{"id":166698,"date":"2022-02-28T14:15:01","date_gmt":"2022-02-28T07:15:01","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=166698"},"modified":"2022-02-28T11:03:47","modified_gmt":"2022-02-28T04:03:47","slug":"4-perbedaan-kuliah-s1-di-jepang-dan-indonesia","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/4-perbedaan-kuliah-s1-di-jepang-dan-indonesia\/","title":{"rendered":"4 Perbedaan Kuliah S1 di Jepang dan Indonesia"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliah S-1 di Jepang dan Indonesia itu mungkin tak banyak bedanya. Sewaktu di Jepang, saya sering mengobrol dengan teman Jepang tentang kuliah S-1-nya. Saya sempat mengambil kuliah umum anak S-1 karena kebetulan mata kuliahnya adalah dasar kuliah S-2 yang saya ambil. Saya dulu juga pernah bekerja paruh waktu menjadi asisten dosen mata kuliah anak S-1 di kampus Jepang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, kalau dibilang sama persis, ya nggak. Ada beberapa perbedaan yang kentara. Agar paham, saya akan jelaskan semuanya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Kuliah<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliah di Jepang rata-rata dimulai jam sembilan. Itu hitungannya pagi lho, Gaes, karena masuk sekolah saja jam 8.30-an. Kuliah paling sore selesai sekitar jam lima. Untuk kuliahnya, sama seperti di Indonesia, kok. Mendengarkan dosen ceramah, diskusi, presentasi kelompok, tugas, dll.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kuliah di ruangan besar, biasanya kursi di depan jarang terisi. Kalau ini mah sama ya. Hehehe. Di Jepang, dari SD sampai kuliah, rata-rata papan tulisnya berwarna hijau dan memakai kapur. Panjang papan tulisnya selebar ruangan belajar, pokoknya besar sekali. Ada juga yang white board, tapi tak sebanyak di Indonesia. Di Indonesia SD saja sudah kenal whiteboard, malah sekarang jarang pakai yang berkapur kan?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, ya hampir sama saja. Kuliah S-1 di Jepang, dari KBM, hampir sama. Cuman bedanya gini. Kalau di Indonesia, mahasiswa tidur di kelas itu bisa jadi masalah. Tapi, di Jepang, nggak masalah. Mending tidur ketimbang ngobrol.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_166749\" aria-describedby=\"caption-attachment-166749\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-166749\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_2008143782-1.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_2008143782-1.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_2008143782-1-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_2008143782-1-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_2008143782-1-560x354.jpg 560w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_2008143782-1-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-166749\" class=\"wp-caption-text\">Kegiatan belajar (Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Plus, jarang banget saya liat mahasiswa akamsi Jepang yang nongkrong santai gitu. Mereka isinya diskusi dan nugas. Kayaknya juga nggak ada abang-abang kekiri-kirian di Jepang.<\/span><\/p>\n<h4><span style=\"font-weight: 400;\">#<\/span><b>2 Tahun terakhir kuliah<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sistem kuliah S-1 di Jepang bikin kalian akan lulus pas empat tahun. Jarang ada yang lulus duluan secara tiba-tiba atau molor sampe masuk injury time.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada tahun terakhir, mereka mulai masuk zemi (semacam bimbingan dosen dengan fokus tema penelitian tertentu) dan mendiskusikan tentang apa yang pengin diteliti. Biasanya seminggu sekali mereka akan mengadakan semacam seminar zemi, membahas tentang tema\/fokus penelitian, referensi yang digunakan, metodenya, dll. Seminar zemi ini biasanya bersama dengan mahasiswa lain sebimbingan, kok. Jadi, selain diberi masukan oleh dosen pembimbing, mahasiswa lain juga boleh memberi saran atau pendapatnya. Seru lho bimbingan ramai-ramai gini, Gaes.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di tahun terakhir, selain skripsi, mahasiswa Jepang juga akan mulai sibuk dengan kegiatan shuukatsu (shuushoku-katsudou) alias mencari pekerjaan. Mereka akan disibukkan dengan mengikuti seminar persiapan melamar pekerjaan, seperti membuat CV, melamar, dan wawancara pekerjaan. Tak kaget kalau pada banyak yang dapet kerja sebelum lulus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Malah, teman Jepang S-2 saya dulu diterima sebagai PNS sebelum wisuda. Jadi, bulan Maret wisuda, Aprilnya sudah mulai bekerja di instansi pemerintah.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_166747\" aria-describedby=\"caption-attachment-166747\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-166747\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_1067812562.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_1067812562.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_1067812562-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_1067812562-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_1067812562-560x354.jpg 560w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_1067812562-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-166747\" class=\"wp-caption-text\">Pekerja di Jepang (Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Enak dong kalau begitu? Ya, setidaknya setelah lulus langsung bekerja, tanpa jeda. Kalau yang gagal, biasanya mereka akan mencoba terus sampai dapat pekerjaan tetap atau menunggu sambil bekerja paruh waktu atau dengan sistem kontrak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">BTW, PNS di Jepang nggak main Zuma. Saya tahu pertanyaan yang terlintas di pikiran kalian.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Skripsi atau tugas akhir<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin ini agak berbeda dengan zaman saya S-1. Dulu, saat sidang skripsi, saya diuji tiga dosen penguji. Nah, kalau di Jepang, bukan seperti itu ya, Gaes.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Biasanya mahasiswa sejurusan akan \u201cdisidang\u201d bersama di depan dosen-dosen sejurusan. Mahasiswa lain juga boleh melihat sidang ini, lho. Mahasiswa yang akan lulus diberi waktu tertentu (biasanya tak sampai setengah jam) untuk presentasi dan menjawab pertanyaan dari dosen-dosen.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wah enak ya bareng-bareng?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sama saja sih, deg-degannya. Kita juga nggak bisa memprediksi pertanyaan dari dosen tetapi harus menjawabnya sebaik mungkin. Kalau mahasiswa asing, pressurenya juga pada kemampuan bahasa Jepang ini. Yang jelas, meskipun bareng-bareng, punya medan perjuangannya sendiri-sendiri, kok.<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 KKN<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada KKN nggak di Jepang?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau dikatakan sebulan sampai dua bulan tinggal di wilayah KKN dan berkegiatan volunteer di sana, tentu saja tidak ada. Akan tetapi, ada kok kegiatan volunteer ini di Jepang. Tentu saja mekanisme berbeda. Biasanya kegiatan ini berbayar dan akan diganti setelah program volunteer selesai. Kegiatan ini resmi program kampus, jadi tetap bisa diandalkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemudian, ada juga magang atau internship untuk jurusan tertentu. Waktunya biasanya kurang dari sebulan atau tergantung programnya juga. Dulu sewaktu saya kuliah S-1 di Sastra Jepang, kami kedatangan juga rombongan mahasiswa asing beserta dosennya yang melakukan kegiatan volunteer di desa pasca-gempa bumi Bantul 2006. Meski kegiatan ini resmi diizinkan oleh kampus, sepertinya bukan program wajib bagi semua mahasiswa kampus tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah terbayang, kan, bagaimana kuliah S-1 di Jepang?<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_166751\" aria-describedby=\"caption-attachment-166751\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-166751\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_560882674.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_560882674.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_560882674-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_560882674-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_560882674-560x354.jpg 560w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_560882674-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-166751\" class=\"wp-caption-text\">Selfie dolo di Shibuya (Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sayangnya kalau kita kuliah di universitas Jepang bukan jurusan internasional, mau nggak mau memang bahasa pengantarnya bahasa Jepang. Ceramah dosen, presentasi, diskusi, tugas dan laporan, semua dalam bahasa Jepang. Yap, ada suka dukanya, kok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">By the way, jarang nama orang Jepang ber-embel-embel gelar pendidikannya, lho. Lulusan doktoral saja, jarang yang memakai tambahan gelar Sarjana blablabla, Master blablabla, Doktor bla bla\/PhD, dll.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tertarik kuliah S-1 di Jepang nggak, Gaes?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Primasari N Dewi<\/p>\n<p>Editor: Rizky Prasetya<\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nggak ada Naruto di kampus, dah nggak usah nanya.<\/p>\n","protected":false},"author":1543,"featured_media":166746,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13086],"tags":[31,1213,436,14961],"class_list":["post-166698","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-luar-negeri","tag-indonesia","tag-jepang","tag-kuliah","tag-s-1"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/166698","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1543"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=166698"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/166698\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/166746"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=166698"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=166698"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=166698"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}