{"id":169239,"date":"2022-03-20T10:30:35","date_gmt":"2022-03-20T03:30:35","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=169239"},"modified":"2022-03-19T23:54:11","modified_gmt":"2022-03-19T16:54:11","slug":"3-peninggalan-kolonial-belanda-di-banyuwangi-yang-jarang-diketahui","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-peninggalan-kolonial-belanda-di-banyuwangi-yang-jarang-diketahui\/","title":{"rendered":"3 Peninggalan Kolonial Belanda di Banyuwangi yang Jarang Diketahui"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baru-baru ini penulis membaca sebuat artikel di Terminal Mojok yang membahas peninggalan kolonial Belanda di Jember milik<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/adhitiya-prasta-pratama\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\"> <b>Adhitiya Prasta Pratama<\/b><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Hal tersebut membuat penulis ingin membuat tulisan tandingan berkaitan hal serupa yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Mengingat di Bumi Blambangan beragam peninggalan masa kolonial tampaknya juga cukup melimpah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mulai dari perkebunan yang saat ini sudah dinasionalisasikan oleh BUMN melalui PTPN-nya atau bangunan-bangunan yang pada mestinya memiliki cerita panjang. Namun, kini harus berubah jadi usang lantaran kurang perawatan yang dilakukan. Berbicara tentang kolonial di Banyuwangi tentu bakal mengulik beragam fragmen cerita di masa tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Diakui atau tidak, nyatanya bangsa Belanda memberikan peninggalan yang banyak dan masih kita nikmati sampai saat ini. Tulisan ini akan mengangkat beberapa peninggalan Belanda yang jarang diketahui masyarakat di Banyuwangi.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Pabrik gula<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Industri gula sempat merajai ekspor Hindia Belanda pada akhir abad ke-19 hingga tiga dekade awal abad ke-20. Di Banyuwangi pernah didirikan tiga pabrik gula yaitu di Kecamatan Kabat, Kecamatan Rogojampi, dan Soekowidi Kecamatan Kalipuro. Pabrik gula kabat dengan nomor registrasi 131 di bawah perusahan Maatch Tot Expl der Suikerfabriek Kabat, di bawah kepemilikan Jbr AB van Haeften.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_169319\" aria-describedby=\"caption-attachment-169319\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-169319\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Tebu.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Tebu.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Tebu-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Tebu-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Tebu-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-169319\" class=\"wp-caption-text\">Tebu (Pixabay.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/kumparan.com\/banyuwangi_connect\/pabrik-gula-kabat-pertama-berdiri-di-banyuwangi-tahun-1891\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Pabrik gula Kabat<\/a> yang berdiri 1891 memiliki luas lahan tebu 394 bouw dan pada 1915 memiliki luas lahan tebu 684 bouw. Pabrik gula Kabat atau disebut Suikerfabriek Kabat [Sf.Kabat] merupakan pabrik gula setelah masa tanam paksa (cultuurstelsel) karena pada masa tersebut hanya ada 75 pabrik gula di Jawa. Selebihnya sampai terdapat sekitar 195 pabrik gula merupakan konsesi yang terbit setelah tanam paksa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pabrik Gula Kabat dibangun di zaman kolonial tahun 1891 bersamaan dibangunnya Pabrik Gula Rogojampi. PG Kabat berada di bawah kepemilikan Jbr AB van Haeften di Hindia Belanda. Akibat krisis gula dunia tahun 1918 pabrik gula ini mengalami kesulitan untuk bangkit karena harga gula di pasar internasional turun drastis yang disebabkan oleh banyaknya penyakit tebu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bangunan pabrik gula Kabat tepatnya berada di gudang elpiji di depan Kantor Kecamatan Kabat Kabupaten Banyuwangi. Di sana masih tersisa puing-puing pembongkaran cerobong asapnya. Jika ditelusuri dari belakang SD 3 Kabat (samping balai Desa Kabat) hingga ke selatan, masih tersisa rel lori untuk pengangkutan tebu dan hasil produksi.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Pabrik kopera<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak dahulu, Kabupaten Banyuwangi kaya akan buah kelapa. Sejarah menunjukkan kekayaan itu pernah dimanfaatkan Pemerintah Hindia Belanda saat mereka berkuasa. Tahun 1900-an, sejalan dengan pembangunan rel kereta api di Banyuwangi, berdiri pabrik pengolahan kopra untuk diolah menjadi minyak kelapa. Pabrik tersebut bernama N. V. Maatschappij tot Exploitatie van Olie-fabriek atau <a href=\"https:\/\/kabarbesuki.pikiran-rakyat.com\/berita\/pr-191096739\/pabrik-minyak-kelapa-mexolie-di-pantai-boom-jadi-kisah-tempo-dulu-majunya-kabupaten-banyuwangi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Mexolie.<\/a><\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_169320\" aria-describedby=\"caption-attachment-169320\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-169320\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Pohon-kelapa.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Pohon-kelapa.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Pohon-kelapa-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Pohon-kelapa-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Pohon-kelapa-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-169320\" class=\"wp-caption-text\">Pohon kelapa (Pixabay.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pabrik minyak kelapa Meloxie berlokasi di Pantai Boom Banyuwangi. Posisi pabrik terbilang strategis lantaran dekat Pelabuhan Banyuwangi. Juga tak jauh dari lokasi pabrik, terdapat stasiun kereta api. Bahan baku kelapa dibawa dalam kondisi sudah dikupas dan terpisah antara daging buah dengan batoknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kelapa itu kemudian dijemur di pelataran pabrik. Daging kelapa yang sudah kering itulah yang disebut kopra. Kopra-kopra itu, kemudian dicacah menggunakan mesin pencacah dan di-press atau diperas hingga keluar minyaknya. Setelah itu, minyak ditambahkan zat penjernih, biasanya dibuat dari arang dan kemudian diuapi dengan uap panas dari ketel atau tanki besar di dalam pabrik.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Mesin lokomotif uap<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika Anda berkunjung di PT Perkebunan Glenmore, Kabupaten Banyuwangi, Anda bisa menyaksikan proses pengolahan getah karet yang disadap dari pohon, hingga pengolahan karet mentah menggunakan teknologi peninggalan Kolonial Belanda. Pengunjung juga bisa menikmati peninggalan bangunan-bangunan bersejarah. Mulai kantor perkebunan bergaya Eropa hingga bekas kepala kereta (lokomotif ketel uap) yang masih terawat.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_169321\" aria-describedby=\"caption-attachment-169321\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"wp-image-169321 size-full\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/lokomotig.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/lokomotig.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/lokomotig-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/lokomotig-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/lokomotig-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-169321\" class=\"wp-caption-text\">Lokomotif (Pixabay.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lokasi perkebunan Glenmore tak jauh dari kantor Kecamatan Glenmore, tepatnya berada di Desa Margomulyo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi. Untuk menuju tempat tersebut tidak dikenakan tiket masuk dan parkir.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan catatan yang ada di Perkebunan Glenmore, sistem produksi menggunakan tenaga ketel uap pada 1920. Namun, berkembang dengan sistem listrik dari turbin pada 1928. Perkebunan ini dibangun oleh Ros Taylor, pengusaha asal Skotlandia yang mendapat izin konsesi dari pemerintah Hindia Belanda.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perusahaan perkebunan swasta itu masih merawat dengan baik peninggalan mesin lokomotif ketel uap yang ditaruh di halaman pabrik perkebunan, dan menjadi daya tarik bagi wisatawan. Awalnya mesin tersebut berada di dalam, dijadikan sirine untuk pekerja. Baru pada medio 1990 dipindah di luar ruangan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah beberapa peninggalan Belanda yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Jika kalian kebetulan sedang berkunjung di kota ini, tak ada salahnya untuk menyambangi peninggalan-peninggalan bersejarah ini.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Fareh Hariyanto<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nguri-uri sejarah.<\/p>\n","protected":false},"author":664,"featured_media":169318,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[6216,15072,1944],"class_list":["post-169239","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-banyuwangi","tag-peninggalan-belanda","tag-sejarah"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/169239","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/664"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=169239"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/169239\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/169318"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=169239"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=169239"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=169239"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}