{"id":17063,"date":"2019-10-14T10:00:18","date_gmt":"2019-10-14T03:00:18","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=17063"},"modified":"2019-10-16T15:50:57","modified_gmt":"2019-10-16T08:50:57","slug":"guru-honorer-adalah-calon-penghuni-surga-lainnya-hanya-sampai-gerbang","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/guru-honorer-adalah-calon-penghuni-surga-lainnya-hanya-sampai-gerbang\/","title":{"rendered":"Guru Honorer Adalah Calon Penghuni Surga, Lainnya Hanya Sampai Gerbang"},"content":{"rendered":"<p>Saya ingat dulu di Sekolah Menengah Atas saya punya seorang guru honorer. Beliau mengajar mata pelajaran yang paling saya benci, Matematika. Tapi karena si Bapak baik, ya saya menghargai beliau mengajar walaupun otak saya tidak pernah mau bekerja kalau sudah melihat angka, apalagi angka campur huruf (Aljabar). Sorenya beliau melanjutkan mengajar di tempat bimbel, saya kebetulan mengambil tambahan di tempat beliau mengajar juga. Kalau dihitung-hitung jam kerja si Bapak sudah 13 jam (7 pagi \u2013 8 malam). Pernah suatu ketika di tempat bimbel saya dan salah satu teman saya meminta jam tambahan kemudian beliau yang mengajari kami. Tapi beliau tampak tidak fokus menjelaskan, terlihat lelah. Teman saya yang kebetulan satu SMA itu bertanya, \u201cPak, nggak capek apa ngajar dobel gini?\u201d\u00a0Jawaban beliau ya tidak lain tidak bukan karena alasan ekonomi. Mengajar sebagai guru honorer tidak akan mencukupi kebutuhan beliau sampai kapanpun, jadi memang harus cari <em>seseran<\/em>.<\/p>\n<p>Ingatan ini kembali terputar di kepala saya ketika Bapak <a href=\"https:\/\/tirto.id\/muhadjir-effendi-sebut-malang-contoh-baik-penerapan-ppdb-daerah-dTmQ\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Muhadjir Effendi<\/a> berkata dalam acara peringatan hari guru Internasional, beliau bilang.<\/p>\n<p>\u201cSaya \u2018agak\u2019 yakin bahwa orang yang pertama masuk surga itu adalah guru. Kalau sekarang gajinya sedikit, apalagi kalau honorer (gajinya) seratus lima puluh ribu. Nikmati saja, nanti masuk surga.\u201d<\/p>\n<p>Setidaknya itu adalah sebuah kalimat menenangkan hati dari <a href=\"https:\/\/mojok.co\/apk\/ulasan\/pojokan\/mendikbud-muhadjir-romantisasi-amal-jariyah-melulu-nih-kapan-naikin-gaji-guru-honorer\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Menteri Pendidikan dan Kebudayaan<\/a>, Bapak Muhadjir Effendi tanggal 10 kemarin ketika ditanya mengenai gaji kecil guru honorer.<\/p>\n<p>Pernyataan ini adalah salah satu pernyataan yang paling menenangkan untuk para pencari kerja. Karena jawaban dari kalimat \u201cmuda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga\u201d adalah suatu hal yang hampir mustahil setidaknya diakhir cerita kita tahu bahwa ada kemungkinan ketika kita mengambil guru spesialisasi honorer sebagai pekerjaan kita bisa mati masuk surga walaupun tidak bisa foya-foya dan kaya raya.<\/p>\n<p>Tapi nampaknya masalah surga adalah masalah yang sensitif, pasalnya Bapak Muhadjir masih menambahkan kata \u201cagak\u201d di depan kalimat beliau. Ini patut dipertanyakan, seperti kata-kata mantan yang berjanji mencintai sehidup semati tapi ditambah kata \u201cagak\u201d akhirnya tidak jadi sehidup tapi mungkin jadi bisa semati.<\/p>\n<p>Urusan masuk surga atau masuk neraka sejatinya menurut saya sama polanya dengan masuk kerja. Ada kriteria-kriteria tertentu yang harus dipenuhi oleh guru-guru honorer ini agar bisa masuk surga. kriteria dalam memenuhi amal jariyah tidak perlu dilakukan lagi, yang jadi masalah sekarang adalah pemenuhan kriteria dalam berjibaku mengatur keuangan dengan gaji 150.000 ribu per bulan di dunia kapitalis yang kejam ini. Tidak semua orang bisa tahan.<\/p>\n<p>Bayangkan, jika seorang guru calon penghuni surga ini memiliki setidaknya dua anak dan satu istri berarti ada empat orang dalam rumah tangga itu yang harus dinafkahi. Uang 150 ribu dibagi empat sama dengan 37,5 ribu rupiah kemudian harus dibagi lagi dengan 30 hari menjadi 1,25 ribu rupiah. Harga gorengan masa kini saja paling murah 1.000 rupiah, jadi satu hari satu anggota keluarga makan seharga 1 seperempat potong gorengan. Kalau di Sunda terdapat jenis gorengan yang mirip dengan bakwan tapi lebih hemat bahan baku soalnya dibentuk bulat-bulat kecil jadi tidak terlalu banyak menggunakan tepung dan bahan-bahan lainnya, namanya bala-bala, sekali \u201chap\u201d ke mulut langsung hilang, sama seperti besar gaji guru honorer.<\/p>\n<p>Surga mungkin adalah tujuan utama dari orang beragama dan beriman terhadap tuhannya. Tapi tidak seorangpun dapat menjamin bahwa sebuah profesi dapat masuk surga. kriteria untuk bertahan hidup dengan 150 ribu per bulan nampaknya terasa sangat menyiksa di saat sekarang. Sekarang kalau misalnya saya balik pernyataan Bapak Kemendikbud, karena Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan adalah kementrian yang mengatur calon-calon penghuni surga (dalam kasus ini guru honorer) ya seharusnya tidak apa-apa kalau gajinya lebih murah dari guru honorer yang diaturnya, atau sekalian tidak usah digaji.<\/p>\n<p>Seorang guru memiliki amal jariyah kepada setiap murid yang diajarnya, apalagi kementrian yang mengurus sumber-sumber amal jariyah itu. Pasti lebih banyak amalnya. Kalau saya ditanya wartawan mengenai gaji guru honorer sekarang saya akan menjawab,\u00a0\u201csaya \u2018agak\u2019 yakin bahwa orang yang pertama masuk surga itu yang bekerja di Kemendikbud, karena merekalah yang mengurus calon-calon penghuni surga. Kalau sekarang gajinya lebih besar dari para guru yang diaturnya, apalagi sampai jutaan rupiah mungkin lebih baik tidak usah digaji. Nikmati saja, nanti masuk surga.\u201d<\/p>\n<p>Lalu mungkin ada pegawai Kemendikbud yang <em>misuh-misuh<\/em> atau mungkin Menterinya, karena tidak ada uang makan, uang transport tunjangan atau yang lain-lain. Anak-anak mereka butuh makan tapi makan tidak bisa dibeli dengan amal jariyah kemudian cicilan mobil mereka tidak bisa dibayar, cicilan rumah tingkat tiga mereka tidak bisa dilunasi kemudian disita oleh bank.<\/p>\n<p>Kemudian kalau ada kesempatan bertemu saya akan menepuk pundak Pak Muhadjir dengan pelan sambil tersenyum, saya akan berkata,\u00a0\u201cnikmati saja, nanti masuk surga.\u201d (*)<\/p>\n<p>BACA JUGA\u00a0<a class=\"link link--forsure\" href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/menjadi-seorang-guru-tk\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Menjadi Seorang Guru TK<\/a> atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/sabrina-mulia-rhamadanty\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Sabrina Mulia Rhamadanty<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Saya ingat dulu di Sekolah Menengah Atas saya punya seorang guru honorer. Beliau mengajar mata pelajaran yang paling saya benci, Matematika.<\/p>\n","protected":false},"author":316,"featured_media":17165,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[1123,3924,3925,3923],"class_list":["post-17063","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-guru-honorer","tag-menteri-pendidikan","tag-muhadjir-effendi","tag-penghuni-surga"],"modified_by":"Zahroh Ayu","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17063","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/316"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=17063"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/17063\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/17165"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=17063"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=17063"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=17063"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}