{"id":1697,"date":"2019-05-20T07:00:59","date_gmt":"2019-05-20T00:00:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=1697"},"modified":"2021-10-05T14:12:24","modified_gmt":"2021-10-05T07:12:24","slug":"balada-mengikuti-perkembangan-media-sosial-dalam-satu-dekade","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/balada-mengikuti-perkembangan-media-sosial-dalam-satu-dekade\/","title":{"rendered":"Balada Mengikuti Perkembangan Media Sosial Dalam Satu Dekade"},"content":{"rendered":"<p>Pada dasarnya, saya adalah seseorang yang tidak begitu tertarik dengan kemunculan media sosial atau aplikasi <em>chat<\/em> yang sejak dahulu sering digunakan oleh anak warnet untuk berkenalan dengan teman baru di dunia maya. Anak kelahiran 90an tentu familiar dengan aplikasi chat MIRC, yang rentan sekali dengan <em>fake<\/em> <em>account<\/em> lintas gender.<\/p>\n<p>Ya, saya ingat betul karena teman saya, laki-laki, pernah menjadi korban, dia sudah semangat <em>chattingan<\/em> dengan seseorang yang mengaku perempuan (pada aplikasi <em>chat<\/em>-nya). Nyatanya setelah bertukar nomor ponsel dan segera ditelfon, dia tak lain dan tak bukan adalah seorang laki-laki juga\u2014teman sekolahnya yang memang berniat usil, karena teman saya ini termasuk jomblo akut pada masanya dan ingin sekali punya pacar. Dahulu, penelurusan masih terbatas dan minim akan informasi.<\/p>\n<p>Saya sendiri pernah diselingkuhi pacar karena tidak aktif di aplikasi chat Mxit. Jadi, saat malam hari dia izin untuk tidur, nyatanya dia lanjut ber<em>chatting<\/em> ria dengan lelaki lain lewat <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/MXit\">MXit<\/a>. Sebab, saya yang tidak menggunakan aplikasi ini, tidak akan tahu kapan dia <em>online<\/em> atau <em>offline<\/em>. Saya merasa kecolongan dan akhirnya harus merelakan dia<span style=\"text-decoration: line-through;\">\u00a0dengan yang lain.<\/span><\/p>\n<p>Dari situ, media sosial perlahan bermunculan, mulai dari <a href=\"https:\/\/tekno.kompas.com\/read\/2016\/03\/16\/13315747\/Menjajal.Friendster.Baru.Bisa.Ketemu.Teman.FS.Lama.\">Friendster<\/a>, Facebook, <a href=\"https:\/\/mojok.co\/apk\/ulasan\/pojokan\/twitter-please-do-your-magic-bikin-ketagihan-minta-retweet\/\">Twitter<\/a>, Plurk (ada yang masih ingat?) Instagram, dan lain sebagainya. Ketidaktertarikan saya akan media sosial terbukti dari akun media sosial saya, semuanya dibuatkan oleh teman. Friendster dibuatkan pacar saat SMA, katanya agar ada teman ngobrol di <em>platform<\/em> tersebut. Tidak lama kemudian, muncul Facebook dan\u2014lagi\u2014saya dibuatkan teman saya sewaktu SMA, agar gaul dan mengikuti perkembangan zaman\u2014katanya.<\/p>\n<p>Belum lama saya ngotak-ngatik bagaimana cara berkomunikasi via Facebook, saya harus dibebani lagi dengan kehadiran Twitter, seperti biasa, akunnya dibuatkan lagi oleh teman. Ketika sudah asik bermain Twitter, Instagram muncul dengan segala keasikannya memanjakan visual lewat editan foto otomatis dalam satu tap. Rasanya capek jika harus mengikuti inovasi dalam bermedia sosial ini. Perlahan tapi pasti, saya mulai beradaptasi dengan semua media sosial.<\/p>\n<p>Mulai dari Facebook, yang awalnya saya sampai merasa panas-dingin saat berbalas <em>wall<\/em> (awal mula muncul, ini istilah yang digunakan untuk berbalas sapaan berupa <em>tag<\/em> atau <em>mention<\/em> pada Facebook\u2014entah istilah ini masih digunakan atau tidak) dengan teman, sampai akhirnya menjadi sedikit luwes menuliskan status sok bijak dan berlagak menjadi motivator. Bahkan, pada titik ini, dengan fasihnya saya memposting foto sewaktu remaja se-ekspresif mungkin (baca: alay).<\/p>\n<p>Lalu saya mulai beranjak ke ranah Twitter dengan sok idealis dengan mengaku bahwa, sudah bosan bermain Facebook. Nyatanya, di waktu yang bersamaan saya masih suka bergonta-ganti <em>profile picture<\/em>. awalnya Twitter hanya memiliki 140 karakter dalam satu kali posting, saat ini ditambah menjadi 280 karakter. Usut punya usut, agar pengguna lebih cepat dalam <em>posting<\/em> dan bercerita apa pun yang mau diceritakan tanpa harus memikir panjang untuk mengedit karakter yang dirasa terbatas sebelumnya. Dulu, saya selalu terkesima dengan teman yang ngetwit via Uber Twitter atau Twitter <em>for<\/em> Blackberry. Terkesan mewah dan punya kelas tersendiri, sampai saya merengek minta dibelikan <em>handphone<\/em> Blackberry ke orang tua agar bisa melakukan hal yang serupa.<\/p>\n<p>Untuk melakukan <em>retweet<\/em> pun tidak semudah saat ini, perlu di-<em>copy paste<\/em> manual, jika ingin otomatis, gunakan <em>platform<\/em> tweet-deck. Jika tidak bisa juga, silakan balas mention secara manual. Awal mula kemunculan, tidak ada istilah <em>thread<\/em> seperti sekarang <span style=\"text-decoration: line-through;\">yang seringkali cerita aib sendiri atau orang lain<\/span>. Di Indonesia, yang ada hanya istilah kultwit, semacam utas yang diberi nomor agar dapat dengan mudah mengikuti alur atau jalan cerita pada twit yang di-<em>posting<\/em>.<\/p>\n<p>Sampai pada akhirnya, Instagram muncul untuk ikut meramaikan jagat dunia maya. Betul-betul cocok untuk orang yang suka <span style=\"text-decoration: line-through;\">pamer<\/span> swafoto atau mengumpulkan foto, sehingga fungsinya sama seperti album dalam bentuk digital. Hingga sekarang, aplikasi ini cukup banyak digemari <span style=\"text-decoration: line-through;\">karena lebih mudah dalam mendapatkan endorsement<\/span> karena tampilannya yang menarik <span style=\"text-decoration: line-through;\">dan memudahkan pamer apa pun dan kapan saja.<\/span> Saya sempat meninggalkan Twitter karena aplikasi yang satu ini.<\/p>\n<p>Sampai akhirnya saya tersadar, hanya Twitter lah media sosial yang cocok bagi saya. Jack Dorsey, salah satu pendiri Twitter pernah berkata,<\/p>\n<p>\u201c..kami memilih kata \u2018Twitter\u2019 dan itu sempurna. Definisinya adalah \u2018ledakan singkat informasi tidak penting\u2019 dan \u2018celotehan burung\u2019 dan seperti itulah tepatnya produk ini.\u201d<\/p>\n<p>Mengacu pada kutipan tersebut, rasanya tidak salah jika saya seringkali sambat atau mencuitkan hal yang tidak penting-penting amat di Twitter.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Rasanya capek jika harus mengikuti inovasi dalam bermedia sosial ini. Perlahan tapi pasti, saya mulai beradaptasi dengan semua media sosial.<\/p>\n","protected":false},"author":24,"featured_media":1719,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12906],"tags":[460,459,421],"class_list":["post-1697","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-media-sosial","tag-facebook","tag-perkembangan-media-sosial","tag-twitter"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1697","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/24"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1697"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1697\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1719"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1697"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1697"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1697"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}