{"id":174078,"date":"2022-04-20T11:00:36","date_gmt":"2022-04-20T04:00:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=174078"},"modified":"2022-04-20T10:55:47","modified_gmt":"2022-04-20T03:55:47","slug":"gaduh-ikon-gunungkidul-dan-pembangunan-tugu-tobong-gamping-yang-ngadi-ngadi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gaduh-ikon-gunungkidul-dan-pembangunan-tugu-tobong-gamping-yang-ngadi-ngadi\/","title":{"rendered":"Gaduh Ikon Gunungkidul dan Pembangunan Tugu Tobong Gamping yang Ngadi-ngadi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi Anda yang sering atau pernah berkunjung ke Gunungkidul, tentu sudah tidak asing dengan patung pengendang di Bundaran Siyono, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul. Patung berwarna biru yang dibangun pada 2019 itu menjadi pintu masuk kawasan Kota Wonosari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konon, patung pengendang tersebut memiliki filosofi bahwa pengendang digambarkan sebagai pengendali suatu bentuk harmonisasi. Patung orang menabuh kendang ini juga sebagai bentuk penghargaan untuk para seniman campursari di Gunungkidul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum ada patung Pengendang, dulunya Bundaran Siyono hanya berupa tumpukan batu yang menyerupai gunung yang di atasnya terdapat logo Bank BPD DIY. Patung itu dibangun lantaran Kabupaten Gunungkidul mendapat sumbangan atau Corporate Social Responsibility<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">(CSR) dari Bank BPD DIY senilai Rp815 juta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain membangun tugu Pengendang, pemberian CSR tersebut juga menyasar beberapa program, seperti revitalisasi Pasar Argosari, pengadaan sumur bor, dan pembangunan sarana prasarana Taman Kuliner Wonosari. Tepat pada Januari 2019, patung Pengendang tersebut diresmikan oleh bupati Gunungkidul saat itu, Ibu Badingah.<\/span><\/p>\n<blockquote class=\"instagram-media\" style=\"background: #FFF; border: 0; border-radius: 3px; box-shadow: 0 0 1px 0 rgba(0,0,0,0.5),0 1px 10px 0 rgba(0,0,0,0.15); margin: 1px; max-width: 540px; min-width: 326px; padding: 0; width: calc(100% - 2px);\" data-instgrm-captioned=\"\" data-instgrm-permalink=\"https:\/\/www.instagram.com\/reel\/Ccjg3mkl0jA\/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading\" data-instgrm-version=\"14\">\n<div style=\"padding: 16px;\">\n<p>&nbsp;<\/p>\n<div style=\"display: flex; flex-direction: row; align-items: center;\">\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 40px; margin-right: 14px; width: 40px;\"><\/div>\n<div style=\"display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center;\">\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 100px;\"><\/div>\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 60px;\"><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div style=\"padding: 19% 0;\"><\/div>\n<div style=\"display: block; height: 50px; margin: 0 auto 12px; width: 50px;\"><\/div>\n<div style=\"padding-top: 8px;\">\n<div style=\"color: #3897f0; font-family: Arial,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-weight: 550; line-height: 18px;\">Lihat postingan ini di Instagram<\/div>\n<\/div>\n<div style=\"padding: 12.5% 0;\"><\/div>\n<div style=\"display: flex; flex-direction: row; margin-bottom: 14px; align-items: center;\">\n<div>\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(0px) translateY(7px);\"><\/div>\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; height: 12.5px; transform: rotate(-45deg) translateX(3px) translateY(1px); width: 12.5px; flex-grow: 0; margin-right: 14px; margin-left: 2px;\"><\/div>\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; border-radius: 50%; height: 12.5px; width: 12.5px; transform: translateX(9px) translateY(-18px);\"><\/div>\n<\/div>\n<div style=\"margin-left: 8px;\">\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; border-radius: 50%; flex-grow: 0; height: 20px; width: 20px;\"><\/div>\n<div style=\"width: 0; height: 0; border-top: 2px solid transparent; border-left: 6px solid #f4f4f4; border-bottom: 2px solid transparent; transform: translateX(16px) translateY(-4px) rotate(30deg);\"><\/div>\n<\/div>\n<div style=\"margin-left: auto;\">\n<div style=\"width: 0px; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-right: 8px solid transparent; transform: translateY(16px);\"><\/div>\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; flex-grow: 0; height: 12px; width: 16px; transform: translateY(-4px);\"><\/div>\n<div style=\"width: 0; height: 0; border-top: 8px solid #F4F4F4; border-left: 8px solid transparent; transform: translateY(-4px) translateX(8px);\"><\/div>\n<\/div>\n<\/div>\n<div style=\"display: flex; flex-direction: column; flex-grow: 1; justify-content: center; margin-bottom: 24px;\">\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; margin-bottom: 6px; width: 224px;\"><\/div>\n<div style=\"background-color: #f4f4f4; border-radius: 4px; flex-grow: 0; height: 14px; width: 144px;\"><\/div>\n<\/div>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p style=\"color: #c9c8cd; font-family: Arial,sans-serif; font-size: 14px; line-height: 17px; margin-bottom: 0; margin-top: 8px; overflow: hidden; padding: 8px 0 7px; text-align: center; text-overflow: ellipsis; white-space: nowrap;\"><a style=\"color: #c9c8cd; font-family: Arial,sans-serif; font-size: 14px; font-style: normal; font-weight: normal; line-height: 17px; text-decoration: none;\" href=\"https:\/\/www.instagram.com\/reel\/Ccjg3mkl0jA\/?utm_source=ig_embed&amp;utm_campaign=loading\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sebuah kiriman dibagikan oleh \ud83d\udcf8 \ud835\ude42\ud835\ude56\ud835\ude61\ud835\ude5a\ud835\ude67\ud835\ude5e \ud835\ude52\ud835\ude5e\ud835\ude68\ud835\ude56\ud835\ude69\ud835\ude56 \ud835\ude42\ud835\ude6a\ud835\ude63\ud835\ude6a\ud835\ude63\ud835\ude5c\ud835\ude46\ud835\ude5e\ud835\ude59\ud835\ude6a\ud835\ude61 (@gunungkidul.ig)<\/a><\/p>\n<\/div>\n<\/blockquote>\n<p><script async src=\"\/\/www.instagram.com\/embed.js\"><\/script><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baru-baru ini rencana revitalisasi Bundaran Siyono kembali mencuat ke publik. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul berencana akan menggeser patung Pengendang, lalu akan membangun ikon baru bernama Tugu Tobong Gamping (TTG). Ya, patung pengendang yang belum genap berusia empat tahun itu, rencananya akan dirombak lagi digantikan dengan ikon baru.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tobong Gamping sendiri merupakan sebuah tempat produksi pengolahan batu kapur tradisional. Dalam proses produksi batu gamping, tobong atau tungku digunakan untuk menata batu untuk kemudian dibakar menggunakan kayu bakar atau ban bekas. Biasanya, bentuk tobong gamping mirip kastil yang terbuat dari susunan batu putih serta terdapat lubang untuk proses pembakaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Miniatur tobong gamping ini dipilih karena menurut riwayat sejarah dulunya Gunungkidul pernah menjadi sentra bahan baku batu gamping. Dengan alasan tersebut, Pemkab percaya bahwa ikon ini nantinya bisa menjadi wajah baru yang akan menghias Kabupaten ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Pak Bupati, Bapak Sunaryanta, nantinya Bundaran Siyono akan diubah menjadi taman layaknya Malioboro. Hal ini dilakukan semata-mata untuk menarik wisatawan agar mau datang ke kabupaten ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, saya tahu ini aneh, tapi, tahan, kita lanjut dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anggaran pembangunan Tugu Tobong Gamping Gunungkidul sendiri tak main-main. Dikutip dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Harian Jogja,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> DPUPRKP Gunungkidul mengalokasikan anggaran pembuatan tugu ini mencapai Rp9,4 miliar. Nantinya, anggaran tersebut akan digunakan untuk membenahi sejumlah fasilitas umum, salah satunya miniatur Tobong Gamping di Bundaran Siyono.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adanya rencana pembangunan di Bundaran Siyono tersebut, baru-baru ini menjadi perbincangan hangat sejumlah warga. Hampir semua grup Facebook warga Gunungkidul, ramai membahas rencana pembangunan ikon tersebut yang menelan anggaran lebih dari Rp9 miliar. Banyak warga yang menganggap bahwa program tersebut tidak lebih hanya menghambur-hamburkan anggaran dan tidak tepat sasaran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Geger mengenai landmark atau Gunungkidul sebenarnya tidak hanya terjadi kali ini saja. Jauh sebelumnya, sekitar tahun 2014 lalu, sebagian warga juga sambat dan menyayangkan mengenai patung atau instalasi nelayan membawa jaring di dekat tugu Selamat Datang Gunungkidul. Banyak warga yang menganggap bahwa instalasi tersebut kurang gagah dan tidak mewakili identitas keseluruhan warga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum reda perihal patung instalasi nelayan, awal tahun 2021 lalu juga geger dengan patung penari Tayub yang ada di depan Taman Budaya Gunungkidul (TBG). Patung dua orang yang sedang menari tersebut dinilai wagu karena bentuknya tidak simetris. Padahal, anggaran pengerjaan patung lengkap beserta tulisan Taman Budaya Gunungkidul, menghabiskan anggaran hingga mencapai Rp201 juta.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_174293\" aria-describedby=\"caption-attachment-174293\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-174293\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Taman-Budaya-Yogyakarta-Ndari-Kusmintasih-via-Shutterstock.com_.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Taman-Budaya-Yogyakarta-Ndari-Kusmintasih-via-Shutterstock.com_.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Taman-Budaya-Yogyakarta-Ndari-Kusmintasih-via-Shutterstock.com_-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Taman-Budaya-Yogyakarta-Ndari-Kusmintasih-via-Shutterstock.com_-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Taman-Budaya-Yogyakarta-Ndari-Kusmintasih-via-Shutterstock.com_-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-174293\" class=\"wp-caption-text\">Taman Budaya Yogyakarta (Ndari Kusmintasih via Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perkara ikon sejak dulu memang selalu berhasil mencuri perhatian warga Gunungkidul, khususnya kawula muda. Tanah kelahiran saya ini memang belum menemukan sebuah ikon yang benar-benar mewakili identitas atau karakter warga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bukannya mencari serta menggali potensi yang dimiliki masyarakat, justru Pemkab Gunungkidul seolah ingin menjadikan daerah ini mirip Kota Yogya. Hal ini bisa dilihat adanya istilah titik nol di Alun-Alun Wonosari serta rencana pembangunan kawasan di Bunderan Siyono yang akan diubah menjadi taman mirip Malioboro.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal, meski Gunungkidul masuk ke dalam wilayah administrasi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), tentu secara sosio-kultural Kabupaten Gunungkidul cukup berbeda dengan Kota Yogya, terlebih keadaan ekonomi warga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seharusnya Pemkab tidak malu belajar dengan Kabupaten Bantul. Meski masih satu wilayah administrasi dengan DIY, tetapi Kabupaten Bantul sedikit berani berbeda dan memiliki karakter sendiri. Hal ini bisa dilihat adanya Taman Gabusan dan Desa Wisata Kasongan. Yang mana kedua ikon tersebut setidaknya sudah mampu mencerminkan karakter masyarakat Bantul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari itu, rencana pembangunan miniatur Tobong Gamping di Bundaran Siyono selain tidak mencerminkan karakter masyarakat, juga cenderung menghambur-hamburkan anggaran. Mengingat masih banyaknya ketimpangan sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat Gunungkidul, sungguh teramat wagu jika Pemkab mengeluarkan anggaran sebesar Rp9,4 miliar hanya untuk membangun ikon yang blas ra mashok dan tidak mencerminkan karakter masyarakat Gunungkidul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagaimana kita tahu, mata pencaharian mayoritas masyarakat Gunungkidul adalah petani yang biasa menanam palawija di ladang, salah satunya tanaman singkong. Nantinya, singkong tersebut akan dipepe (dijemur), lalu menjadi gaplek (singkong kering) dan diproses menjadi nasi tiwul.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_174294\" aria-describedby=\"caption-attachment-174294\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-174294\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Gaplek-Shutterstock.com_.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Gaplek-Shutterstock.com_.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Gaplek-Shutterstock.com_-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Gaplek-Shutterstock.com_-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Gaplek-Shutterstock.com_-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-174294\" class=\"wp-caption-text\">Gaplek (Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya nih, Pak Bupati dan seluruh jajaran sudah ngebet pengen banget membangun ikon Gunungkidul, kenapa tidak membuat patung orang mikul gaplek atau mengupas singkong saja? Atau mungkin bisa juga anggarannya buat pengadaan bibit<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/movi\/edi-padmo-resan-gunungkidul-semangat-menanam-pohon-dan-menjaga-sumber-air\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">pohon resan<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk ditanam di sepanjang jalan? Bukankah itu lebih bijaksana dan jelas menggambarkan karakter orang Gunungkidul? Kenapa malah lebih memilih tobong gamping yang justru bisa disalah artikan sebagai simbol eksploitasi batu alam?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang jelas, membuat ikon daerah dengan anggaran Rp9,4 miliar di tengah angka kemiskinan di Gunungkidul sebesar 17,07 persen itu jelas ngadi-ngadi. Terlebih di Bundaran Siyono sudah ada patung Pengendang yang baru saja diresmikan tahun 2019, sebenarnya Pemkab tidak perlu repot-repot merevitalisasi lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih banyak masalah sosial di Gunungkidul yang lebih krusial dan segera perlu ditangani, mulai dari banyaknya jalanan rusak, minimnya penerangan jalan, hingga tingginya kasus bunuh diri. Buat apa juga punya tugu dan taman kota penuh lampu gemerlap, tetapi jalan di dusun-dusun rusak dan masih gelap? Bukankah memperbaiki jalanan rusak lebih bijak dan masuk akal ketimbang membangun tugu yang blas tidak mencerminkan karakter masyarakat?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ya, kan, Pak?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Jevi Adhi Nugraha<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/plang-tempik-gundul-dan-salah-kaprah-lainnya-tentang-gunungkidul\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Plang Tempik Gundul dan Salah Kaprah Lainnya tentang Gunungkidul<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Patung dulu, patung lagi, dan patung terus.<\/p>\n","protected":false},"author":547,"featured_media":174292,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[5281,15478,15479],"class_list":["post-174078","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-gunungkidul","tag-patung","tag-tugu-tobong-gamping"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/174078","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/547"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=174078"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/174078\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/174292"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=174078"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=174078"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=174078"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}