{"id":16667,"date":"2019-10-12T07:50:13","date_gmt":"2019-10-12T00:50:13","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=16667"},"modified":"2019-10-11T16:59:59","modified_gmt":"2019-10-11T09:59:59","slug":"mixtape-untuk-rakyat-yang-sakit-hati-karena-negara","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mixtape-untuk-rakyat-yang-sakit-hati-karena-negara\/","title":{"rendered":"Mixtape Untuk Rakyat yang Sakit Hati Karena Negara"},"content":{"rendered":"<p>Entah kutukan apa yang sedang menimpa negara ini, kok cobaan nggak ada selesainya. Coba kita runut beberapa pekan ke belakang saja, ada banyak banget hal-hal yang bikin pusing kita sebagai warga negara. Mulai dari <a href=\"https:\/\/tirto.id\/betapa-bobroknya-peninggalan-dpr-ri-periode-2014-2019-ei1w\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">kinerja DPR RI periode 2014-2019<\/a> yang bikin beberapa kebijakan ngawur menjelang masa akhir jabatannya, demonstrasi mahasiswa yang sampai menelan korban jiwa di beberapa tempat, tindakan represif aparat kepolisian pada mahasiswa dan jurnalis, hingga lambatnya pihak eksekutif dalam menangani kejadian-kejadian di atas.<\/p>\n<p>Soal kinerja DPR RI yang terkesan terburu-buru dalam membuat kebijakan, ini memang dilematis. Lha gimana, dari sebelumnya sudah disinggung kalau kinerja DPR periode ini memang lambat. Selama lima tahun menjabat, dari 189 RUU target selama 5 tahun DPR baru mengesahkan 80 an UU (40% an) itupun UU yang dibentuk mayoritas adalah UU yang masuk kategori di luar prolegnas yaitu daftar kumulatif terbuka. Udah gitu, beberapa RUU yang disahkan juga problematis. Ditambah lagi, adanya RUU krusial yang harusnya segera disahkan malah dibiarkan. RUU PKS salah satunya.<\/p>\n<p>Itu baru soal kinerja DPR RI. Soal demonstrasi, ini lebih pelik lagi urusannya. Mahasiswa melakukan demonstrasi sebagai imbas dari beberapa kebijakan pemerintah yang dinilai nggak karuan. Di berbagai kota, mahasiswa turun ke jalan dengan tuntutan yang secara garis besar hampir serupa. Apesnya lagi, mahasiswa yang lagi demonstrasi justru mendapat perlakuan yang represif dari aparat. Bahkan, ada beberapa mahasiswa yang sampai meninggal. Kacau banget pokoknya.<\/p>\n<p>Nggak hanya mahasiswa, wartawan juga mendapatkan perlakuan represif dari aparat. Ada yang dipukul, gawainya dirampas, alat kerjanya dihancurkan, pokoknya ngawur lah kelakuan aparat pada wartawan. Udah gitu, pihak eksekutif malah mengeluarkan pernyataan yang nggak kalah ngawurnya. Bilang demonstrasinya ditunggangi lah, ada penumpang gelap lah, ada usaha penggagalan pelantikan presiden lah. Padahal juga nggak ada urusannya sama itu. Kelihatan banget cari-cari alasannya.<\/p>\n<p>Maka dari itu, saya coba untuk bikin <em>mixtape<\/em> untuk menyertai perjuangan rakyat, sekaligus menggambarkan perasaan rakyat saat ini. Monggo!<\/p>\n<h4>1. Merah<strong><em> \u2013 <\/em>Efek Rumah Kaca<\/strong><\/h4>\n<p>Lagu ini jadi salah satu lagu favorit saya di album Sinestesia (2015). Lagu ini ada tiga bagian yaitu <em>Ilmu Politik, Lara di Mana Mana, <\/em>dan <em>Ada Ada Saja. <\/em>Keren sih, istilahnya ada tiga lagu dalam satu lagu. Hah, gimana? Ya pokoknya tiga lagu jadi satu gitu. Kalau bingung coba dengarkan saja.<\/p>\n<p>Lirik yang paling menggambarkan gimana kelakuan DPR, aparat, dan pihak lembaga eksekutif yang sering nggak masuk akal ada di bagian <em>Ada Ada Saja. <\/em>Begini kutipan liriknya:<\/p>\n<p><em>Ada-ada saja, sifat kawan kita<\/em><\/p>\n<p><em>Dipelihara dan budidaya<\/em><\/p>\n<p><em>Macam-macam saja, kelakuan kita<\/em><\/p>\n<p><em>Semoga masih bisa bahagia<\/em><\/p>\n<h4><strong><em>2. Fuck Tha Police \u2013 <\/em>N.W.A<\/strong><\/h4>\n<p>Lagu dari kelompok <em>gangster rap <\/em>ini memang cocok banget untuk mengekspresikan kemarahan kita pada kelakuan aparat yang represif. Grup ini digawangi oleh (alm) Easy E, Ice Cube, MC Ren, Dr. Dre, dan Dj Yella. Lirik lagu tersebut ditulis oleh Ice Cube, salah satu anggota N.W.A yang merupakan kekesalannya terhadap represi aparat terhadap orang-orang berkulit hitam pada waktu itu.<\/p>\n<p>Ya meskipun nggak terlalu nyambung dalam konteks, tapi bisa lah mengungapkan kemarahan kita pada aparat yang represif. Pokoknya teriak <em>\u201cFuck the police\u201d <\/em>aja kalau ada lagu tersebut dinyanyikan.<\/p>\n<h4><strong><em>3. Kami Belum Tentu &#8211; <\/em>.Feast<\/strong><\/h4>\n<p>Lagu yang jadi opening setiap band ini manggung memang jadi <em>anthem<\/em> yang tepat. Berisi tentang kelakuan masyarakat kita yang masih nggak karua, serta sikap skeptic terhadap pemimpin negara, siapa pun pemimpinnya. Lagu ini juga menggambarkan gimana keadaan saat ini yang kalau nggak adu bacot, ya bunuh-bunuhan. Salah satu lirik yang paling mengena adalah di <em>reff <\/em>lagu ini. Bunyinya begini:<\/p>\n<p><em>Pemimpin di esok hari<br \/>\n(Adakah yang cukup mampu?)<br \/>\nMewakilkan suara kami<br \/>\n(Jelas tak ada yang tahu!)<br \/>\nAda yang cukup peduli<br \/>\nUmat yang dikelabui<br \/>\nMelupakan masa lalu<br \/>\n(Namun kami belum tentu!)<\/em><\/p>\n<h4><strong><em>4. Dua Ratus Dua Belas \u2013 <\/em>Jason Ranti<\/strong><\/h4>\n<p>Kritis, tapi tetap nakal. Begitu lah Jason Ranti. Ya mirip-mirip Mojok, lah. Meskipun terkesan guyon, nakal, tapi daya kritisnya masih bisa terdengar dan masih keras, terlebih dalam lagu ini. Lagu dalam album <em>Sekilas Info<\/em> ini menggambarkan kegusaran terhadap situasi saat ini, serta keacuhan terhadap penentu kebijakan yang ngawur. Terlepas konteksnya yang nggak terlalu nyambung, tapi masih bisa kok disambung-sambungkan.<\/p>\n<p>Lirik paling mengena adalah:<\/p>\n<p><em>Ada sesuatu yang ingin kulanggar<\/em><\/p>\n<p><em>Entah peraturan, entah ketetapan<\/em><\/p>\n<p><em>Ah, persetan dengan keadaan<\/em><\/p>\n<p><em>Kucuri kesempatan dalam kesempitan<\/em><\/p>\n<p><em>Semoga halal, kuyakin halal<\/em><\/p>\n<p><em>Aku tak perlu fatwa mereka<\/em><\/p>\n<p><em>Mana yang suci, mana yang dosa?<\/em><\/p>\n<h4><strong><em>5. Hancur Hatiku \u2013 <\/em>(alm) Olga Syahputra<\/strong><\/h4>\n<p>Nggak perlu banyak penjelasan, karena kekecewaan terhadap negara sudah terlampir dalam lirik. Repetisi lirik dalam lagu ini menandakan kekecewaan yang sangat dalam. (*)<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/konser-untuk-republik-itu-solusi-omong-kosong\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">\u201cKonser Untuk Republik\u201d Itu Solusi Omong Kosong<\/a>\u00a0atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/Iqbal-AR\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Iqbal AR<\/a><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/faridhermawan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">\u00a0<\/a>lainnya.<\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mixtape ini saya buat untuk menyertai perjuangan rakyat, sekaligus menggambarkan perasaan rakyat pada negara saat ini. Monggo!<\/p>\n","protected":false},"author":75,"featured_media":16792,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[3759,3919,3920],"class_list":["post-16667","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-a-day-without-whopper","tag-mixtape","tag-perjuangan-rakyat"],"modified_by":"Nia Lavinia","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16667","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/75"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16667"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16667\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16792"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16667"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16667"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16667"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}