sah saja dilakukan. Toh, kriteria penghasilan itu pada dasarnya seperti kriteria lain, misalnya rambut hitam, wajah oval, kalau bisa asli daerah X. Sama saja kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagian aneh. Kenapa kriteria penghasilan jadi masalah, tapi yang lain nggak? Kenyataannya, penghasilan memang jadi hal esensial dalam hidup. Kok dimasalahin?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mencibir kriteria pasangan, jujur saya, adalah hal yang paling aneh. Sebab, hal ini adalah hal paling esensial. Kalau sampai salah, yang menderita kita. Pacar aja bisa bikin hidup hancur, apalagi suami\/istri. Ini perkara hidup-mati, Bos.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah tau sepenting itu, kenapa nyinyir? Kenapa standarmu dipaksakan untuk orang lain?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, andai dia keukeuh dengan kriterianya, itu nggak berpengaruh sama hidupmu. Kamu tetap bisa ngopi seperti biasa. Gajimu juga tidak berkurang, dunia tetap gini-gini aja. Lalu, kenapa nyinyir?<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_176671\" aria-describedby=\"caption-attachment-176671\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-176671\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Dijodohin-oleh-semesta-Pixabay.com_.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Dijodohin-oleh-semesta-Pixabay.com_.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Dijodohin-oleh-semesta-Pixabay.com_-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Dijodohin-oleh-semesta-Pixabay.com_-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Dijodohin-oleh-semesta-Pixabay.com_-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-176671\" class=\"wp-caption-text\">Dijodohin oleh semesta (Pixabay.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesimpulannya, mengunggah persyaratan calon pasangan di publik itu tak perlu dinyinyirin kecuali memang kalau situ nganggur. Anggap saja, hal tersebut seperti sedang melakukan segmentasi pasar. Elo jual, gue cocok, beli. Sesederhana itu. Kalaupun memang kita tidak masuk segmentasi tersebut, ya, mundur saja daripada ngoyo berujung ngedumel. Toh, nasihat orang tua mengenai bibit, bebet, dan bobot itu memuat niatan baik. Andai situ nggak cocok, ya udah. Nggak ngaruh ke hidup situ juga kan?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Paula Gianita Primasari<\/p>\n<p>Editor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><b>BACA JUGA<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-rekomendasi-podcast-untuk-kesehatan-mental\/\">\u00a0<b>5 Rekomendasi Podcast untuk Kesehatan Mental<\/b><\/a><\/p>\n<h5><b><i>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<\/i><\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\"><b><i>ini<\/i><\/b><\/a><b><i>\u00a0ya.<\/i><\/b><\/h5>\n<h5><b><i>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<\/i><\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\"><b><i>di sini<\/i><\/b><\/a><b><i>.<\/i><\/b><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apa-apa dinyinyirin. ANGEL.<\/p>\n","protected":false},"author":1777,"featured_media":177648,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12912],"tags":[672,905],"class_list":["post-176912","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-sapa-mantan","tag-kriteria-pasangan","tag-netizen"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/176912","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=176912"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/176912\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/177648"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=176912"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=176912"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=176912"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}