{"id":166633,"date":"2022-02-27T13:00:04","date_gmt":"2022-02-27T06:00:04","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=166633"},"modified":"2022-02-27T12:55:00","modified_gmt":"2022-02-27T05:55:00","slug":"10-kudapan-khas-betawi-yang-namanya-bikin-gagal-paham","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/10-kudapan-khas-betawi-yang-namanya-bikin-gagal-paham\/","title":{"rendered":"10 Kudapan Khas Betawi yang Namanya Bikin Gagal Paham"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi kalian yang hidup di lingkungan masyarakat Betawi, tentunya sudah tak heran dengan ajakan \u201cnyok kite ngupi ame ruti\u201d. Ya, kebiasaan ngopi pada sore hari ditemani kudapan atau penganan adalah ritual keseharian masyarakat Betawi hingga populer dengan ajakan \u201cngopi ngapah, ngopi\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain ngopi, masyarakat Betawi juga mengenal nyahi atau minum teh. Teori pertama asal muasal nyahi berasal dari bahasa Arab, syahi yang bermakna ngeteh. Teori kedua asal mula nyahi berasal dari tradisi minum teh di Cina. Terlepas mana yang sahih, acara ngopi atau nyahi lebih afdhal jika melibatkan kudapan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya tanpa kudapan pun, ngopi atau nyahi tetap jalan saja. Akan tetapi jadinya si kopi akan disebut kopi yang \u201cberani\u201d. Maksudnya \u201cberani\u201d sendirian alias nggak ada lawannya berupa kudapan, wqwqwq. Itu adalah candaan yang sering dilontarkan kawan-kawan setongkrongan\u2014yang suka saling sindir menyindir tapi tetap no hard feeling.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesungguhnya ragam kudapan khas Betawi sangatlah variatif kalau disebut satu per satu. Dalam tulisan ini saya pilihkan hanya 10 kudapan yang namanya unik-unik dan bisa bikin gagal paham kalau belum pernah nyicipin sama sekali. Nyok, simak baek-baek.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Akar kelapa<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita mulai kudapan yang mengesankan orang Betawi kuat-kuat fisiknya. Gimana nggak kuat, Sodara? Wong akar kelapa aja jadi kudapan, hahaha. Kuat sekali, ya, gigi dan pencernaan orang Betawi kalau begitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya mengapa disebut akar kelapa bukan seperti itu ya, MyLov. Hanya memang bentuknya mirip akar kelapa yang rasanya manis dan gurih. Tapi, akhirnya hal ini menjadi jokes salah satu makanan yang menunjukkan betapa kuatnya orang Indonesia selain (pempek) kapal selam Palembang dan kuku macan Kalimantan Timur. Luar biasa, kan?<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Alie bagente<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAlie bagente? Eh, bentar-bentar. Ini nama kudapan atau nama orang?\u201d gitu kan di pikiran kalian?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Denger namanya bagaikan elaborasi nama dan kata yang digunakan masyarakat Arab Betawi, yakni Ali (nama orang), bagen (biarin dari bahasa Betawi ora) dan ente (kamu dari kata anta). Yah begitulah nama kudapan ini apa adanya. Dikutip dari buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliner Betawi Selaksa Rasa dan Cerita<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2016), alie bagente adalah kudapan yang dibuat dari nasi yang tak habis dikonsumsi dan digoreng hingga kering. Selanjutnya dimasukkan dalam gula ganting yang diaduk rata. Lantas dipindahkan ke wadah (tampah) dan ditunggu hingga dingin, sampai gula mengeras sehingga nasi melekat menjadi satu bak kerupuk. Dan alie bagente pun dipotong-potong secara proporsional untuk dimakan atau dijual.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Kue ape<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau alie bagente seperti nama orang, kali ini ada kudapan yang menggunakan kata tanya. Gimane ceritanye tuh?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi ceritanya dulu saat kue masih diolah, ada yang nanya ke pembuatnya,\u201dKue ape, Bang?\u201d Jadilah namanya kue ape. Bahan dasar kue ini adalah tepung beras, telur, air dan santan kelapa, serta gula pasir sehingga rasanya manis dan gurih. Dimasaknya menggunakan wajan yang umumnya hanya muat satu kue ape saja. Bentuk kue ape bulat dengan kulit pinggirannya tipis, namun tebal bulat di bagian tengah. Kue ape umumnya berwarna hijau, yang berasal dari daun pandan atau daun suji.<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 Bir pletok<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kudapan satu ini kadang membuat orang gagal paham, karena sering dianggap bir beneran. Padahal bir pletok murni minuman non-alkohol. Dan minuman ini bermanfaat untuk kesehatan karena dibuat dari rempah-rempah. Seperti daun pandan wangi, jahe, serai, dan diselipkan kayu secang yang mengakibatkan bir pletok berubah warna jadi merah merona.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_166651\" aria-describedby=\"caption-attachment-166651\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-166651\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/bir-pletok.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/bir-pletok.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/bir-pletok-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/bir-pletok-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/bir-pletok-560x354.jpg 560w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/bir-pletok-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-166651\" class=\"wp-caption-text\">Bir pletok (Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<h4><b>#5 Biji ketapang<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mendengar biji ketapang, pikiran langsung merujuk pohon ketapang atau nama latinnya terminalia catappa yang tumbuh rindang di halaman rumah. Gilak, biji ketapang dimakan? Padahal biji ketapang hanyalah kue yang berasal dari olahan tepung terigu dan kelapa muda sehingga rasanya manis dan renyah saat gigi-gigi kita mulai mengunyahnya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#6 Ketupat babanci<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliner ini disebut ketupat babanci karena tak termasuk kategori soto, kare maupun gule. Ketupat babanci sendiri dibuat dari banyak bahan masakan kurang lebih 21 jenis bahan bumbu dan rempah seperti bangle, kedaung, temu mangga, temu kunci, lempuyang, botor dan tai angin. Lebih nikmat disajikan dengan tambahan daging kepala sapi dan serutan kelapa serundeng halus.<\/span><\/p>\n<h4><b>#7 Kue lumpur<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saking teksturnya yang lembut, akhirnya kue yang mempunyai bentuk bulat warna kuning dan kecokelatan dinamai kue lumpur. Warna kuning berasal dari kuning telur yang jadi bagian adonan selain bahan-bahan lainnya. Topping kismis melengkapi kue lumpur dan bikin tampak cantik tampilannya.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_166652\" aria-describedby=\"caption-attachment-166652\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-166652\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Kue-lumpur.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Kue-lumpur.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Kue-lumpur-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Kue-lumpur-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Kue-lumpur-560x354.jpg 560w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Kue-lumpur-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-166652\" class=\"wp-caption-text\">Kue lumpur (Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<h4><b>#8 Roti buaya<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak lengkap rasanya jika tak menyertakan roti buaya dalam khazanah kudapan Betawi. Roti buaya sudah banyak dijual di toko-toko kue atau oleh-oleh seputar Jabodetabek. Roti yang memang dibentuk seperti buaya ini <a href=\"https:\/\/food.detik.com\/info-kuliner\/d-5147734\/sejarah-dan-filosofi-roti-buaya-makanan-ikonik-betawi\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">biasanya<\/a> menjadi bagian seserahan lamaran calon pengantin Betawi. Lambang buaya adalah simbol janji setia pengantin pria kepada pengantin wanita karena buaya dipercaya hewan paling setia dan memiliki satu pasangan sepanjang hidupnya. Dulu saya pun melakukan ini saat melamar mantan pacar yang sudah jadi istri saat ini, uhuks.<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_166653\" aria-describedby=\"caption-attachment-166653\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-166653\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Roti-buaya-shutterstock.com_.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Roti-buaya-shutterstock.com_.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Roti-buaya-shutterstock.com_-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Roti-buaya-shutterstock.com_-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Roti-buaya-shutterstock.com_-560x354.jpg 560w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/Roti-buaya-shutterstock.com_-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-166653\" class=\"wp-caption-text\">Roti buaya (shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<h4><b>#9 Kembang goyang<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kembang goyang bukanlah berasal dari kembang yang bergoyang yang kemudian dipetik sebagai syarat khusus. Bukan, ya. Tapi, memang bentuknya yang menyerupai kelopak kembang. Lantas proses pembuatannya dilakukan dengan cara digoyang-goyang di atas minyak panas hingga adonannya lepas dari cetakan. Bahan utama kue kembang goyang berasal dari tepung ketan.<\/span><\/p>\n<h4><b>#10 Selendang mayang<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terakhir, selendang mayang, adalah kuliner yang terbuat dari tepung sagu aren dan membentuk agar-agar atau pudding. Berwarna putih, merah muda, atau hijau bak warna selendang. Bentuk potongan-potongan selendang mayang yang lebar serta panjang juga bak sebuah selendang. Sedangkan nama mayang merujuk cerita rakyat si Jampang dan Mayang Sari yang merefleksikan kecantikan dan keindahan. Selendang mayang disajikan dengan guyuran sirup, kuah santan, dan potongan es batu dingin yang menambah kesegarannya. Slurrrp.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Demikianlah 10 kudapan khas Betawi yang unik-unik, baik nama dan asal-usulnya. Mudah-mudahan sudah nggak bikin kalian gagal paham lagi, ya. Alangkah lebih baiknya kalau kalian tak hanya paham tapi juga segera mencicipinya biar nggak tambah ngiler membayangkannya di depan mata, ya. Berangkaaat~<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Suzan Lesmana<\/p>\n<p>Editor: Rizky Prasetya<\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kue lumpur apa dah?<\/p>\n","protected":false},"author":1247,"featured_media":166650,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[3271,14953,438,14954],"class_list":["post-166633","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-betawi","tag-kue-lumpur","tag-kuliner","tag-roti-buaya"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/166633","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1247"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=166633"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/166633\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/166650"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=166633"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=166633"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=166633"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}