{"id":169569,"date":"2022-03-25T09:00:16","date_gmt":"2022-03-25T02:00:16","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=169569"},"modified":"2022-04-01T13:27:08","modified_gmt":"2022-04-01T06:27:08","slug":"palang-pintu-tradisi-melamar-ala-jawara-silat-betawi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/palang-pintu-tradisi-melamar-ala-jawara-silat-betawi\/","title":{"rendered":"Palang Pintu: Tradisi Melamar ala Jawara Silat Betawi"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><em><span style=\"font-weight: 400;\">Palang pintu adalah tradisi melamar ala jawara silat Betawi yang penuh makna<\/span><\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah menjadi kodrat manusia berpasang-pasangan. Begitu pula bagi seorang lelaki yang siap menikah, tentu harus ada calon pasangannya. Namun demikian, meskipun sudah mempunyai calon pasangan hidup, ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan untuk menghalalkan sang pujaan hati. Sang lelaki harus mendapatkan restu dari pihak pengantin perempuan terlebih dahulu sebelum mengarungi biduk rumah tangga. Bagi masyarakat Betawi, restu ini diperoleh dengan melalui sebuah tradisi yang disebut palang pintu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dulu, saat akan meminang calon istri asli Betawi, saya cukup kaget karena selain seserahan disebutkan pula syarat lainnya yakni harus beklai atau berkelahi dengan palang pintu <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Palang_Pintu\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">alias para jawara silat Betawi<\/a>. Begitu kata pihak keluarga istri. \u201cDuh, gawat!\u201d pikir saya dalam hati. Maklumlah meski kakek saya asli Betawi, saya sendiri nggak lahir di tanah Betawi. Tak urung syarat ini membuat nyali saya jadi ciut, wqwqwq.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untunglah saya tak harus beklai dengan para jawara silat Betawi yang sudah pasti para pendekar pilih tanding. Ternyata pada hari-H pernikahan, saat saya tiba di lokasi daerah Cipinang, Jakarta Timur, semuanya sudah diwakili oleh palang pintu yang sudah disiapkan dari pihak keluarga pengantin perempuan. Tak hanya beklai dengan beradu tanding pencak silat saja, tim palang pintu juga bertugas membaca salawat dustur, adu balas pantun hingga akhirnya adu baca sike dengan lantunan Al-Quran atau salawat nabi berlanggam atau bernada sikka\/sike.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_170142\" aria-describedby=\"caption-attachment-170142\" style=\"width: 810px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-170142\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Greg-PW-adu-silat-betawi-Shutterstocl.jpg\" alt=\"\" width=\"810\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Greg-PW-adu-silat-betawi-Shutterstocl.jpg 810w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Greg-PW-adu-silat-betawi-Shutterstocl-300x200.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Greg-PW-adu-silat-betawi-Shutterstocl-768x512.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Greg-PW-adu-silat-betawi-Shutterstocl-750x500.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 810px) 100vw, 810px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-170142\" class=\"wp-caption-text\">Adu silat (Greg PW via Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang menarik dari tradisi palang pintu tentu saja adalah adu pantun dan adu pencak silat. Dalam dialog berbalas pantun, para palang pintu menggunakan pakem pantun berima a-b, a-b yang menarik meskipun spontan terucap. Baik dari pihak pengantin perempuan maupun lelaki nggak mau kalah, sehingga sangat seru dan juga lucu. Begini contohnya:<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cRumah gedong rumah Belande, pagarnya tinggi kawatnye besi.<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Aye kagak mau tau ente dari mane, lewat sini kudu permisi\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cO, jadi kudu permisi nich, Bang?\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ujar jawara pihak pengantin lelaki.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLha, iya, emang dikata tegalan?\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> jawab jawab pihak pengantin perempuan.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBaik kalau begitu, saya kasih salam dulu, \u201cAssalamualaikum\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cWaalaikumsalam\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMinum sekoteng di Pasar Jumat, mampir dulu ke Kramat Jati,<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Aye dateng dengan segala hormat, mohon diterime dengan seneng hati\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan seterusnya hingga akhirnya para jawara beklai dibalut pencak silat khas Betawi yang diiringi musik rebana. Adu pencak silat dibuat menghibur meski menggunakan golok sekali pun dan dikondisikan jawara silat perwakilan pengantin pria yang unggul. \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Alhamdulillah, jadi juga nikah<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">,\u201d tutur saya kala itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apabila palang pintu pengantin pria telah dianggap menang oleh palang pintu pengantin wanita, barulah \u201cpalang\u201d atau penghalang dibuka. Pengantin pria pun disambut dengan salawat badar sebagai simbolis dibukanya \u201cpintu\u201d penyambutan dari pihak pengantin wanita. Saat inilah saya dan calon istri pengantin akhirnya dipertemukan.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_170143\" aria-describedby=\"caption-attachment-170143\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-170143\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/mempelai-pria-lastroll-shutterstock.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/mempelai-pria-lastroll-shutterstock.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/mempelai-pria-lastroll-shutterstock-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/mempelai-pria-lastroll-shutterstock-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/mempelai-pria-lastroll-shutterstock-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-170143\" class=\"wp-caption-text\">Mempelai pria (Lastroll via Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya sempat membayangkan kala itu, bagaimana jika memang benar setiap pengantin pria sendiri yang harus melewati semua jawara palang pintu dan jawara pantun tersebut? Betapa berat perjuangan seorang pejuang cinta Betawi dahulu kala.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menyitir dari buku <\/span><a href=\"https:\/\/books.google.co.id\/books\/about\/Prosesi_adat_perkawinan_Betawi_buke_pala.html?id=naA8nwEACAAJ&amp;redir_esc=y\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Prosesi Adat Perkawinan Betawi Buke Palang Pintu<\/span><\/i><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang ditulis Bachtiar (2013), disebutkan adalah <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Si_Pitung\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Bang Pitung<\/a>, jawara silat Betawi,\u00a0 yang hidup kira-kira periode tahun 1874-1903, pernah melakoni rangkaian prosesi palang pintu dalam meminang pujaan hatinya Aisyah, anak Jawara Kemayoran.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dikisahkan Bang Pitung harus melewati palang pintu yang menghadang khususnya Murtadho, calon bapak mertuanya. Akhirnya dengan kekuatan cinta dipadu dengan keterampilan beklai dan berpantun, Bang Pitung berhasil menundukkan palang pintu dan sang calon mertua. Aisyah pun berhasil diperistri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tradisi palang pintu lazim dilakukan masyarakat Betawi terutama di perkampungan-perkampungan masyarakat Betawi atau festival-festival budaya Betawi. Begitu pula bagi masyarakat Betawi ora seperti di Bogor, Depok, Bekasi dan sekitarnya masih melaksanakan tradisi Palang Pintu hanya beda sebutan saja yakni Rebut Dandang. Kurang lebih sama persis, hanya beda dalam dialek bahasa yang menggunakan Betawi ora.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_170144\" aria-describedby=\"caption-attachment-170144\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-170144\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/silat-shutterstock.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/silat-shutterstock.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/silat-shutterstock-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/silat-shutterstock-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/silat-shutterstock-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-170144\" class=\"wp-caption-text\">Jawara saling beradu (Birul Sinari Adi via Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesungguhnya jika ditilik lagi, makna filosofis sangat lekat dalam tradisi palang pintu. Beklai alias adu pencak silat menyiratkan bahwa pemuda Betawi jika ingin menjadi kepala keluarga, harus mempunyai kapasitas dan kompetensi menjaga dan melindungi keluarganya. Tentu saja dari datangnya ancaman dan marabahaya yang mengganggu marwah dan keamanan keluarganya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pintar berdialog dan berpantun menunjukkan bahwa pemuda Betawi tak harus selalu kaku dan keras dalam keluarga. Keceriaan yang diperoleh dari pantun-pantun yang dilontarkan menjadi ciri khas pemuda Betawi adalah figur santuy, senang bercanda, dan terbuka untuk dialog-dialog cair namun tetap santun. Siapa tak kenal komedian-komedian asli Betawi yang menghiasi panggung dan layar hiburan tanah air mulai Benyamin Sueb, Komeng, hingga David Nurbianto.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedangkan kemampuan membaca sike yakni lantunan Al-Quran dan salawat nabi sudah pasti menunjukkan ciri khas pemuda Betawi yang identik dengan sembahyang dan mengaji. Sebagai syarat agar kelak menjadi imam yang akan membimbing dan mengarahkan anak istrinya di jalur agama yang benar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demikianlah tradisi palang pintu yang semakin hari sudah jarang disaksikan di masyarakat perkotaan. Padahal maknanya sangat dalam dan tentu saja patut dipertahankan dan dilestarikan kembali sebagai warisan budaya lokal Indonesia khususnya etnis Betawi. Apalagi saat ini Indonesia sedang menghadapi event G20. Nah, sungguh bijak dan tepat mengangkat budaya Betawi terutama palang pintu saat menyambut para tamu asing dari berbagai negara saat tiba di Indonesia. Percaya, deh, nggak kalah serunya dibanding aksi pawang hujan di Mandalika.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Suzan Lesmana<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tradisi unik nih.<\/p>\n","protected":false},"author":1247,"featured_media":170140,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[15139,15138,365],"class_list":["post-169569","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jawara-betawi","tag-palang-pintu","tag-pernikahan"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/169569","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1247"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=169569"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/169569\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/170140"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=169569"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=169569"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=169569"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}