{"id":17645,"date":"2019-10-17T12:15:27","date_gmt":"2019-10-17T05:15:27","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=17645"},"modified":"2019-10-17T16:05:54","modified_gmt":"2019-10-17T09:05:54","slug":"ibu-dijual-seharga-10-ribu-karena-penyakitan-maunya-apa-sih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ibu-dijual-seharga-10-ribu-karena-penyakitan-maunya-apa-sih\/","title":{"rendered":"Ibu Dijual Seharga 10 Ribu Karena Penyakitan: Maunya Apa Sih?"},"content":{"rendered":"<p>Tadi malam sebelum linimasa Twitter ramai oleh <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/viral-kucing-ras-dicekoki-miras-ciu-kebelet-terkenal-apa-gimana-ya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">kasus kucing dicekoki ciu<\/a>, saya sempat terkejut saat membaca sebuah cuitan yang menyertakan unggahan dijual seorang ibu yang dilakukan oleh seorang remaja perempuan. Unggahan tersebut atas nama <a href=\"https:\/\/www.dream.co.id\/unik\/astagfirullah-anak-jual-ibunya-seharga-rp10-ribu-di-medsos-1910164.html\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Friska Meila Anastasya.<\/a><\/p>\n<p>Kurang lebih begini isinya:<br \/>\n<em>Dijual, ibu penyakitan.<\/em><br \/>\n<em>Harga 10.000 saja. <\/em><br \/>\n<em>Yang minat silakan datang ke Blitar, urusin orang tua ga guna ini.<\/em><br \/>\n<em>Dijual karena nyusahin.<\/em><\/p>\n<p>Hati saya hancur membacanya. Di <em>slide<\/em> berikutnya, akun Friska itu juga menceritakan banyak hal tentang &#8216;dalaman&#8217; keluarganya. Dia juga menyertakan foto ibunya yang sedang tertidur diiringi kalimat tak pantas lainnya dengan menyamakan orangtuanya layaknya hewan.<\/p>\n<p>Yang bisa saya simpulkan dari unggahan akun Friska adalah bahwa dia tidak terima dilahirkan dalam kondisi keluarga yang (mungkin) tidak kaya raya. Hal ini terlihat dari kalimatnya yang bilang bahwa dia iri dengan temannya atau remaja seusia dia yang orang tuanya kaya.<\/p>\n<p>Akun Friska ini juga tidak terima ibunya hanya bisa berbaring sepanjang hari, tanpa melakukan apa pun. Ibunya beralasan sakit. Friska tidak suka, kalau memang sakit kenapa tidak mati saja, katanya. Friska juga secara tersirat seperti ingin mengusir ibunya dari rumah tapi takut para tetangganya akan ikut campur.<\/p>\n<p>Dari sini, cukup jelas mungkin memang benar ibunya menderita suatu penyakit. Entah apa, tapi kalau melihat kondisi dari foto dan cerita Friska sepertinya ibunya memang tidak atau belum pernah berobat dan memeriksakan diri ke Dokter.<\/p>\n<p>Pertanyaannya adalah: <em>apa maksud Friska? apakah dia benar-benar sudah tidak ingin melihat ibunya? atau hanya ingin panjat sosial?<\/em> Kalau benar alasannya adalah yang terakhir saya sebutkan, maka ini sangatlah tidak pantas. Bagaimana pun, ibu adalah ibu. Gerbang surga kita ada di kakinya.<\/p>\n<p>Setelah akhirnya jadi viral, tak lama Friska kembali mengunggah sebuah pernyataan yang ya sebut saja klarifikasi. Saya kira kali ini Friska akan melunak karena biasanya di usia seperti dia ini, bila sudah terkena hujatan sana-sini maka akan jadi sedikit kendur.<\/p>\n<p>Tapi ternyata saya salah. <em>Totally<\/em> <em>wrong!<\/em> Friska justru seolah mencari pembenaran atas semua yang sudah dia lakukan, atas semua yang sudah dia unggah di akun media sosialnya. Sama sekali tidak tersirat rasa penyesalan dalam kata-katanya. Tidak menunjukkan rasa prihatin sedikitpun pada kondisi ibunya.<\/p>\n<p>Saya menjadi iba. Saya lalu mencoba membalik sudut pandang saya, memposisikan diri apabila saya ada di posisi Friska. Di usia remaja yang masih ingin main, ingin bebas, ingin disayangi dan diperhatikan oleh ibunya.<\/p>\n<p>Mungkin saya akan sedih, karena ibu saya sakit dan tidak bisa berobat. Mungkin saya juga akan sempat merasa iri melihat teman lain yang lebih berduit dan memiliki ibu yang sehat wal afiat. Biasanya memang begitu pemikiran remaja seusia dia kan?<br \/>\nTapi seburuk apa pun kelakuan saya, tetap saja tidak akan pernah terlintas di otak saya untuk mengucapkan dan melakukan seperti apa yang sudah Friska buat. Tidak sama sekali.<\/p>\n<p>Saya <em>personally<\/em> tidak bisa terima dengan perbuatan Friska. Ini buruk, sangat buruk. Tapi saya tidak akan ikut-ikutan menghujat dia dengan segala macam caci maki. Saya coba tahan sebisa mungkin. Karena apa? Hujatan yang sudah Friska terima sudah sangat banyak dan bahkan sangat parah. Ini bisa saja berdampak kurang baik bagi mental remajanya.<\/p>\n<p>Kabar terakhir juga menyebutkan bahwa pihak kepolisian Blitar sudah mulai bergerak mencari Friska. Semoga polisi bisa segera menemukan Friska, mungkin harusnya Friska ditemani dan dibimbing oleh seorang psikolog agar mentalnya bisa segera dibenahi. Selain itu saya juga berharap semoga ibu Friska bisa segera diobati apa pun penyakitnya.<\/p>\n<p>Semoga kasus ini bisa segera diselesaikan. Bagaimana pun tugas kita sebagai seorang anak untuk menjaga dan merawat orang tua kita.\u00a0(*)<\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0<\/b><a class=\"bump-view\" href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/benarkah-jogja-berhati-mantan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\" data-bump-view=\"tp\">Benarkah Jogja Berhati Mantan?<\/a>\u00a0atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/dini-n-rizeki\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Dini N. Rizeki<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<div id=\"gtx-trans\" style=\"position: absolute; left: 826px; top: 79px;\">\n<div class=\"gtx-trans-icon\"><\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kurang lebih isinya: Dijual, ibu penyakitan.Harga 10.000 saja.Yang minat silakan datang ke Blitar, urusin orang tua ga guna ini.Dijual karena nyusahin.<\/p>\n","protected":false},"author":376,"featured_media":17663,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1482,4061,4060,200],"class_list":["post-17645","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-anak-durhaka","tag-ibu-dijual","tag-kucing-dicekoki-ciu","tag-orang-tua"],"modified_by":"Zahroh Ayu","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17645","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/376"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17645"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17645\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17663"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17645"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17645"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17645"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}