{"id":173681,"date":"2022-04-13T21:30:11","date_gmt":"2022-04-13T14:30:11","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=173681"},"modified":"2022-04-13T21:21:03","modified_gmt":"2022-04-13T14:21:03","slug":"percayalah-punya-akun-linkedin-itu-nggak-penting-penting-amat","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/percayalah-punya-akun-linkedin-itu-nggak-penting-penting-amat\/","title":{"rendered":"Percayalah, Punya Akun LinkedIn Itu Nggak Penting-penting Amat"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau Anda bertanya, pentingkah punya LinkedIn <\/span><b>sekarang<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, saya akan jawab: tidak begitu penting. Punya nggak apa-apa, nggak juga nggak masalah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLoh, Mas Seto kan recruiter, harusnya paham pentingnya medsos satu itu dong. Gimana sih???\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bentar, saya jelasin dulu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak awal kemunculannya, LinkedIn digadang-gadang menjadi salah satu platform yang powerful bagi para HRD, <a href=\"https:\/\/www.jobvite.com\/blog\/recruiting-process\/what-is-the-difference-between-recruitment-and-talent-acquisition\/#:~:text=Talent%20acquisition%20is%20an%20ongoing,require%20a%20very%20specific%20skillset.\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">talent acquisition<\/a>, recruiter, <a href=\"https:\/\/employers.glints.id\/resources\/pengertian-headhunter-dan-cara-kerjanya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">head hunter<\/a>, dan sebangsanya, untuk menemukan kandidat potensial dan punya kemampuan sesuai kebutuhan perusahaan. Di sisi lain, hal ini juga berlaku bagi para pencari kerja dalam menemukan pekerjaan yang diinginkan.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_173683\" aria-describedby=\"caption-attachment-173683\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-173683\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Logo-LinkedIn.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Logo-LinkedIn.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Logo-LinkedIn-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Logo-LinkedIn-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Logo-LinkedIn-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-173683\" class=\"wp-caption-text\">Logo LinkedIn (Pixabay.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, saat ini, saya semakin yakin bahwa penggunaan LinkedIn dalam ruang lingkup pekerjaan itu nggak penting-penting amat\u2014seperti yang digembar-gemborkan di awal. Sebab, FYI, fungsi LinkedIn sendiri semakin tergerus karena ulah penggunanya sendiri. Bahkan, tiap kali login LinkedIn, saya selalu merasakan keresahan, kebingungan, sekaligus kemangkelan di waktu bersamaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Iya, saya paham bahwa LinkedIn itu situs web jaringan sosial yang berorientasi bisnis, terutama digunakan untuk jaringan profesional. Salah satu kelebihan yang dimiliki dibanding platform profesional atau situs pencari kerja lainnya adalah punya fitur posting foto dan video. Namun, jangan salah, hal tersebut juga bisa jadi kelemahan sekaligus membikin para HRD dan\/atau sebagian orang yang serius mencari pekerjaan jadi nggak fokus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih belum mudeng? Buat kalian yang punya akun LinkedIn, silakan scroll laman beranda kalian masing-masing. Minimal kalian akan menemukan satu atau dua postingan yang agak nganu untuk sebuah platform professional.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_173684\" aria-describedby=\"caption-attachment-173684\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-173684\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Ceritanya-merintis-startup.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Ceritanya-merintis-startup.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Ceritanya-merintis-startup-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Ceritanya-merintis-startup-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Ceritanya-merintis-startup-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-173684\" class=\"wp-caption-text\">Merintis startup (Pixabay.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya coba berikan gambaran satu per satu postingan yang semakin lama semakin membikin risih itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama, postingan flexing tentang pencapaian pribadi. Kedua, generasi pekerja kelahiran tahun 80 sampai 90-an yang adu nasib\u2014meminta para pekerja saat ini untuk mensyukuri gaji yang diterima, jangan milih-milih, dan meminta jalani saja dulu. Ketiga, para pencari kerja sekaligus pencari likes\/respons yang menjual kesedihan sambil share foto yang bisa memancing iba banyak orang. Keempat, foto ala-ala Instagram dengan quote yang mungkin bagi mereka termasuk motivasi. Padahal, nggak memotivasi amat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Belum lagi \u201cSi paling LinkedIn\u201d flexing soal profilnya yang paling \u201cwah\u201d, paling profesional, dan paling dilirik oleh banyak perusahaan. Juga, \u201cSi Paling Pekerja Keras\u201d alias startup founder yang cerita betapa mengerikannya perjuangan mereka membangun startup. Membangun startup lho ya, bukan bertahan hidup.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagian dari kalian mungkin mbatin, \u201cHalah, itu sih tergantung yang ente follow atau terkoneksi sama siapa kaleee.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biar saya tegasin, ya. Saat ini, beranda LinkedIn akan memunculkan postingan orang lain yang kalian\u2014atau connection (mutualan kita)\u2014beri like. Oke kalau yang di-like adalah iklan lowongan pekerjaan, pelatihan, dan hal lain yang masih berkaitan dengan pekerjaan. Lah, kalau hal yang agak nganu? Lama-lama ya risih juga, Ngab.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wajar kalau belakangan, saya, sebagian HRD, atau pencari kerja lainnya merasa bahwa punya akun LinkedIn itu nggak bisa jadi tolok ukur seseorang profesional di bidangnya dan bukan opsi utama untuk mencari pekerjaan yang ideal. Bahkan bisa dibilang nggak penting-penting amat punya akun LinkedIn.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan semakin maraknya pengguna yang hobi posting secara serampangan, rasa-rasanya nggak berlebihan jika saya menilai bahwa platform pencari kerja lainnya, saat ini boleh jadi lebih unggul, nyaman digunakan, dan menawarkan beberapa kelebihan. Sehingga, para HRD bisa fokus posting info lowongan pekerjaan. Sedangkan pencari kerja bisa fokus scroll memilih posisi dan perusahaan yang dituju, tanpa harus terdistraksi oleh postingan nyampah dari pengguna lain.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_173685\" aria-describedby=\"caption-attachment-173685\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-173685\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Info.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Info.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Info-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Info-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/Info-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-173685\" class=\"wp-caption-text\">Pengumuman loker (Pixabay.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika kalian berdalih postingan yang serampangan tersebut sebagai hiburan atau selingan, rasanya hal tersebut keliru. Sebab, kalian bisa menggunakan platform media sosial lain sebagai hiburan. Sederhana saja, jadikan LinkedIn sebagai platform yang sebagaimana mestinya dan proporsional penggunaannya. Sehingga fungsinya bisa maksimal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagian, banyak orang yang sebenarnya tak peduli sama cerita orang-orang membangun startup kek mana. Mereka cari kerja, bukan cari cerita. Kalau cuman adu penderitaan, noh di Twitter banyak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekadar informasi saja, beberapa info lowongan pekerjaan yang kalian pengin dan konon katanya ada di LinkedIn, tersebar juga di beberapa portal pencarian kerja lainnya. Banyak perusahaan yang mem-posting satu iklan lowongan pekerjaan di beberapa platform sekaligus, kok. Tujuannya agar bisa mendapatkan lebih banyak kandidat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, bagi kalian yang sampai dengan saat ini belum kepikiran bikin akun LinkedIn, nggak apa-apa, kok. Nggak perlu berkecil hati, merasa nggak mengikuti tren, dan berpikir bahwa peluang kalian dalam mendapatkan pekerjaan semakin kecil.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat tren postingan sebagian pengguna di LinkedIn saat ini yang semakin absurd dan mirip-mirip media sosial pada umumnya, rasa-rasanya nggak berlebihan amat jika saya pikir, punya atau tidaknya akun LinkedIn nggak bisa dijadikan acuan utama dalam menemukan info lowongan pekerjaan yang sesuai dengan kepenginnya kalian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, dah paham kan kenapa saya bilang nggak penting-penting amat?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Seto Wicaksono<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/linkedin-lama-lama-kok-malah-jadi-mirip-facebook-ya\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">LinkedIn Lama-lama kok Malah Jadi Mirip Facebook, ya?<\/a><\/strong><\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nggak penting-penting amat sih sebenernya.<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":173682,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"no","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12911],"tags":[1478,7724,102],"class_list":["post-173681","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-loker","tag-linkedin","tag-loker","tag-media-sosial"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/173681","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=173681"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/173681\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/173682"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=173681"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=173681"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=173681"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}