{"id":176490,"date":"2022-05-12T13:00:18","date_gmt":"2022-05-12T06:00:18","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=176490"},"modified":"2022-05-12T11:52:00","modified_gmt":"2022-05-12T04:52:00","slug":"menguak-rahasia-canon-in-d-yang-laris-dipakai-dalam-iklan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menguak-rahasia-canon-in-d-yang-laris-dipakai-dalam-iklan\/","title":{"rendered":"Menguak Rahasia Canon in D yang Laris Dipakai dalam Iklan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagian orang mungkin tak akan langsung paham ketika mendengar nama musikus Johann Christoph Pachelbel. Namun, saya yakin, mayoritas orang pernah mendengar \u201cCanon in D\u201d, entah dalam versi rock atau klasik. Tak bisa dimungkiri, lagu ini memang begitu ikonik. Indah, bikin rileks, dan mudah diingat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bisa dimaklumi kalau orang nggak paham siapa itu Johann Pachelbel tapi tahu banget sama \u201cCanon\u201d. Lantaran Johann Pachelbel hidup di masa Baroque. \u201cCanon\u201d yang kita dengarkan sekarang, sudah melewati banyak versi dan waktu. Tapi, kita pasti sepakat satu hal: semuanya bagus dan indah.<\/span><\/p>\n<p><iframe title=\"YouTube video player\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/JvNQLJ1_HQ0\" width=\"560\" height=\"315\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mojok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> pernah sekilas membahas tentang bagaimana para pemain di industri musik berskala internasional mendayagunakan kekuatan mistis melodi \u201cCanon\u201d dalam karya mereka. Tujuannya jelas, yaitu untuk memuluskan jalan agar lagu yang dinyanyikan lebih mudah diterima oleh para penikmat musik di seluruh dunia.\u00a0 Nyatanya, daya tarik \u201cCanon in D\u201d ini bukan hanya sukses memikat musisi saja. Banyak advertensi dan film pun menggunakan musik klasik yang mulanya diciptakan untuk mengiringi prosesi pernikahan ini sebagai soundtrack-nya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai contoh, baru-baru ini, muncul pariwara penyedap rasa masakan yang cukup populer di tanah air, Sasa, yang memanfaatkan melodi \u201cCanon\u201d sebagai jingle promosi mereka. Iklan yang dibintangi oleh salah seorang anggota grup vokal K-Pop Super Junior, Siwon Choi, terkesan lebih mewah akibat pemakaian lagu tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal serupa juga terjadi di negara tetangga kita, Thailand, yang menjadikan \u201cCanon in D\u201d sebagai musik latar iklan sebuah merek pencuci rambut, Pantene. Iklan tersebut mengusung cerita seorang tuli yang bercita-cita tampil membawakan \u201cCanon\u201d Pachelbel dalam sebuah kompetisi musik. Selain plotnya yang sudah melankolis, alunan \u201cCanon\u201d semakin memberikan sentuhan dramatis yang menyentuh hati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbagai contoh di atas adalah sekelumit bahasan mengenai kehebatan \u201cCanon\u201d dalam menyokong suatu brand guna menciptakan awareness di tengah hiruk pikuk pasar. Bila pemilihan musiknya sudah dikenali banyak orang, para pemasar tentu berharap besar agar merek dagang yang dijual tersebut ikut terangkat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keberhasilan \u201cCanon\u201d dalam mendukung suatu karya juga terbukti dalam industri perfilman. Salah satu film kondang yang menyisipkan \u201cCanon\u201d sebagai musik latarnya adalah film keluaran Negeri Ginseng yang berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">My Sassy Girl<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2001) serta diperankan oleh Cha Tae Hyun dan Jun Ji Hyun sebagai aktor utamanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kira-kira, mengapa \u201cCanon in D\u201d ini seperti punya sihir sampai laris manis digunakan di berbagai bidang?<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Kesederhanaan nada<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu keunggulan utama dari \u201cCanon in D\u201d buatan musikus Johann Pachelbel ini adalah kesederhanaannya. Melansir dari ejurnal.its.ac.id, \u201cCanon\u201d Pachelbel merupakan salah satu partitur \u201cCanon\u201d yang sederhana. Arti \u201cCanon\u201d sendiri merujuk pada teknik memainkan musik dengan melakukan pengulangan pada sekelompok nada secara terus-menerus berdasarkan interval-interval tertentu. \u201cCanon\u201d Pachelbel sebetulnya hanya terdiri atas delapan bar tangga lagu yang lalu diulang sebanyak 28 kali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesahajaan masterpiece ini membuka peluang bagi para pemusik untuk berinovasi dalam \u201cCanon in D\u201d. Tidak mengherankan, jika banyak pelakon musik yang terpengaruh oleh alunan \u201cCanon\u201d dalam kreasi mereka. Salah satu kreasi anak bangsa yang terinspirasi dari \u201cCanon\u201d Pachelbel dapat dinikmati di kanal YouTube Riyandi Kusuma. Dalam channel tersebut, Riyandi memainkan alunan nada \u201cCanon\u201d yang dikawinkan dengan lagu daerah seperti &#8220;Bubuy Bulan&#8221; yang berasal dari Sunda, Jawa Barat. Lagu ini kemudian diberi judul \u201c\u201cCanon from Nusantara\u201d.<\/span><\/p>\n<p><iframe title=\"YouTube video player\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/KPXnX_rhvVM\" width=\"560\" height=\"315\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<h4><b>#2 Bersifat universal dan bisa dimainkan dalam segala suasana<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain karakternya yang sederhana, \u201cCanon\u201d Pachelbel juga bersifat universal. Artinya, nada-nada dalam lagu \u201cCanon\u201d tersebut pantas dimainkan dalam segala suasana. Awalnya, mungkin banyak orang yang mengira lagu ini hanya cocok dimainkan dalam acara pernikahan seperti awal mula musik ini lahir. Akan tetapi, lambat laun justru \u201cCanon\u201d ini membuktikan bahwa ia tidak terpaku pada satu kesempatan khusus saja untuk dimainkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain pernikahan, \u201cCanon in D\u201d ternyata juga sesuai untuk menggambarkan luka batin akibat perpisahan. Salah satunya dalam film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">You and Me<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, film Jepang tentang persahabatan manusia dan kucingnya. Kalian bisa rasakan bahwa lagu tersebut berhasil membangun suasana sedih secara bertahap. Pelan, mulai naik, lalu dihantam dengan \u201cCanon\u201d, lalu kalian mulai nangis.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Selalu ada yang baru<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih ada kaitannya dengan paragraf pertama. Tiap waktu, selalu ada musikus yang bikin \u201cCanon in D\u201d gaya baru. Di seluruh penjuru dunia, selalu ada karya baru berdasar \u201cCanon in D\u201d, yang dikulik dengan berbagai gaya. Bahkan, musisi yang sama pun bisa mainin dan bikin \u201cCanon in D\u201d dalam berbagai versi. Kalian pasti sudah nggak asing sama Sungha Jung, kan? Beliau sudah mainin banyak versi \u201cCanon\u201d, entah dalam bentuk cover, ngeluarin ulikan sendiri, serta duet dengan Trace Bundy.<\/span><\/p>\n<p><iframe title=\"YouTube video player\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/VO3ZF92I-_I\" width=\"560\" height=\"315\" frameborder=\"0\" allowfullscreen=\"allowfullscreen\"><\/iframe><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pembaruan ini, bikin \u201cCanon in D\u201d makin dikenal, meski tidak dalam bentuk asli. Eksposur yang tinggi terhadap suatu karya akan bikin pendengar familiar. Ketika dipakai untuk iklan atau untuk kepentingan pemasaran, akan bikin orang tertarik. Setidaknya, engagement akan naik. Sebab, orang dalam alam bawah sadarnya begitu familiar dengan \u201cCanon in D\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesederhanaan, tepat dalam berbagai suasana, dan inovasi tanpa henti itulah yang bikin \u201cCanon in D\u201d digunakan untuk berbagai bidang, terutama iklan. Jadi, jangan bilang iklan yang pakai lagu tersebut nggak kreatif ya, justru ini adalah taktik jitu. Pun, kalian nggak akan bosen sama lagu ini.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Paula Gianita Primasari<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mengenang-band-indonesia-one-hit-wonder-di-era-2000-an\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mengenang Band Indonesia One Hit Wonder di Era 2000-an<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>D, terus ke A, terus ke Bm, F#m, terus G, ke D, ke G, lalu ke A lagi.<\/p>\n","protected":false},"author":1777,"featured_media":176531,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13084],"tags":[15660,880,15661],"class_list":["post-176490","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-musik","tag-canon-in-d","tag-iklan","tag-sungha-jung"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/176490","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=176490"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/176490\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/176531"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=176490"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=176490"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=176490"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}