{"id":171567,"date":"2022-04-03T01:54:03","date_gmt":"2022-04-02T18:54:03","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=171567"},"modified":"2022-04-03T12:31:25","modified_gmt":"2022-04-03T05:31:25","slug":"4-masjid-bersejarah-di-gunungkidul-yang-cocok-untuk-safari-tarawih","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-masjid-bersejarah-di-gunungkidul-yang-cocok-untuk-safari-tarawih\/","title":{"rendered":"4 Masjid Bersejarah di Gunungkidul yang Cocok untuk Safari Tarawih"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemarin sore, paklik saya yang tinggal di Jakarta Timur memberi kabar bahwa Ramadan tahun ini akan melakukan safari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/di-kampung-saya-tarawih-8-rakaat-dianggap-kurang-sopan-takjilanterminal38\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tarawih<\/a> di sejumlah masjid yang ada di Matraman. Paklik yang kerap saya panggil Pak Pon, sejak remaja, memang sudah gemar melakukan salat Tarawih keliling dari desa ke desa. Selain beribadah, paklik paling suka ngobrol soal sejarah masjid bersama takmir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, saya dan kawan-kawan remaja masjid juga pernah melakukan salat tarawih di sejumlah masjid bersejarah di tanah kelahiran saya, Gunungkidul, DIY.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak sedikit masjid bersejarah di Gunungkidul yang memiliki arsitektur unik dan kaya akan nilai sejarah. Nah, bagi Anda yang ingin melakukan safari tarawih di Gunungkidul, berikut rekomendasi masjid bersejarah di Gunungkidul yang bisa kamu kunjungi.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_171596\" aria-describedby=\"caption-attachment-171596\" style=\"width: 845px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-171596 size-full\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/salat-.jpg\" alt=\"\" width=\"845\" height=\"549\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/salat-.jpg 845w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/salat--300x195.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/salat--768x499.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/salat--750x487.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 845px) 100vw, 845px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-171596\" class=\"wp-caption-text\">Salat (Unsplash.com)<\/figcaption><\/figure>\n<h4><b>Masjid bersejarah #1 Al Husna di Playen<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kecamatan Playen di Gunungkidul dikenal sebagai gudangnya seniman. Beberapa seniman terkenal yang lahir di Playen, mulai dari almarhum Manthous (maestro campursari), Dimas Tejo (penyanyi campursari), almarhum Intan GS Bono (perupa), <a href=\"https:\/\/mojok.co\/movi\/farid-stevy-karya-seni-dan-tragedi\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Farid Stevy<\/a> (vokalis FSTVLST), dan masih banyak lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, Playen juga punya masjid bersejarah, yaitu Masjid Al Husna.\u00a0 Rumah ibadah yang terletak di Dusun Getas, Desa Getas, Kecamatan Playen, ini berdiri pada 1926. Bangunannya berdiri kokoh di atas tanah wakaf milik Ahmad Yahya seluas 1.050 meter persegi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dikutip dari buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Masjid Bersejarah DIY<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dulunya, masjid ini dibangun atas inisiatif warga Getas yang terinspirasi dan ingin masjidnya mirip Masjid Demak. Konon, salah seorang sesepuh masyarakat rela berjalan kaki dari Gunungkidul ke Demak hanya untuk melihat bangunan masjid tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tempat ibadah umat muslim ini termasuk salah satu masjid bersejarah di Gunungkidul karena dulunya melahirkan para pejuang kemerdekaan. Tidak sedikit jemaah di masjid ini bergabung ke Laskar Hizbullah. Bahkan, masjid ini juga sempat menjadi markas Laskar Hizbullah dan juga menjadi saksi saat para pejuang menyusun strategi perang.<\/span><\/p>\n<h4><b>Masjid bersejarah #2 Al Jami di Ponjong<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa waktu lalu, saya mengunjungi pemilik Alquran tulisan tangan berusia dua abad yang ada di Desa Sumbergiri, Kecamatan Ponjong, bernama Jazari Zaini (85). Kitab suci tersebut merupakan peninggalan Kiai Muhammad Ikhsan, putra Tumenggung Wiroyudo, yang konon masih keturunan Raja Brawijaya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya memberi peninggalan berupa Alquran tulisan tangan, Kiai Muhammad Ikhsan juga mendirikan sebuah masjid bernama Masjid Al Jami.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_171594\" aria-describedby=\"caption-attachment-171594\" style=\"width: 845px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-171594 size-full\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/beribadah.jpg\" alt=\"\" width=\"845\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/beribadah.jpg 845w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/beribadah-300x192.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/beribadah-768x491.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/beribadah-750x479.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 845px) 100vw, 845px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-171594\" class=\"wp-caption-text\">Mari beribadah. (Unsplash.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut cerita Pak Jazari, masjid ini dibangun pada 1824 oleh Kiai Muhammad Ikhsan. Masjid ini menjadi saksi penyebaran agama Islam di Gunungkidul. Dulunya, Masjid Al Jami digunakan oleh Kiai Ikhsan untuk menyiarkan agama Islam kepada santri-santrinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, masjid berukuran sekitar 265 meter persegi tersebut juga memiliki bedug peninggalan Kiai Ikhsan. Uniknya, bedug tua berusia ratusan tahun ini dibuat dengan kayu jati utuh dan proses melubanginya menggunakan bara api. Hal ini yang kemudian membuat bedug ini lebih awet dan nyaring saat dipukul.<\/span><\/p>\n<h4><b>Masjid bersejarah #3 Masjid Sunan Kalijaga di Panggang<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masjid bersejarah di Gunungkidul lainnya adalah Masjid Sunan Kalijaga. Masjid ini terletak di Dusun Blimbing, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, di atas tanah wakaf seluas 500 meter persegi. Dikutip dari buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Masjid Bersejarah DIY<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, tempat suci ini dibangun pada 1505 Masehi oleh <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Sunan_Kalijaga\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Sunan Kalijaga<\/a>.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masjid yang konon sudah ada sejak abad ke-17 ini merupakan peninggalan Sunan Kalijaga saat melakukan syiar agama Islam di Gunungkidul. Dalam penyebaran agama Islam di Gunungkidul, Kanjeng Sunan juga mengajak beberapa muridnya, seperti Ki Ageng Pemanahan dan Ki Ageng Giring.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain masjid, di Dusun Blimbing juga terdapat sebuah tempat yang dulunya digunakan untuk bertapa Ki Ageng Pemanahan bernama Pertapaan Kembang Lampir. Konon, di tempat inilah Ki Ageng Pemanahan mendapatkan wahyu untuk mendirikan Keraton Mataram di Kotagede.<\/span><\/p>\n<h4><b>Masjid bersejarah #4 Tiban di Ngawen<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masjid Tiban di Kecamatan Ngawen menjadi salah satu masjid bersejarah nan misterius di Gunungkidul. Pasalnya, masjid yang memiliki bentuk menyerupai honai (rumah adat Papua) berukuran 4&#215;4 meter tersebut tidak diketahui siapa yang mendirikannya. Konon, masjid yang terletak di Desa Jurangjero, Kecamatan Ngawen, itu sudah ada sejak sebelum Kerajaan Majapahit runtuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak sama seperti bentuk bangunan masjid pada umumnya, Masjid Tiban atau Langgar Bale kembang, ini memiliki dinding berupa gedek dengan empat tiang dari kayu jati, serta memiliki atap berupa daun ilalang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sementara itu, di depan Masjid Tiban terdapat tempat wudu berupa gentong atau padasan yang memiliki cerita mistis. Menurut juru kunci Masjid Tiban, Manto Suwiknyo (80), dulunya ada orang yang berusaha mengambil padasan ini untuk dibawa pulang. Namun, saat sampai rumah, tiba-tiba padasan tersebut menghilang dan kembali ke tempatnya semula.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, masih banyak cerita-cerita mistis mengenai Masjid Tiban ini. Bagi Anda yang ingin mengetahui lebih lanjut terkait Masjid Tiban Ngawen, bisa disimak hasil liputan saya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/susul\/masjid-tiban-gunungkidul-masjid-mistis-peninggalan-murid-sunan-pandanaran\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_171593\" aria-describedby=\"caption-attachment-171593\" style=\"width: 845px\" class=\"wp-caption aligncenter\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-171593 size-full\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/belajar-alquran.jpg\" alt=\"\" width=\"845\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/belajar-alquran.jpg 845w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/belajar-alquran-300x192.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/belajar-alquran-768x491.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/04\/belajar-alquran-750x479.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 845px) 100vw, 845px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-171593\" class=\"wp-caption-text\">Berlajar dan beribadah. (Unsplash.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Selamat beribadah.<\/p>\n<p>Penulis: Jevi Adhi Nugraha<br \/>\nEditor: Yamadipati Seno<\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Liburan ke Gunungkidul nggak cuma ke pantai.<\/p>\n","protected":false},"author":547,"featured_media":171595,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[5281,15287,15288,15284,15285,15286,15127,7179],"class_list":["post-171567","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-gunungkidul","tag-masjid-al-husna","tag-masjid-al-jami","tag-masjid-bersejarah","tag-masjid-di-gunungkidul","tag-masjid-sunan-kalijaga","tag-masjid-tiban","tag-sunan-kalijaga"],"modified_by":"Yamadipati Seno","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/171567","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/547"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=171567"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/171567\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/171595"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=171567"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=171567"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=171567"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}