{"id":17160,"date":"2019-10-14T15:40:39","date_gmt":"2019-10-14T08:40:39","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=17160"},"modified":"2019-10-14T16:44:50","modified_gmt":"2019-10-14T09:44:50","slug":"dua-orang-yang-saling-mencintai-jadi-tampak-mirip-satu-sama-lain","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dua-orang-yang-saling-mencintai-jadi-tampak-mirip-satu-sama-lain\/","title":{"rendered":"Mengapa Dua Orang yang Saling Mencintai Setelah Sekian Lama Jadi Tampak Mirip?"},"content":{"rendered":"<p>Salah satu rujukan untuk menjawab pertanyaan ini barangkali bisa diperoleh dari Mulla Sadra. Dalam \u201cal-Asfar\u201d, sufi-filsuf abad 17 itu menulis satu bab tentang cinta (al-\u2018isyq), yang dibaginya ke dalam dua jenis, haqiqi (kepada Tuhan) dan majazi (kepada manusia). Cinta kepada manusia ia bagi menjadi dua lagi, nafsani (terarah ke jiwa) dan hayawani (terarah ke raga).<\/p>\n<p>Cinta nafsani, kata Sadra, akan muncul ketika terjadi \u201cmusyakalah nafs al-\u2018asyiq wal-ma\u2019syuq fil-jawhar\u201d, kemiripan jiwa antara yang-mencintai dan yang-dicintai secara substansi. Cinta nafsani digambarkan Sadra dalam nuansa yang Platonik: pada hakikatnya orang yang mencintai sudah memiliki \u2018forma\u2019 (shurah) atau gambaran ideal mengenai yang-ingin-dicintainya, dan kemudian gambaran ideal itu menemukan wujudnya dalam jiwa orang yang-dicintai.<\/p>\n<p>Dalam gambaran ini, objek cinta bukanlah, seperti dalam cinta hayawani, keindahan paras dan tubuh dari orang-yang-dicintai, melainkan sifat-sifat dari yang-dicintai (syama\u2019il al-ma\u2019syuq) yang cocok dengan \u2018forma\u2019 itu. Mencintai adalah menemukan kepingan refleksi diri dalam jiwa orang-yang-dicintai. Cinta, dalam gambaran yang Platonik, memang persoalan jiwa. Frasa \u201cbelahan jiwa\u201d menangkap makna ini.<\/p>\n<p>Bedanya Sadra dengan Plato, Aristoteles, dan filsuf Muslim Peripatetik adalah: Dalam Plato, jiwa dan raga adalah dua hal yang berbeda dan distingtif. Jiwa, yang akan hidup abadi, adalah substansi yang \u2018men-dunia\u2019 setelah masuk ke dalam materi jasadiah atau raga, yang menjadi aksiden bagi jiwa. Aristoteles, melalui Kategori-nya (yang dalam filsafat Islam dikenal dengan \u201cal-maqulat al-\u2018asyr\u201d), kemudian membedakan substansi dari aksiden. Bagi Aristotles, yang diikuti oleh filsuf Muslim Peripatetik, gerakan (\u2018motion\u2019, \u2018harakah\u2019) dan perubahan hanya terjadi dalam aksiden, bukan substansi; dalam raga, bukan jiwa.<\/p>\n<p>Sadra berbeda pendapat. Baginya gerakan juga terjadi dalam substansi\u2014disebut dengan gerakan substansial (\u201charakah jawhariyyah\u201d), satu konsep kunci dalam filsafat Sadra. Jiwa dan tubuh berhubungan secara interdependen dan hubungan inilah yang membentuk seorang manusia. Berkat hubungan ini, ketika jiwa bergerak dan berubah, dampaknya akan mengejawantah dalam raga.<\/p>\n<p>Nah, dalam filsafat Sadra, substansi selalu ingin mencari dan bergerak menuju kesempurnaan. Dalam cinta haqiqi, fitrah jiwa adalah cenderung mencari Yang Ilahi, asal muasal eksistensi, \u201csangkan paraning dumadi\u201d. Dalam hal cinta nafsani, jiwa mengalami hasrat yang kuat untuk bisa bersatu dengan jiwa yang-dicintai (\u201cittihad nafs al-\u2018asyiq wal-ma\u2019syuq\u201d). Cinta menjadi energi yang mendorong terjadinya gerakan untuk bersatu ini. Dalam gerak ini, semakin dekat untuk menyatu dengan yang-dicintai, perubahan (shairurah) terjadi dalam jiwa, yang menjadi kian identik dengan \u2018forma\u2019 yang-dicintainya. Jiwa yang mendekat dan kian identik dengan \u2018forma\u2019 yang-dicintai membuat orang yang mencintai kian mirip dengan yang-dicintainya.<\/p>\n<p>Jadi, ringkasnya, penyebab makin miripnya dua orang yang saling mencintai adalah \u201charakah jawhariyyah\u201d dalam jiwa.<\/p>\n<p>Boleh jadi tafsir saya terhadap Sadra ini keliru\u2014saya membaca Sadra juga baru hari-hari belakangan ini. Betapapun demikian, saya mengimajinasikan mekanisme yang demikian itulah yang akan terjadi ketika dua orang saling mencintai. (*)<\/p>\n<p><b>BACA JUGA\u00a0<\/b><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/cerita-diusir-dari-masjid-dan-misteri-skenario-allah-swt\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Cerita Diusir dari Masjid dan Misteri Skenario Allah Swt<\/a> atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/azis-anwar-fachrudin\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Azis Anwar Fachrudin<\/a>\u00a0lainnya. Follow Facebook\u00a0<a href=\"https:\/\/www.facebook.com\/azis.a.fachrudin\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Azis Anwar Fachrudin<\/a>.<\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jiwa yang mendekat dan kian identik dengan \u2018forma\u2019 yang-dicintai membuat orang yang mencintai kian mirip dengan yang-dicintainya.<\/p>\n","protected":false},"author":383,"featured_media":17234,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-17160","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel"],"modified_by":"Nia Lavinia","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17160","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/383"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17160"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17160\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17234"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17160"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17160"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17160"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}