{"id":168680,"date":"2022-03-24T10:15:28","date_gmt":"2022-03-24T03:15:28","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=168680"},"modified":"2022-03-24T02:29:47","modified_gmt":"2022-03-23T19:29:47","slug":"5-wisata-religi-di-gunungkidul-yang-sebaiknya-dikunjungi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/5-wisata-religi-di-gunungkidul-yang-sebaiknya-dikunjungi\/","title":{"rendered":"5 Wisata Religi di Gunungkidul yang Sebaiknya Dikunjungi"},"content":{"rendered":"<p><em>Sedang mencari destinasi wisata baru? Bisa coba mengunjungi lima tempat wisata religi di Gunungkidul berikut ini<\/em><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengunjungi Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta, memang kurang lengkap rasanya jika belum datang ke pantai selatan. Banyak sekali<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-pantai-di-gunungkidul-yang-cocok-dikunjungi-rombongan-maba\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">pantai di Gunungkidul<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> yang memiliki panorama alam indah dan memanjakan mata. Hal ini yang kemudian membuat tanah kelahiran saya ini selalu ramai dikunjungi para wisatawan dari berbagai daerah saat akhir pekan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tidak hanya wisata alam, ada sejumlah tempat di Gunungkidul yang kerap dijadikan wisata religi. Biasanya, wisata religi di Gunungkidul berupa makam, petilasan, dan situs-situs bersejarah lainnya. Buat kamu yang ingin menikmati keindahan alam Gunungkidul sekaligus berwisata religi, berikut sejumlah tempat yang sebaiknya dikunjungi, antara lain:<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Gua Maria Tritis<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gua Maria Tritis menjadi salah satu gua di Gunungkidul yang paling ramai dikunjungi. Tidak hanya menawarkan keindahan di dalam gua yang masih alami, gua ini juga kerap dijadikan wisata religi. Selain itu, Gua Maria Tritis juga digunakan sebagai tempat peribadatan besar umat Katolik di Daerah Istimewa Yogyakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konon, gua yang berada di Dusun Bulu, Desa Giring, Kecamatan Paliyan, Gunungkidul, ini dulunya digunakan untuk bertapa oleh pangeran-pangeran dari Kerajaan Mataram. Kemudian pada 1977, gua ini resmi dijadikan tempat ziarah dan berdoa.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_170030\" aria-describedby=\"caption-attachment-170030\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-170030\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Bramanyuro-gua-maria-tritis-shutterstock.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Bramanyuro-gua-maria-tritis-shutterstock.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Bramanyuro-gua-maria-tritis-shutterstock-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Bramanyuro-gua-maria-tritis-shutterstock-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/Bramanyuro-gua-maria-tritis-shutterstock-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-170030\" class=\"wp-caption-text\">Gua Maria Tritis (Bramanyuro via Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski dijadikan tempat peribadatan umat Katolik, banyak sekali wisatawan dari agama lain yang mengunjungi tempat ini. Suasananya yang tenang dan sejuk, membuat para pengunjung betah untuk menikmati berlama-lama di dalam gua yang kental dengan nuansa religi ini.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Pasarean Ki Ageng Giring III<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai orang yang tinggal di Gunungkidul, saya kerap meluangkan waktu untuk berziarah ke<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/susul\/makam-di-dusun-sodo-dan-kisah-pencarian-wangsit-mataram-islam\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Pasarean Ki Ageng Giring III<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Makam ini berada sekitar 7 kilometer dari pusat Kota Wonosari, tepatnya di Desa Sodo, Kecamatan Paliyan, Gunungkidul. Hampir setiap hari, wisata religi di Gunungkidul satu ini ramai dikunjungi para perziarah, terlebih pada hari-hari tertentu, seperti malam Jumat dan menjelang Ramadhan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ki Ageng Giring III sendiri merupakan keturunan Ki Ageng Giring, sosok perintis berdirinya Kerajaan Mataram Yogyakarta. Dalam sebuah legenda, diceritakan bahwa ia pernah mendapatkan bisikin gaib saat memetik kelapa muda. Konon, orang yang meminum air kelapa itu, kelak keturunannya akan menjadi raja-raja di tanah Jawa. Singkat cerita, ternyata orang yang meminum air kelapa itu bukan dirinya, melainkan Ki Ageng Pemanahan, sahabatnya sendiri.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_170031\" aria-describedby=\"caption-attachment-170031\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-170031\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/kelapa-muda.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/kelapa-muda.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/kelapa-muda-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/kelapa-muda-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/kelapa-muda-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-170031\" class=\"wp-caption-text\">Kelapa (Pixabay.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari itu, Pasarean Ki Ageng Giring III menjadi salah satu destinasi wisata religi di Gunungkidul yang menarik dikunjungi. Nantinya, pengunjung juga dapat berbincang-bincang hangat dengan juru kunci yang selalu bersedia menerangkan mengenai sejarah dan makam siapa saja yang di komplek makam bersejarah ini.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Petilasan Kembang Lampir<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Petilasan Kembang Lampir adalah salah satu peninggalan Kerajaan Mataram yang ada di Gunungkidul. Konon, petilasan yang terletak di Dusun Blimbing, Desa Girisekar, Kecamatan Panggang, Gunungkidul, ini dulunya tempat pertapaan Ki Ageng Pemanahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam Babad Tanah Jawi, Ki Ageng Pemanahan adalah tokoh keturunan Raja Brawijaya V yang juga murid dari Sunan Kalijaga. Konon, Ki Ageng Pemanahan pernah diminta oleh Sunan Kalijaga untuk bertirakat atau bertapa di Kembang Lampir guna memperoleh petunjuk mengenai pemimpin yang tepat untuk Kerajaan Mataram.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di samping itu, kisah Ki Ageng Pemanahan juga sering dikaitkan dengan sahabatnya yang juga murid Sunan Kalijaga, yakni Ki Ageng Giring III. Benar, Ki Ageng Giring yang kisahnya sudah saya tuliskan di beberapa paragraf sebelumnya.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_170032\" aria-describedby=\"caption-attachment-170032\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-170032\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_2048630384.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_2048630384.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_2048630384-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_2048630384-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_2048630384-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-170032\" class=\"wp-caption-text\">Ilustrasi Sunan Kalijaga (Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari itu, saat ini Petilasan Kembang Lampir kerap dikunjungi oleh para wisatawan. Tidak hanya sarat akan nilai-nilai sejarah dan budaya, tempat ini juga dipenuhi pohon-pohon rindang yang menyejukkan.<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 Masjid Tiban Ngawen<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wisata religi di Gunungkidul yang sebaiknya dikunjungi selanjutnya, yaitu<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/liputan\/susul\/masjid-tiban-gunungkidul-masjid-mistis-peninggalan-murid-sunan-pandanaran\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Masjid Tiban<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\">. Masjid yang berada di Dusun Gambarsari, Desa Jurangjero, Kecamatan Ngawen, Gunungkidul, ini konon merupakan <a href=\"https:\/\/kabarhandayani.com\/mengenal-masjid-tiban-masjid-panggung-beratap-ilalang-di-gunungkidul\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">peninggalan murid Sunan Pandanaran<\/a>. Meski begitu, tidak ada yang tahu kapan dan siapa yang membangun masjid yang memiliki bentuk menyerupai honai, rumah adat Papua ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masjid Tiban sendiri memiliki ukuran sekitar 4X4 meter dengan dinding berupa anyaman bambu atau gedek. Sementara, atap masjid ini berupa rumput ilalang yang dikeringkan. Di depan masjid terdapat tempat wudu atau padasan yang sudah ada sejak masjid ini berdiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada banyak sekali cerita mistis tentang Masjid Tiban. Konon, dulunya ada salah seorang warga yang mengambil padasan tersebut dan dibawa pulang ke rumahnya. Namun, saat hendak digunakan tiba-tiba tempat wudu itu hilang dan sudah kembali ke tempat semula, yaitu di depan Masjid Tiban.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlepas dari itu, kini Masjid Tiban cukup banyak dikunjungi oleh wisatawan. Tidak sedikit juga para pejabat dan tokoh masyarakat yang kerap memanjatkan doa di masjid legendaris ini.<\/span><\/p>\n<h4><b>#5 Petilasan Gunung Tutup<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Petilasan Gunung Tutup juga menjadi salah satu wisata religi di Gunungkidul yang ramai dikunjungi para peziarah. Biasanya, pengunjung akan datang pada hari-hari tertentu, seperti Malam Jumat Kliwon dan Selasa Kliwon.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gunung Tutup sendiri terletak di Dusun Gedaren 1, Desa Sumbergiri, Kecamatan Ponjong, Gunungkidul. Konon, tempat ini merupakan petilasan Eyang Mangun Kusumo, seorang tokoh keturunan dari Pangeran Samber Nyawa. Tidak hanya sarat akan nilai-nilai sejarah, tempat ini juga dikelilingi pohon-pohon rindang dan panorama alam yang memesona.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, petilasan yang diresmikan pada 1956 ini, juga terdapat sebuah rumah joglo, batu, prasasti, pusaka, dan gapura bersejarah. Hal ini yang kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah beberapa wisata religi di Gunungkidul yang wajib dikunjungi. Kalau kalian sedang berkunjung di Gunungkidul, sebaiknya sempatkan untuk menyambangi tempat wisata ini. Gas!<\/span><\/p>\n<p>Penulis:\u00a0<span data-sheets-value=\"{&quot;1&quot;:2,&quot;2&quot;:&quot;Jevi Adhi Nugraha&quot;}\" data-sheets-userformat=\"{&quot;2&quot;:513,&quot;3&quot;:{&quot;1&quot;:0},&quot;12&quot;:0}\">Jevi Adhi Nugraha<\/span><br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dolan ngidul, Lur!<\/p>\n","protected":false},"author":547,"featured_media":170033,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[15128,5281,15127,14319],"class_list":["post-168680","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-gua-maria-tritis","tag-gunungkidul","tag-masjid-tiban","tag-wisata-religi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/168680","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/547"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=168680"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/168680\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/170033"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=168680"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=168680"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=168680"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}