{"id":1755,"date":"2019-05-21T03:30:10","date_gmt":"2019-05-20T20:30:10","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=1755"},"modified":"2019-05-20T11:16:17","modified_gmt":"2019-05-20T04:16:17","slug":"sebenarnya-tuhan-ada-di-mana","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sebenarnya-tuhan-ada-di-mana\/","title":{"rendered":"Sebenarnya Tuhan Ada Di Mana?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada satu sore di bulan Ramadan, Rani dan Rino merebahkan diri di gubuk sawah. Menanti waktu berbuka dengan leyeh-leyeh sambil menunggu anak-anak kecil bermain layangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rani dan Rino adalah kakak beradik. Rani, gadis yang periang ini lebih muda 2 tahun dari Rino. Mereka sering bertengkar karena hal-hal kecil layaknya kakak beradik lain. Sebagai anak <a href=\"https:\/\/mojok.co\/red\/rame\/kilas\/joni-bocah-smp-pemanjat-tiang-bendera-mendapat-beasiswa-sampai-sarjana\/\">SMP<\/a>, keduanya punya sangat banyak waktu senggang untuk membicarakan perkara-perkara remeh. Seperti sore itu misalnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMas, menurutmu Tuhan ada di sana nggak?\u201d Jari telunjuk Rani mengarah ke sebuah gundukan awan tebal yang bersemu hitam. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rino mengubah arah mata yang awalnya memandang atap gubuk, menuju ke lukisan raksasa bak bola-bola kapas yang ditunjuk oleh Rani. Ia diam sejenak. Pikirannya melayang-layang. Mencoba mencari jawaban yang tepat. Namun, ia belum menemukannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBagaimana kalau pertanyaannya diubah menjadi, \u2018Menurutmu Tuhan ada di sini nggak?\u201d <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rino menunjuk sebuah pohon besar. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHal itu lebih mungkin dan masuk akal, mengingat begitu banyak orang yang meletakkan sesaji di sana,\u201d lanjut Rino.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendengar pernyataan Masnya, Rani memiringkan badan, menghadap wajah kakaknya yang terlihat serius. Lalu menyipitkan mata dengan tatapan sedikit tajam. \u201cMas, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kowe <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">percaya sama berhala? <\/span><em><span style=\"font-weight: 400;\">Wah<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> kafir <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">kowe,<\/span><\/em><span style=\"font-weight: 400;\"> Mas.\u201d <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rani menghardik kakaknya\u2014meraba keimanan yang dirasa setipis tisu di warung mi ayam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">La ngopo to? <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Aku nggak ngomong kalau Tuhan itu setan yang nunggu pohon kok. Aku ya masih percaya kalau Tuhanku Gusti Allah. Aku cuma berasumsi, siapa tau Allah sering berada di pohon karena buktinya banyak orang yang meletakkan sesaji di sana dan berkat itu, petani panenannya jadi bagus\u2014padinya terhindar dari hama-hama yang merusak.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYa nggak adil to. Lalu gimana nasib guru yang lebih sering ngajar di sekolah? Kenapa Tuhan nggak di sekolah saja? Apa iya Gusti Allah ini nggak peduli sama pahlawan tanpa tanda jasa? Katanya Tuhan Maha Adil?\u201d tanya Rani menggugat pernyataan kakaknya yang menurutnya tidak rasional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rino diam-diam merutuki argumennya. Merasa dipatahkan oleh bocah yang menurutnya masih anak <em>piyik<\/em> alias bau kencur ini. Ia menutup matanya\u2014mencoba mencari-cari sanggahan apa yang cocok. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalau begitu, pasti Gusti Allah ada di masjid. Makanya, banyak orang mengunjungi masjid. Kebanyakan, selepas sembahyang di masjid, pasti orang-orang merasakan ketenangan karena habis menemui Tuhannya.\u201d kata Rino yakin. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rani mengernyitkan dahi, mencoba mencerna apa yang telah didengarnya. \u201cMmmm, benar juga ya. Tuhan pasti berada di masjid.\u201d Rani mengangguk-angguk tanda setuju. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEh, tapi temanku Eko nggak pernah salat tapi kok <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ayem tentrem <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">dan punya banyak uang untuk menraktir teman-temannya di sekolah<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">? <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal kan dia jarang menemui Gusti Allah.\u201d Rani meralat pernyataannya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGusti Allah itu nggak di masjid. Dia ke mana-mana pasti\u2014sering jalan-jalan. Kadang ke pohon, kadang ke masjid, kadang juga ke rumah orang-orang. Menengok hambanya satu persatu,\u201d lanjut Rani.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di akhir percakapan, Rani dan Rino melihat Paman Anwar menuju mereka. Dengan cangkul yang terkait di bahunya dan kaki yang terlihat penuh lumpur, Paman Anwar tersenyum. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalian ngomongin apa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">to<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, kok serius amat?\u201d tanya Paman Anwar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIni lo Pak Lik, kata Rani masak Gusti Allah itu kadang di pohon, kadang di masjid, kadang juga pergi ke rumah-rumah semua orang. Memangnya Tuhan punya banyak waktu buat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ndolani dapuranmu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">?\u201d kata Rino sambil <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">njegug <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">kepala Rani.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHaduuuuh Maas, tak bilangin bapak nanti biar kamu nggak dikasih uang jajan. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kapok<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">~\u201d ledek Rani.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Eh ladalah iki opo to yo<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Gusti Allah itu nggak di sana apalagi di sini, Le, Nduk.\u201d Paman Anwar mulai menjelaskan kepada Rani dan Rino.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLho, masak Tuhan sebenarnya nggak ada to Pak Lik?\u201d tanya Rino.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHeleh, malah tambah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ngawur. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Tuhan itu nggak di sana dan di sini. Nggak di rumahmu, nggak di masjid, nggak juga di pohon. Sekarang Pak Lik mau tanya, yang menciptakan segalanya itu siapa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">to<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">?\u201d Paman Anwar kemudian bertanya pada Rino dan Rani.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cYang menciptakan segalanya ya Tuhan to Pak Lik. Ya Gusti Allah. Masak gitu aja ditanyakan,\u201d jawab Rani.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNah, bukankah itu artinya Tuhan juga menciptakan tempat atau ruang dan waktu?\u201d Paman kembali bertanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rino dan Rani kebingungan. Tidak mengerti dengan maksud Paman Anwar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMaksudnya gimana <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">to<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Pak Lik?\u201d <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJadi gini Le, Nduk. Gusti Allah kan menciptakan segalanya\u2014manusia, tumbuh-tumbuhan, awan, semesta dan seisinya. Begitupun juga tempat dan waktu. Tuhan menciptakan segalanya. Makanya, kamu nggak bisa bilang Tuhan ada di sana atau di sini, sebab semuanya adalah ciptaan Tuhan. Tuhan juga nggak perlu membuang waktu untuk melakukan sesuatu. Karena waktu itu sendiri, juga Tuhan yang menciptakan. Tuhan tidak terikat sama ciptaannya sendiri.\u201d <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rani dan Rino mulai mengerti maksud dari Paman Anwar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSejatinya, Tuhan ada di sini\u2014di dalam hati kamu, di dalam iman kamu. Ketika kalian percaya atau iman kalau Tuhan ada, di situlah Tuhan berada. Begitu dekat denganmu. Bahkan, kata guru ngaji paman dulu, Tuhan lebih dekat dengan umatnya daripada jarakmu dengan urat nadimu sendiri. Sangat dekat, bukan?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cOooh, gitu ya Pak Lik. <em>Asyhadu allailaha illallah. Waasyhaduanna muhammadarrasulullah<\/em>.\u201d Rino dan Rani manggut-manggut. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSudah ayo pulang, matahari sudah terbenam. Sebentar lagi buka puasa.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Nggih,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Pak Lik.\u201d<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tuhan menciptakan segalanya. Makanya, kamu nggak bisa bilang Dia ada di sana atau di sini, sebab semuanya adalah ciptaan Tuhan.<\/p>\n","protected":false},"author":42,"featured_media":1772,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[474,475,473],"class_list":["post-1755","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-di-mana-tuhan","tag-hakikat","tag-tuhan-ada-di-mana"],"modified_by":"Zahroh Ayu","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1755","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/42"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1755"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1755\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1772"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1755"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1755"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1755"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}