{"id":175891,"date":"2022-05-06T11:00:04","date_gmt":"2022-05-06T04:00:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=175891"},"modified":"2022-05-09T03:06:15","modified_gmt":"2022-05-08T20:06:15","slug":"ada-yang-salah-dengan-anggapan-lulus-sma-harus-kuliah-atau-kerja","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ada-yang-salah-dengan-anggapan-lulus-sma-harus-kuliah-atau-kerja\/","title":{"rendered":"Ada yang Salah dengan Anggapan Lulus SMA Harus Kuliah atau Kerja"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apa yang umum dilakukan setelah lulus SMA hari ini? Kalau tidak kerja, ya kuliah. Lalu apa yang dilakukan sarjana fresh graduate? Pasti juga bekerja. Pertanyaannya: apakah pola ini adalah kewajiban yang harus dijalani? Ataukah tidak bisa sesederhana itu?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artikel ini lahir dari keresahan saya dan tim BUG Academy setiap mengisi pelatihan. Hampir semua peserta kami memiliki pola yang sama. Baik peserta SMA maupun sudah kuliah. Kami merasa bahwa ada missing link yang terjadi di pola. Sebuah kekosongan yang sialnya tidak pernah diisi di bangku sekolah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara pribadi, saya merasa bahwa pola ini goblok. Pola ini adalah alasan mengapa banyak orang terjebak dalam karier yang itu-itu saja. Pola ini yang membuat seseorang terjebak dalam dunia kerja seumur hidup. Dan kalau boleh jujur, saya pribadi juga terjebak oleh pola ini.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_175894\" aria-describedby=\"caption-attachment-175894\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-175894\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Kehidupan-kampus-Pixabay.com_.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Kehidupan-kampus-Pixabay.com_.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Kehidupan-kampus-Pixabay.com_-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Kehidupan-kampus-Pixabay.com_-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Kehidupan-kampus-Pixabay.com_-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-175894\" class=\"wp-caption-text\">Kehidupan kampus (Pixabay.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pola lulus-kerja ini memang natural. Ya kecuali Anda anak seorang konglomerat, mungkin Anda tidak terjebak pola ini. Tapi, bagi anak muda yang terjebak sistem kerja sejak orang tua sampai simbah mereka, pilihan ini adalah harga mati. Setelah lulus, Anda harus kerja. Kalau tidak kerja, ya tidak bisa hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Missing link dari pola ini adalah step di mana seseorang harus tegas dalam mengambil keputusan. Kekosongan yang terjadi adalah buramnya pandangan tentang kuliah dan kerja itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari kita lihat polanya. Setelah lulus SMA, kalau ada dana, seseorang akan berkuliah. Beberapa orang berkuliah atas dasar passion. Beberapa lainnya atas dasar gambaran singkat tentang masa depannya di dunia kerja. Sisanya karena kuliah dipandang sebagai syarat wajib seseorang untuk bisa bekerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika seseorang masih berpikir passion, ini menjadi masalah. Bukan berarti saya menolak kuliah seturut ketertarikan personal. Tapi, jika hanya berhenti sampai kuliah saja, ini masalahnya. Demikian pula bagi yang kuliah namun berdasarkan gambaran singkat dunia kerja. Mengingat makin banyaknya pekerjaan yang <a href=\"https:\/\/www.kompas.com\/edu\/read\/2021\/11\/09\/095731171\/80-persen-mahasiswa-tidak-bekerja-sesuai-jurusan-kuliah?page=all\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tidak relevan<\/a> dengan pendidikan perguruan tinggi.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_175892\" aria-describedby=\"caption-attachment-175892\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-175892\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Ilustrasi-bekerja-Pixabay.com_.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Ilustrasi-bekerja-Pixabay.com_.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Ilustrasi-bekerja-Pixabay.com_-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Ilustrasi-bekerja-Pixabay.com_-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Ilustrasi-bekerja-Pixabay.com_-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-175892\" class=\"wp-caption-text\">Ilustrasi bekerja (Pixabay.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang paling berbahaya adalah menganggap kuliah sebagai syarat mutlak seseorang bekerja. Memang realitas berkata demikian. Namun, pemahaman ini mereduksi pendidikan tinggi sebatas sertifikasi semata. Tidak ada pemahaman bahwa kuliah adalah bekal dan bukan syarat. Ini dua konsep berbeda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demikian pula dengan keputusan bekerja, baik lulusan SMA maupun seorang sarjana. Yang ditekankan oleh struktur sosial kita adalah bekerja untuk memenuhi nafkah semata. Benar, karena memang itu alasan seseorang bekerja. Namun, banyak yang terjebak dalam pusaran pekerjaan stagnan karena ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seseorang bekerja karena perlu uang, sehingga sering terjadi pola lompat-lompat pekerjaan yang tidak relevan. Akibatnya, kesempatan untuk naik ke jenjang professional tinggi akan terhambat. Sebab, pekerjaan yang digeluti tidak pernah bertujuan untuk berkembang. Tapi, semata-mata untuk bertahan hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tidak menyalahkan semua pola di atas, karena situasi ekonomi dan sosial kita memaksa untuk itu. Namun, pola ini tidak bisa dijaga sebagai sebuah hal normal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang hilang adalah perencanaan terhadap setiap keputusan. Keputusan untuk kuliah jangan sampai berhenti di \u201cyang penting kuliah\u201d. Apalagi keputusan bekerja yang berakhir di \u201cyang penting kerja\u201d. Setiap keputusan untuk kuliah dan kerja harus menjadi proyeksi jangka panjang. Minimal 10 tahun ke depan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Banyak trainer yang menyarankan perencanaan ini. Sayang sekali, saran ini sering dianggap sebagai utopia. Atau memang karena disampaikan dengan cara yang utopis. Yang seharusnya terjadi adalah perencanaan ini harus dibuat sejak masih bersekolah, bukan setelah lulus SMA.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_175895\" aria-describedby=\"caption-attachment-175895\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-175895\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Stres-karena-pekerjaan-Pixabay.com_.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Stres-karena-pekerjaan-Pixabay.com_.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Stres-karena-pekerjaan-Pixabay.com_-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Stres-karena-pekerjaan-Pixabay.com_-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/05\/Stres-karena-pekerjaan-Pixabay.com_-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-175895\" class=\"wp-caption-text\">Stres karena pekerjaan (Pixabay.com(<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara sederhana, perencanaan ini bisa sebagai berikut: pahami dahulu pekerjaan yang diinginkan, pahami jenjang karier dari sebuah pekerjaan. Dengan demikian, Anda akan lebih mudah untuk memutuskan ke mana akan pindah kerja. Meskipun seringkali Anda harus berpindah tempat kerja, namun kepindahan anda lebih berpotensi untuk naik jabatan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apabila ingin bekerja yang bersistem kedinasan, maka sudah pasti perlu sekolah di akademi yang relevan. Jika ingin bekerja swasta atau berwirausaha, keputusan kuliah harus bisa menyokong pilihan tersebut. Pahami bekal yang harus Anda siapkan, dan pendidikan macam apa yang Anda butuhkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak selamanya satu jurusan kuliah berakhir pada satu jenis pekerjaan. Maka penting untuk memahami apa yang dibutuhkan pekerjaan Anda. Baru Anda bisa memilih mau kuliah di jurusan apa. Dengan demikian, Anda tidak terjebak oleh kebingungan \u201chabis lulus, kerja apa?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah akan berhasil 100 persen sesuai perencanaan? Belum tentu. Tapi, dengan memiliki perencanaan sejak awal, Anda sudah mengenal dan memahami jalur yang ingin Anda lalui. Meleset-meleset sedikit, paling yang kerja yang tidak sesuai rencana awal. Tapi, meleset ini tidak akan terlalu jauh dari bayangan. Dan lebih banyak pintu yang terbuka bagi Anda.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Prabu Yudianto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bekerja-kok-untuk-duit-aneh\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bekerja Kok untuk Duit, Aneh<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Harus banget kayak gitu?<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":175893,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[4316,436,15605,72],"class_list":["post-175891","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-karier","tag-kuliah","tag-lulus-sma","tag-pekerjaan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/175891","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=175891"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/175891\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/175893"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=175891"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=175891"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=175891"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}