{"id":176229,"date":"2022-05-10T10:30:36","date_gmt":"2022-05-10T03:30:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=176229"},"modified":"2022-05-10T06:45:20","modified_gmt":"2022-05-09T23:45:20","slug":"15-hal-klise-yang-sering-muncul-di-drama-korea","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/15-hal-klise-yang-sering-muncul-di-drama-korea\/","title":{"rendered":"15 Hal Klise yang Sering Muncul di Drama Korea"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Drama Korea, bahkan yang memiliki plot canggih sekalipun, hampir selalu memuat satu-dua hal klise di dalamnya. Seolah tanpa keklisean itu, suatu drakor tidak akan menjadi &#8220;drakor sejati&#8221;. Dan tidak bisa membuat kita bergumam, &#8220;Nah, ini drakor banget!&#8221; Namun, akhir-akhir ini memang banyak drama Korea yang mulai <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">move on<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> dari hal-hal klise yang sering digunakan drakor era 2000-an. Meski begitu, masih banyak drama Korea yang memuatnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, berikut adalah 15 hal klise yang sering muncul di drama Korea.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_176235\" aria-describedby=\"caption-attachment-176235\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-176235\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/shutterstock_1796331772.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/shutterstock_1796331772.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/shutterstock_1796331772-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/shutterstock_1796331772-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/shutterstock_1796331772-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-176235\" class=\"wp-caption-text\">Nonton drakor (Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<h4><strong>#1 Cinta segitiga yang gitu-gitu aja<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Trope <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ini bisa dibilang yang paling sering ada di sebuah drama Korea romance. Buat saya, <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">trope<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> ini sudah terlalu usang. Trope ini mungkin selalu berhasil di drakor 2000-an awal, tetapi buat sekarang kayaknya malah membosankan. Selain itu, trope ini juga memunculkan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">second lead syndrome<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> yang justru membuat plot utama tidak terlalu dipedulikan oleh penonton. Namun, tidak berarti cinta segitiga dalam drakor romance harus dihilangkan. Selama eksekusinya baik, formula ini bisa didaurulang berjuta-juta kali. Yang terpenting adalah bagaimana penulis kreatif dalam menjahit naskahnya. Ada beberapa drakor romance yang menggunakan formula ini dan berhasil, contohnya <em>She Was Pretty.\u00a0<\/em><\/span><\/p>\n<h4><strong>#2 Back hug<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Back hug <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">alias memeluk dari belakang adalah adegan yang terus-terusan digunakan dalam drama Korea. Sembilan dari sepuluh drakor yang saya tonton pasti memuat setidaknya satu adegan <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">back hug. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Adegan ini biasanya digunakan untuk memperlihatkan karakter yang rapuh dan tidak ingin ditinggalkan. Namun, dalam beberapa kasus, adegan ini juga bisa digunakan untuk <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">romantic purpose<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> yang entah kenapa sering bikin saya merasa geli sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>#3 Pasangan miskin-kaya<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wah, kalau yang satu ini banyak banget. <em>The Heirs, Cinderella and Four Knights, Boys Before Flowers, What&#8217;s Wrong With Secretary Kim,<\/em> dan banyak lainnya. Saya tidak masalah jika narasi yang ingin disampaikan bukan &#8220;si kaya membantu si miskin&#8221; atau &#8220;drama restu orang-tua&#8221; yang seringnya bikin saya bergidik.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>#4 Benci jadi cinta dan teman jadi pacar<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Benci jadi cinta dan teman jadi pacar juga trope yang sering digunakan dalam drakor romance. Namun, entah kenapa formula ini hampir selalu digunakan dalam teen romance. Padahal, mengusung percintaan yang lebih dewasa menggunakan format ini akan sangat menarik. Misalnya drama <em>Wok of Love<\/em> yang menggabungkan &#8220;benci jadi cinta&#8221; dengan &#8220;cinta segitiga&#8221;. Drama ini menceritakan seorang ketua gangster yang insyaf dan membuka restoran <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">jajangmyeon<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, seorang koki yang baru saja dipecat dan diselingkuhi, dan seorang anak pejabat yang batal nikah. Semua karakter itu disatukan di dalam cerita bertema makanan. Kreatif!\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>#5 Twist teman masa kecil<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya twist ini bekerja di dalam drama yang menggunakan formula &#8220;benci jadi cinta&#8221;. Misalnya <em>Weightlifting Fairy Kim Bok Joo<\/em>. Joon Hyung dan Bok Joo bertemu saat kuliah, suka berantem, eh ternyata mereka temenan pas kecil. Atau di drama<em> What&#8217;s Wrong With Secretary Kim<\/em> di mana Sekretaris Kim ternyata pernah terkurung di rumah kosong bersama bosnya sewaktu mereka kecil.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya merasa twist ini sudah terlalu sering digunakan. Beberapa drama bahkan tidak menanam twist ini dengan baik alias <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">ujug-ujug. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Sebetulnya, hal seklise apa pun bisa disulap jadi tidak membosankan kalau eksekusinya benar.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>#6 Gendong ayang<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adegan menggendong ayang ini juga banyak terjadi. Tentunya untuk <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">romantic purpose. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak akan menggugat ini karena saya pun suka senyum-senyum sendiri ketika menonton adegan ini. Terutama kalau cewek yang menggendong cowoknya seperti di drama <em>Our Beloved Summer<\/em>.\u00a0<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_176233\" aria-describedby=\"caption-attachment-176233\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-176233\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/shutterstock_1353511496.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/shutterstock_1353511496.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/shutterstock_1353511496-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/shutterstock_1353511496-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/shutterstock_1353511496-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-176233\" class=\"wp-caption-text\">Menggendong orang kesayangan (Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<h4><strong>#7 Tinggal satu atap<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua atau lebih karakter tinggal satu atap adalah hal yang sangat lazim di drama Korea. Lihat saja <em>Full House, Monthly House, It&#8217;s Okay Not To Be Okay, Welcome to Waikiki,<\/em> dan sebagainya. Latar belakangnya berbeda-beda. Ada yang terpaksa karena keadaan finansial, ada yang ingin saling menyembuhkan, latar ceritanya di asrama atau mes, dan lain-lain. Tujuan formula ini tidak melulu untuk meromantisasi hubungan asmara protagonis, melainkan juga bisa untuk mendramatisasi persahabatan. Saya tidak akan protes untuk yang satu ini karena sejauh ini oke-oke saja.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>#8 Karakter tsundere<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, ini dia. Karakter <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">tsundere <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">atau karakter yang suka jual mahal ini sering muncul di drakor. Beberapa <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">tsundere<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> menggemaskan dan lucu, misalnya Kang Dong Gu (<em>Welcome to Waikiki<\/em>), tapi beberapa lainnya bisa sangat menyebalkan seperti Baek Kyung (<em>Extraordinary You<\/em>). Namun, kalau ngomongin karakter <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">tsundere<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, saya suka kalau itu diperankan oleh perempuan. Entah kenapa karakter <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">tsundere<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> perempuan lebih sering ditulis dengan baik ketimbang karakter <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">tsundere<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> laki-laki. Karakter <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">tsundere<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> yang laki-laki sering terjerumus jadi sok cool!<\/span><\/p>\n<h4><strong>#9 Hubungan kontrak<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cinta dan ketertarikan selalu menjadi dasar untuk setiap hubungan romantis, tetapi apa yang terjadi ketika dua orang membentuk hubungan murni berdasarkan keuntungan bukan cinta dan ketertarikan? Berapa lama hubungan mereka akan bertahan? Akankah hubungan itu menjadi romantis pada akhirnya? Hubungan kontrak adalah salah satu hal klise yang sering muncul di drama Korea. Ada banyak sekali yang menggunakan formula ini, mulai dari yang makjang sampai romcom. Ada yang berhasil, ada yang tidak. Beberapa drama yang menggunakan hubungan kontrak sebagai <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">plot device<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> di antaranya<em> Full House, Big, Because This is My First Life<\/em>, dan lain sebagainya.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>#10 Menarik paksa tangan karakter utama perempuan\u00a0<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wah, ini adalah hal klise yang sering muncul di drakor dan saya sangat membencinya. Setiap kali ada adegan memaksa seperti ini, apalagi kalau diromantisasi, saya akan berhenti menonton drama tersebut saat itu juga. Namun, ada beberapa keadaan yang mengharuskan adegan ini ada. Selama motivasinya jelas dan bukan untuk menyakiti, saya tidak masalah. Tapi, sebaiknya adegan ini mulai dihindari karena nggak enak dilihat. Asli.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>#11 Nggak sengaja cium bibir<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau FTV Indonesia sering memunculkan adegan tabrakan, drakor punya cara sendiri, yaitu nggak sengaja <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Ciuman\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">cium bibir<\/a> terus kaget. Biasanya adegan ini digunakan untuk menjadi jembatan hubungan kedua karakter utama. Biasanya, setelah insiden tersebut, kedua karakter akan merasa canggung satu sama lain, lalu akhirnya mengungkapkan perasaan mereka masing-masing.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>#12 Cowok ngiketin rambut ceweknya<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada <em>The Descendants of The Sun, Crash Landing On You, W: Two Worlds,<\/em> dan banyak drama lainnya yang memuat adegan karakter utama laki-laki mengikatkan rambut karakter utama perempuan dan menjadi ikonik. Namun, meski klise dan tak jarang bikin penonton jingkrak-jingkrak saking <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">cringy<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">-nya, adegan ini justru ditunggu-tunggu penonton. Mungkin karena permintaan dari banyak audiens fakir asmara, jadi banyak drakor yang memuat adegan ini. Anehnya, nggak ada yang <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">eneg.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>#13 Apa pun masalahnya, soju solusinya<\/strong><\/h4>\n<figure id=\"attachment_176232\" aria-describedby=\"caption-attachment-176232\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-176232\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/shutterstock_1235488990-1.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/shutterstock_1235488990-1.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/shutterstock_1235488990-1-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/shutterstock_1235488990-1-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/shutterstock_1235488990-1-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-176232\" class=\"wp-caption-text\">Minum soju (Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adegan minum soju hampir selalu hadir di setiap drakor. Masyarakat Korea Selatan memang punya budaya minum-minum yang lumayan heboh. Dapat penghargaan? Minum. Diputusin pacar? Minum. Nggak punya duit? Minum, tapi beli yang murah. Sejujurnya, tidak ada salahnya adegan minum-minum ini hadir di setiap drakor. Namun, saya rasa penempatan adegannya juga harus pas dan tidak kebanyakan. Kecuali kalau dramanya memang menceritakan cerita &#8220;minum-minum&#8221; macam <em>Work Later, Drink Now.\u00a0<\/em><\/span><\/p>\n<h4><strong>#14 Adegan cowok menyudutkan cewek sebelum ciuman atau adegan ranjang<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adegan ini biasanya digunakan untuk menunjukkan sensualitas drama tersebut. Drakor tidak pernah menampilkan adegan sensual secara vulgar. Oleh karena itu, mereka butuh adegan yang bisa mengantarkan makna sensual terhadap penonton. Nah, adegan mojok ini yang sering banget digunakan. Ayo, para penulis, coba cara lain.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>#15 Ice Americano favorit semua<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau diperhatikan, karakter-karakter di drakor jarang banget pesan kopi selain Ice Americano atau sering disingkat &#8220;AA&#8221; (Ais Amerikano, gitu kali ya, maksudnya). Padahal bisa, lho, pesan capucino atau macha latte. Kayak nggak ada pilihan lain aja.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, itu dia 15 hal klise yang sering muncul di drakor. Lima belas hal ini adalah yang saya temukan dalam pengalaman menonton drakor selama 10 tahun lebih. Menurutmu, apa hal klise lainnya selain yang ada di dalam daftar ini?\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Penulis: <span data-sheets-value=\"{&quot;1&quot;:2,&quot;2&quot;:&quot;Rizal Nurhadiansyah&quot;}\" data-sheets-userformat=\"{&quot;2&quot;:769,&quot;3&quot;:{&quot;1&quot;:0},&quot;11&quot;:3,&quot;12&quot;:0}\">Rizal Nurhadiansyah<\/span><br \/>\nEditor: Audian Laili<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-drama-korea-yang-bikin-berhenti-nonton-bahkan-saat-episode-awal\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">5 Drama Korea yang Bikin Berhenti Nonton bahkan Saat Episode Awal<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8230;tapi ada juga adegan klise yang tetap ditunggu.<\/p>\n","protected":false},"author":1693,"featured_media":176234,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13118],"tags":[1293,15635],"class_list":["post-176229","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-serial","tag-drama-korea","tag-klise"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/176229","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1693"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=176229"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/176229\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/176234"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=176229"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=176229"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=176229"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}