{"id":169143,"date":"2022-03-20T15:00:45","date_gmt":"2022-03-20T08:00:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=169143"},"modified":"2022-03-20T14:32:02","modified_gmt":"2022-03-20T07:32:02","slug":"branding-madiun-kampung-pesilat-indonesia-yang-berlebihan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/branding-madiun-kampung-pesilat-indonesia-yang-berlebihan\/","title":{"rendered":"Branding Madiun Kampung Pesilat Indonesia yang Berlebihan"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><em>Madiun memang punya banyak padepokan silat, tapi, branding kampung pesilat sepertinya perlu direvisi lagi<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Google, branding adalah merek yang digunakan sebagai tanda pengenal. Biar kelihatan ngakademis, kalau kita merujuk pada penelitian Muktiali, (2008) mengungkapkan kalau brand dalam suatu wilayah\/kota merupakan hal unik dan sangat kompleks. Di dalamnya tidak hanya membicarakan mengenai bangunan\/gedung, logo, dan slogan, tetapi juga masyarakat beserta kebiasaaanya.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_169373\" aria-describedby=\"caption-attachment-169373\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-169373\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_370248212.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_370248212.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_370248212-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_370248212-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_370248212-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-169373\" class=\"wp-caption-text\">Siluet pendekar (Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, branding yang akan kita kulik kali ini adalah branding Madiun. Madiun punya branding tersendiri, yaitu kampung pesilat Indonesia. Bagi kalian yang tahu tentang silat, pasti setuju atau merasa wajar jika kota tersebut mem-branding dirinya sebagai kota pesilat. Tapi, menurut saya, jujur branding ini berlebihan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum kalian protes, biarkan saya menjelaskan pendapat saya. Semoga kita bisa saling menerima ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kenapa saya pikir branding ini berlebihan, pertama, karena branding ini hanya wah dan sangar saat launching saja. Sejauh yang saya lihat, komitmen dan efektivitas branding ini belum terlihat dan perlu dipertanyakan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dilihat dari peluncuran lagu \u201c<a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=s8pCtOT6GCo\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Kampung Pesilat Nguatne Ati<\/a>\u201d dan pembangunan <a href=\"https:\/\/id.worldorgs.com\/katalog\/madiun\/klub-seni-bela-diri\/gedung-padepokan-madiun-kampung-silat\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Padepokan Madiun Kampung Pesilat<\/a>, ya keliatan serius. Tapi, setelah itu, gimana? Kalau hanya kulit, ya percuma.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_169374\" aria-describedby=\"caption-attachment-169374\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-169374\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_1856070667.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_1856070667.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_1856070667-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_1856070667-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_1856070667-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-169374\" class=\"wp-caption-text\">Pesilat sabung (Ahmad Saifulloh via Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kedua, <a href=\"https:\/\/www.vice.com\/id\/article\/xgz78q\/sejarah-konflik-perguruan-silat-setia-hati-terate-dan-tunas-muda-winongo-madiun\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">konflik antar-perguruan silat<\/a> yang masih terjadi. Di Madiun, banyak perguruan silat. Tapi, alih-alih kuat citranya sebagai penghasil pendekar dengan jiwa yang kuat, yang sering terdengar adalah konflik antar-perguruan. Ya memang itu hanya oknum, tapi masalahnya kok ya dari dulu selalu ada gitu lho.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang, tak adil jika kita bicara hal yang negatif terus. Tapi, tak bisa menyalahkan juga jika orang mengecap negatif, sebab, dari dulu masalahnya nggak selesai-selesai.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya mau cerita sedikit, biar kalian paham kenapa konflik perguruan ini penting untuk evaluasi branding. Tiap Suro, saya menyaksikan bentrokan tersebut. Ya gimana, wong terjadinya di desa saya. Desa saya selalu dibangun pos polisi tiap Suro, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, meski sudah banyak aparat yang menjaga agar konflik tetap tak terjadi, gesekan dan bentrokan tetap saja terjadi. Sekarang memang intensitasnya menurun, tapi tetap saja ada satu-dua kejadian bentrokan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, branding kampung pesilat tersebut malah jadi terasa aneh kalau dilihat. Sebab, yang dijadiin branding justru bersikap seperti itu. Ya saya tahu itu oknum, tapi, masak kejadian terus?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketiga, meski daerah ini menggaungkan dirinya sebagai Kampung Pesilat Indonesia, namun atlet yang membawa pulang medali emas pada perhelatan pencak silat Asian Games 2018, tak ada yang berasal dari Madiun. Yaaa sejauh saya mencari informasi sih nggak ada. Tentu hal ini menunjukkan harus adanya pembenahan dalam standar kompetensi atau kepelatihan pencak silat di Madiun. Tapi saya yakin, pasti ada satu dua atau lebih pesilat dari kampung pesilat yang berprestasi dan tentunya saya sangat senang serta turut mengapresiasi.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_169375\" aria-describedby=\"caption-attachment-169375\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-169375\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_1666806268.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_1666806268.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_1666806268-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_1666806268-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_1666806268-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-169375\" class=\"wp-caption-text\">Jurus (Muhammad Solikin via Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Agar branding ini tak terlihat berlebihan, tentu harus ada pembenahan dari banyak lini, penguatan regulasi, dan fasilitas yang harus benar benar dipikirkan oleh pemerintah. Branding sebaiknya tak berakhir jadi kulit, namun harus meresap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ajaran dari pencak silat adalah menjadi manusia yang tahu benar dan salah, membela kebenaran, dan setia pada moral. Jika konflik yang terus muncul, rasanya miris. Padahal Madiun bisa jadi contoh untuk daerah lain, bahwa dari silat, mereka bisa menciptakan SDM yang unggul dan punya moral compass yang kuat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Semoga keluh kesah saya dapat diterima. Salam damai Madiunku.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Geza Xiau<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Branding jangan hanya jadi kulit.<\/p>\n","protected":false},"author":1795,"featured_media":169371,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[10506,15080,2104,7438],"class_list":["post-169143","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-branding","tag-kampung-pesilat","tag-konflik","tag-madiun"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/169143","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1795"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=169143"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/169143\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/169371"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=169143"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=169143"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=169143"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}