{"id":175980,"date":"2022-05-07T13:00:37","date_gmt":"2022-05-07T06:00:37","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=175980"},"modified":"2022-05-07T12:52:42","modified_gmt":"2022-05-07T05:52:42","slug":"mendukung-doxing-merayakan-kebodohan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mendukung-doxing-merayakan-kebodohan\/","title":{"rendered":"Mendukung Doxing, Merayakan Kebodohan"},"content":{"rendered":"<p><em>Selama doxing masih kita pupuk, kita hanya akan berada di titik yang sama. H<span style=\"font-weight: 400;\">anya canggih dalam diksi, tapi otak tetap sebesar biji kenari.<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya selalu ingat salah satu quote di film <em>Kingdom of Heaven<\/em>: \u201cKetika kamu berdiri di hadapan Tuhan, kamu tidak bisa berkata, \u2018tapi aku disuruh orang lain untuk melakukan ini.\u2019\u201d Maknanya, di hadapan Tuhan, seseorang menanggung sendiri dosa yang dilakukan. Tapi di hadapan warganet, seorang balita bisa menanggung \u201cdosa\u201d atas apa yang diperbuat ayahnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya merujuk pada salah satu doxing di jagat Twitter. Seorang warganet yang dipandang sebagai buzzer mengolok Presiden Jokowi sebagai ODGJ. Warganet yang tersinggung segera membongkar aib sekaligus identitas \u201cbuzzer\u201d tadi. Dari preferensi seksual, foto diri, foto istri, dan foto anaknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan saat membagikan foto anak ini, si pengunggah menyebut sang anak harus ikhlas. Alasannya karena apa yang dilakukan sang ayah pantas membuat si anak malu.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_175982\" aria-describedby=\"caption-attachment-175982\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-175982\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Keyboard-warrior-Shutterstock.com_.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Keyboard-warrior-Shutterstock.com_.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Keyboard-warrior-Shutterstock.com_-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Keyboard-warrior-Shutterstock.com_-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Keyboard-warrior-Shutterstock.com_-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-175982\" class=\"wp-caption-text\">Keyboard warrior (Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oke, saya akan menarik diri dari urusan siapa-bela-siapa. Saya tidak tertarik dengan politik negara ini, dan malas mendukung salah satu tokoh. Mending dukung Real Madrid. Toh lebih baik negara ini diurus oleh cah-cah kampung daripada oleh partai. Tapi saya tidak habis pikir tentang doxing yang melibatkan anak dari si \u201cbuzzer\u201d tadi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Doxing ini tidak berhenti di ranah politik. Perkara setiap ujaran yang dipandang salah bisa berakhir dengan doxing. Salah satu akun Twitter bahkan memposisikan diri sebagai \u201cpejuang\u201d dengan rutin melakukan doxing. Setiap ada ujaran nyeleneh, akun tersebut akan membagikan foto paling memalukan dari si pengunggah. Tentu untuk mempermalukan dan bukan untuk endorsement.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akun-akun seperti ini bukannya dihujat, namun didukung. Tentu oleh mereka yang satu pandangan politik maupun moral. Apa yang dilakukan oleh akun tersebut dianggap sebagai kewajaran dan hukuman sosial yang pantas. Bahkan akun yang paling getol membela \u201cstop body shaming\u201d dan \u201ceverybody is unique\u201d mendukung akun-akun sejenis tadi. Seakan-akan, tiap ada orang kena doxing, justru dirayakan oleh netizen dengan gegap gempita.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_175984\" aria-describedby=\"caption-attachment-175984\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-175984\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Kontradiksi-Pixabay.com_.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Kontradiksi-Pixabay.com_.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Kontradiksi-Pixabay.com_-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Kontradiksi-Pixabay.com_-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Kontradiksi-Pixabay.com_-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-175984\" class=\"wp-caption-text\">Kontradiksi (Pixabay.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menyadari mengapa doxing menjadi hal normal hari ini. Hukuman sosial dipandang lebih efektif daripada penjara Guantanamo sekalipun. Masyarakat berebut menjaga perdamaian di ruang hidupnya, dan media sosial memperluas ruang hidup ini. Setiap pandangan politik dan moral tersenggol, doxing dimuliakan sebagai balasan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun apakah ini pilihan paling baik? Yo jelas tidak lah. Edan wae kalau situ berpikir ini yang terbaik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk beberapa kasus, hukuman sosial macam itu memang yang paling tepat. Misal pada kasus pelecehan seksual, menyebar identitas menjadi alat preventif agar pelaku tidak melakukan perbuatan yang sama kembali. Tapi, setiap hukuman sosial ini harus paham konteks dan batasannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada kasus balita yang ikut kena doxing, ini sudah salah sasaran. Memang benar, si ayah telah melanggar norma kelompok tertentu dengan akun anonim. Maka hukuman sosial yang bisa dipikirkan kelompok ini adalah membongkar identitas si ayah merangkap \u201cbuzzer\u201d ini. Harapannya agar menjadi efek jera bagi si ayah.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_175985\" aria-describedby=\"caption-attachment-175985\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-175985\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Bayi-polos-Pixabay.com_.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Bayi-polos-Pixabay.com_.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Bayi-polos-Pixabay.com_-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Bayi-polos-Pixabay.com_-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Bayi-polos-Pixabay.com_-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-175985\" class=\"wp-caption-text\">Bayi polos (Pixabay.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, melibatkan anak ini jelas di luar konteks. Anak balita yang jelas belum punya pandangan politik tidak bisa dijadikan pelaku atas kesalahan ayahnya. Ditambah lagi, balita adalah individu paling rentan kejahatan. Membongkar identitas anak yang mungkin masih pakai popok bukanlah cara memberikan efek jera. Namun, cara mengerikan untuk menghancurkan masa depan si anak sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengolok preferensi seksual pun sebenarnya juga tidak masuk akal. Karena apa yang diujarkan tidak relevan dengan urusan seksual seseorang. Niat membuat malu ini memang terlihat tepat, tapi tidak pada tempatnya. Justru model demikian yang menormalisasi mentalitas <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Ad_hominem\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">ad hominem<\/a>. Menyerang sebuah sudut pandang menggunakan sisi yang tidak relevan. Tidak sehat dan sama gobloknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkara fisik apalagi. Apa yang menjadi opini seseorang tidak selamanya relevan. Bahkan sering tidak relevan sama sekali. Kembali lagi, ini menjadi kultur debat ad hominem yang memuakkan!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Budaya doxing ini sangat luas dampaknya. Yang pertama jelas hancurnya privasi seseorang akibat penghakiman warganet ini. Seseorang akan lebih rentan terhadap aksi kejahatan berbasis identitas akibat doxing. Dan saya pikir, ini bukan harga yang pantas dari beda pandangan politik. Bahkan dengan model mengolok dan menyebar hoax sekalipun. Tidak perlu takut bos Facebook mencuri data kita. Toh kita biasa mengobral data dalam doxing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, doxing memang tidak menyelesaikan masalah. Karena doxing menyerang seseorang tidak pada lingkup dia melakukan \u201cdosa\u201d tadi. Namun, menarik sisi kehidupan lain sebagai alat menghakimi. Jika masalahnya adalah gesekan politik, solusinya adalah sistem politik sehat seturut sila ke-4 Pancasila. Bukan saling balas doxing.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, doxing juga rentan pemalsuan identitas. Sudah sering terjadi seseorang jadi korban karena foto dan identitas dirinya dipakai tanpa izin oleh seseorang. Akibatnya, doxing yang terlanjur dijadikan alat hukuman tidak tepat sasaran. Dan pelaku doxing hanya bisa bilang \u201cmaaf\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Doxing hanya menunjukkan betapa kedewasaan politik kita masih sejajar anak kecil. Pola ad hominem yang dianggap pantas membuktikan bahwa ego personal masih dibawa dalam ranah politik dan sosial. Selamanya kita akan menjadi bayi peradaban jika doxing masih menjadi alat penghakiman dan kekuatan politik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alias, kita hanya akan mandeg, di situ-situ aja. Hanya canggih dalam diksi, tapi otak tetap sebesar biji kenari.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Prabu Yudianto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bekerja-kok-untuk-duit-aneh\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bekerja Kok untuk Duit, Aneh<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Hanya canggih dalam diksi, tapi otak tetap sebesar biji kenari.<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":175983,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[11120,905,876],"class_list":["post-175980","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-doxing","tag-netizen","tag-perundungan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/175980","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=175980"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/175980\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/175983"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=175980"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=175980"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=175980"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}