{"id":169261,"date":"2022-03-19T15:00:47","date_gmt":"2022-03-19T08:00:47","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=169261"},"modified":"2022-03-19T12:14:27","modified_gmt":"2022-03-19T05:14:27","slug":"4-alasan-pns-ogah-menggadaikan-sk-ke-bank","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-alasan-pns-ogah-menggadaikan-sk-ke-bank\/","title":{"rendered":"4 Alasan PNS Ogah Menggadaikan SK ke Bank"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada begitu banyak stigma negatif PNS yang dikenal luas di masyarakat. Salah satunya yang paling populer adalah kebiasaannya ngutang ke bank dengan menggadaikan SK PNS. Boleh dibilang ini semacam <a href=\"https:\/\/ajaib.co.id\/ramai-gadai-sk-pns-untuk-apa-menjaminkan-surat-ini\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">tradisi<\/a> turun menurun di lingkungan birokrat. Nggak menggadaikan SK itu rasanya nggak afdal jadi PNS. Bahkan, sampai ada yang ngebet jadi PNS supaya bisa pinjam uang ke bank dengan menggadaikan SK-nya itu. Segitunya, ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Padahal nggak semua PNS seperti itu, lho. Percaya atau nggak, masih ada segelintir PNS yang nggak menggadaikan SK PNS-nya ke bank. Mereka\u2014para PNS berjiwa lurus itu\u2014benar-benar nyata dan ada. Mereka itu ibarat PNS pilihan Tuhan yang diciptakan untuk mematahkan stigma negatif PNS yang katanya hobi berutang.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_169273\" aria-describedby=\"caption-attachment-169273\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-169273\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/museums-victoria-VLg5MhJLTds-unsplash.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/museums-victoria-VLg5MhJLTds-unsplash.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/museums-victoria-VLg5MhJLTds-unsplash-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/museums-victoria-VLg5MhJLTds-unsplash-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/museums-victoria-VLg5MhJLTds-unsplash-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-169273\" class=\"wp-caption-text\">Bank (Unsplash.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai sesama PNS, saya merasa beruntung bisa menggali informasi dari para PNS yang nggak menggadaikan SK PNS-nya itu. Apa saja sih alasan mereka berbuat begitu? Saya mencatat ada empat alasan kenapa para PNS itu nggak menggadaikan SK PNS-nya ke bank.<\/span><\/p>\n<p><b>Pertama<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, nggak mau <a href=\"https:\/\/www.ocbcnisp.com\/en\/article\/2021\/11\/25\/riba-adalah\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">riba.<\/a> Ini adalah yang paling banyak dijadikan alasan kenapa para PNS itu nggak mau ngutang dengan menggadaikan SK PNS-nya ke bank. Mereka berpendapat bahwa ngutang ke bank adalah riba dan ini jelas-jelas dilarang dalam ajaran agama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fyi, riba itu adalah melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian. Ketika kita ngutang 100 juta rupiah ke bank misalnya, maka yang diterima nggak akan utuh karena dipotong biaya administrasi. Selain itu, kita diharuskan membayar utang tersebut dengan cara dicicil yang kalau dijumlahkan pasti lebih dari 100 juta. Entah itu 110 juta atau 120 juta, tergantung bunga yang dikenakan. Dan menurut mereka, ini jelas-jelas riba. Makanya daripada kena dosa riba dan bikin Tuhan murka, mereka\u2014para PNS itu\u2014emoh menggadaikan SK PNS untuk ngutang ke bank.<\/span><\/p>\n<p><b>Kedua<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, kapok ngutang. Alasan ini dipakai para PNS yang sebelumnya pernah menggadaikan SK ke bank. Mungkin karena sudah merasakan bagaimana pahit getirnya bayar cicilan tiap bulan dan hidup penuh keprihatinan selang beberapa hari setelah gajian, akhirnya mereka pun kapok untuk ngutang lagi ke bank.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_169175\" aria-describedby=\"caption-attachment-169175\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-169175\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/gajian.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/gajian.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/gajian-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/gajian-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/gajian-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-169175\" class=\"wp-caption-text\">Gajian (Pixabay.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atas dasar inilah, para PNS tadi lebih memilih menyimpannya daripada harus menggadaikannya ke bank. Kalau memang kepepet butuh uang, banyak alternatif lain yang bisa dijadikan pilihan, misalnya ngutang ke saudara, teman, dan lainnya. Ini adalah pilihan yang lebih aman, asalkan nggak ngutang lewat aplikasi pinjaman online. Ngeri.<\/span><\/p>\n<p><b>Ketiga<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, sudah kaya dari lahir. Di antara PNS itu, ada juga lho, orang yang sudah kaya dari lahir. Mungkin mereka punya orang tua yang berprofesi sebagai pengusaha sukses, punya suami trader, atau memang para PNS itu sudah punya usaha sampingan. Biasanya, mereka \u201cterpaksa\u201d jadi PNS karena tuntutan orang tua, calon mertua, atau calon istri. Mereka jadi PNS hanya untuk status profesi saja.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_169275\" aria-describedby=\"caption-attachment-169275\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-169275\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/kekayaan.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/kekayaan.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/kekayaan-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/kekayaan-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/kekayaan-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-169275\" class=\"wp-caption-text\">Kekayaan (Pixabay.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, tipe-tipe PNS berstatus crazy rich seperti ini pastinya nggak akan kepikiran untuk gadai-menggadai. Buat apa? Lah, wong duitnya sudah banyak. Malah, kalau bisa SK PNS-nya itu disumbangkan secara cuma-cuma kepada kaum duafa. Hehe.<\/span><\/p>\n<p><b>Keempat<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, hilang. Nah, ini. Ternyata ada juga lho, PNS yang SK PNS-nya hilang entah ke mana. Biasanya hilang karena tercecer ketika pindahan rumah, kena musibah banjir, atau rumahnya kebakaran. Bahkan, ada juga yang benar-benar lupa nyimpan di mana. Meski bisa dibuatkan duplikat atau salinan, tapi tetap saja <a href=\"https:\/\/bkpsdm.blitarkab.go.id\/?page_id=18806\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">prosesnya<\/a> cukup lama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan kejadian hilangnya SK ini, tentu saja PNS yang bersangkutan nggak bisa menggadaikan SK PNS-nya ke bank. Memangnya apa yang mau digadaikan, sertifikat webinar?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah empat alasan kenapa ada PNS yang nggak mau ngutang dengan menggadaikan SK PNS-nya ke bank. Semoga saja kita semua\u2014para PNS, pengusaha, guru, ibu rumah tangga, editor, penulis Mojok, dan negeri kita tercinta ini\u2014bisa terbebas dari utang. Sebab, yang namanya utang itu, gampang ngurusnya tapi repot bayarnya. Hadeh.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Andri Saleh<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Anti sama yang namanya gadai, ra risiko, Lur.<\/p>\n","protected":false},"author":1468,"featured_media":165438,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12911],"tags":[6775,15069,2420,13150,378],"class_list":["post-169261","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-loker","tag-bank","tag-gadai","tag-pns","tag-sk-pns","tag-utang"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/169261","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1468"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=169261"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/169261\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/165438"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=169261"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=169261"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=169261"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}