{"id":168270,"date":"2022-03-10T07:00:47","date_gmt":"2022-03-10T00:00:47","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=168270"},"modified":"2022-03-11T12:21:52","modified_gmt":"2022-03-11T05:21:52","slug":"beragam-keanehan-pertimbangan-hakim-dalam-kasus-korupsi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/beragam-keanehan-pertimbangan-hakim-dalam-kasus-korupsi\/","title":{"rendered":"Beragam Keanehan Pertimbangan Hakim dalam Kasus Korupsi"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tengah isu korupsi yang tak kunjung mereda, fenomena pemangkasan hukuman yang dilakukan oleh hakim terhadap para koruptor semakin banyak menyita perhatian publik. Tidak hanya soal lama hukuman penjara atau denda yang dijatuhkan, tetapi pertimbangan hakim dalam mengurangi hukuman tersebut tak jarang memicu berbagai komentar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Paling mutakhir, Kamis (10\/3) hakim di Mahkamah Agung mengurangi hukuman pelaku korupsi kebijakan ekspor benur sekaligus mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo pada peradilan tingkat kasasi. Hukuman penjara yang semula dijatuhkan selama 9 tahun, dipotong hanya menjadi 5 tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Peneliti Pusat Kajian Antikorupsi (PUKAT) FH UGM, Yuris Rezha Kurniawan menilai hal tersebut merupakan kelanjutan dari tren buruk putusan Mahkamah Agung dalam memberikan vonis terhadap pelaku korupsi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBeberapa tahun terakhir, peradilan kita memang memiliki tren agak buruk dengan seringnya mengurangi hukuman para pelaku korupsi,\u201d ujar Yuris. <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">Dari berbagai putusan yang mengurangi hukuman pelaku korupsi tersebut, banyak pertimbangan hakim yang menurutnya cenderung tidak relevan dan terkesan dipaksakan.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_168272\" aria-describedby=\"caption-attachment-168272\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-168272\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_717005518.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_717005518.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_717005518-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_717005518-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_717005518-560x354.jpg 560w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_717005518-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-168272\" class=\"wp-caption-text\">Melakukan transaksi keuangan di bawah meja (Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><b><i>Pertama,<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> ia mencontohkan pertimbangan hakim dalam putusan kasasi Edhy Prabowo. Hakim mengurangi hukuman Edhy Prabowo karena menilai Edhy telah berkinerja baik selama menjabat menteri.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJustru (pertimbangan hakim) itu sangat kontradiktif. Kasus korupsi Edhy Prabowo ini kan muasalnya dari kebijakan yang dia tetapkan saat menjadi menteri. Sejumlah uang dari pengusaha yang dia terima secara tidak langsung difasilitasi oleh kebijakan yang dia rancang.\u201d<\/span><\/p>\n<p><b><i>Kedua,<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> pertimbangan hakim lain yang mendapat sorotan serupa adalah pengurangan hukuman salah satu pelaku korupsi penerbitan red notice, Jaksa Pinangki. Pada tingkat banding, hakim mengurangi hukuman Pinangki dengan alasan pelaku merupakan seorang perempuan yang mempunyai balita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAlasan ini kan juga terkesan sangat dipaksakan, ya. Karena banyak pelaku kasus lain yang berada dalam situasi tersebut, tapi tidak mendapatkan pertimbangan yang sama,\u201d sebut Yuris.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yuris juga menambahkan, justru dalam kasus Pinangki ini seharusnya hakim melihat lebih banyak alasan yang memberatkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApa yang dilakukan Pinangki ini kan bisa saja disebut sebagai mafia hukum. Dia seorang penegak hukum, tetapi justru mengakali hukum sehingga menyusahkan negara dalam mengejar seorang buronan. Seharusnya ini menjadi alasan yang memberatkan dalam pertimbangan hakim.\u201d<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_168274\" aria-describedby=\"caption-attachment-168274\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-168274\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_633750290.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_633750290.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_633750290-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_633750290-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_633750290-560x354.jpg 560w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_633750290-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-168274\" class=\"wp-caption-text\">Dewi Keadilan (Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><b><i>Ketiga,<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> pelaku utama dalam kasus yang melibatkan Jaksa Pinangki, yaitu Djoko Tjandra. Ia juga mendapatkan potongan hukuman satu tahun masa penjara lebih singkat oleh hakim Pengadilan Tinggi Jakarta. Mulanya, Djoko Tjandra telah divonis 2 tahun penjara pada 2009 dalam kasus Bank Bali. Namun, dirinya berhasil kabur dan menjadi buron tanpa sempat dieksekusi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada 2021, Djoko Tjandra kembali menjadi tersangka korupsi karena menyuap beberapa aparat penegak hukum agar dapat meloloskan dirinya dari kasus lamanya. Hakim sempat memotong lama hukuman penjara Djoko Tjandra. Alasan yang meringankan adalah karena Djoko Tjandra sudah menjalani pidana untuk kasus lamanya yaitu kasus Bank Bali.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPertimbangan hakim saat mengurangi hukuman dalam kasus Djoko Tjandra ini kan juga seperti terbolak-balik. Seseorang yang terbukti melakukan korupsi secara berulang, seharusnya ditempatkan sebagai alasan yang memperberat. Ini malah jadi alasan yang meringankan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yuris juga menyebut apabila merujuk pada undang-undang tindak pidana korupsi yang berlaku, seseorang yang melakukan korupsi secara berulang bahkan dapat dituntut dengan pidana mati. Atas dasar ini, ia menilai alasan meringankan hakim dalam kasus Djoko Tjandra menjadi kurang masuk akal.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Keempat,<\/i><\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah korting hukuman perkara suap terpidana Fahmi Darmawansyah kepada Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Sukamiskin, Wahid Husen. Fahmi adalah terpidana kasus korupsi Bakamla yang mendekam di Lapas Sukamiskin. Namun, saat menjalani hukumannya ia berhasil mendapatkan perlakuan khusus dengan membangun sel mewah. Perbuatannya tersebut dapat dilakukan karena dirinya menyuap Wahid Husen dengan sejumlah uang dan berbagai barang mewah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam putusan peninjauan kembali yang diajukan oleh Fahmi, hakim Mahkamah Agung memberikan keringanan hukuman. Salah satu pertimbangan yang mengusik adalah hakim menilai bahwa pemberian Fahmi kepada Kalapas Sukamiskin merupakan bentuk kedermawanan.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_168271\" aria-describedby=\"caption-attachment-168271\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-168271\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_593305634.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_593305634.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_593305634-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_593305634-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_593305634-560x354.jpg 560w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/03\/shutterstock_593305634-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-168271\" class=\"wp-caption-text\">Bersalaman dengan uang di tangan (Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi Yuris, pertimbangan hakim tersebut secara telak merusak makna dermawan yang berusaha dikait-kaitan dalam praktik suap.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApabila semua pemberian kepada pejabat tertentu, padahal secara jelas terlihat ada maksud dan tujuan untuk keuntungan pribadi seperti itu dimaknai sebagai bentuk kedermawanan, saya berpikir tidak akan ada pelaku korupsi yang akan dihukum.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yuris menyebut tafsir kedermawanan yang dijadikan pertimbangan hakim untuk meringankan vonis Fahmi ini dapat menyesatkan publik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHal ini bisa berpotensi menyesatkan dan menormalisasi perilaku suap di masyarakat.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan, ia juga berusaha menduga-duga hubungan antara pertimbangan hakim dengan nama pelaku.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cApa mungkin pertimbangan hakim ini muncul begitu saja hanya karena kebetulan nama pelakunya memiliki unsur kata dermawan?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat fenomena di atas, Yuris beranggapan bahwa upaya negara dalam memberantas korupsi akan sangat berat apabila tidak didukung dengan sistem peradilan yang baik. Dirinya menyebut bahwa praktik penegakan hukum yang tidak serius terhadap kejahatan korupsi tidak akan menimbulkan efek jera bagi masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAlhasil, orang-orang yang hari ini sedang merancang niat untuk korupsi tidak akan takut dengan hukuman. Bahkan sudah banyak juga yang menganggap korupsi ini seperti berdagang. Mengambil untung dari praktik korupsi sebanyak-banyaknya, agar bisa menambal risiko-risiko hukum yang nanti akan dihadapi. Sangat mengerikan,\u201d tutur Yuris.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Audian Laili<br \/>\nEditor: Audian Laili<\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini.<\/a><\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Potong teruuusss~<\/p>\n","protected":false},"author":408,"featured_media":168273,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12905],"tags":[4884,3306,1115],"class_list":["post-168270","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-politik","tag-edhy-prabowo","tag-hukum","tag-korupsi"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/168270","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/408"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=168270"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/168270\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/168273"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=168270"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=168270"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=168270"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}