{"id":166360,"date":"2022-02-28T15:00:21","date_gmt":"2022-02-28T08:00:21","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=166360"},"modified":"2022-03-08T10:21:44","modified_gmt":"2022-03-08T03:21:44","slug":"12-kosakata-bahasa-tegal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/12-kosakata-bahasa-tegal\/","title":{"rendered":"12 Kosakata Bahasa Tegal yang Biasa Digunakan dalam Percakapan Sehari-hari"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terkenal karena logatnya yang ngapak, bahasa Tegal kerap dimunculkan sebagai lucu-lucuan, baik di film, sinetron maupun sitkom. Seolah, bahasa Tegal ini sebegitu anehnya. Padahal, ya, biasa saja. Kalau toh terasa aneh, itu pasti karena si penutur sengaja di-ngapak-ngapakin biar kelihatan lucu. Tapi ada untungnya juga, sih, bahasa Tegal masuk ke industri hiburan. Setidaknya, bahasa Tegal jadi dikenal oleh banyak orang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kalau selama ini kosakata atau istilah bahasa Tegal yang sering kamu dengar hanya berkutat di \u201cnyong\u201d, \u201ckepriben\u201d dan \u201ckoen\u201d saja, berikut saya berikan daftar 12 kosakata bahasa Tegal lainnya yang biasa dipakai untuk percakapan sehari-hari.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Loken<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kata \u201cloken\u201d sering sekali digunakan sebagai percakapan sehari-hari. Loken berarti \u201cmasa\u201d, tapi bukan \u201cmasa\u201d yang bermakna \u201cwaktu\u201d, ya. Melainkan \u201cmasa\u201d sebagai respon untuk mempertanyakan kebenaran suatu cerita.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misal, teman kamu bercerita kalau dia habis beli rumah satu M padahal gaji dia UMR, jawab saja: \u201cloken?\u201d. Loken juga memiliki padanan kata lainnya, yaitu \u201cader\u201d.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Dongen<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dongen digunakan untuk menyatakan penyesalan. Contohnya ketika kamu menghabiskan uangmu untuk karaokean, padahal uang kost belum bayar, maka kalimatnya jadi seperti ini:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDongen duite mau nggo bayar kost-an disit, ya!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(Harusnya tadi uangnya untuk bayar kost-an dulu, ya!)<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_166782\" aria-describedby=\"caption-attachment-166782\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-166782\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_20273172231.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_20273172231.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_20273172231-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_20273172231-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_20273172231-560x354.jpg 560w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_20273172231-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-166782\" class=\"wp-caption-text\">Ilustrasi orang menyesal (Pixabay.com)<\/figcaption><\/figure>\n<h4><b>#3 Rungsang<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKalem, keh. Aja nggawe rungsang!\u201d ucap seseorang yang baru bangun tidur. Di sampingnya ada teman yang terus saja berkoar-koar tentang tugas yang belum selesai mereka kerjakan, padahal hari ini deadline. Rungsang bermakna gugup. Bisa juga digunakan untuk menggambarkan betapa terburu-burunya dirimu saat itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAja diganggu. Nyong lagi rungsang!\u201d<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 Kober<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada pula istilah \u201ckober\u201d dalam bahasa Tegal. Kober artinya sempat. Umumnya, kata kober ini disandingkan setelah kata \u201cora\u201d, menjadi \u201cora kober\u201d yang berarti tidak sempat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKoen ora ngopi?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(Kamu nggak ngopi?)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cLhaaa, ora kober! Tugas akehe por!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(Lhaa, nggak sempet! Ada tugas banyak sekali!)<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_166784\" aria-describedby=\"caption-attachment-166784\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-166784\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_1467965450.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_1467965450.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_1467965450-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_1467965450-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_1467965450-560x354.jpg 560w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_1467965450-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-166784\" class=\"wp-caption-text\">Terburu-buru (Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<h4><b>#5 Pan mbelih<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu mau bersikap bodo amat dan mengekspresikannya dalam bahasa Tegal? Maka, kata yang tepat untuk digunakan adalah \u201cPan mbelih\u201d. Biar lebih afdol, ucapkan sambil melengos dan berlalu pergi, ya, MyLov.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cEh, ini tugasnya nggak diselesaikan?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPan mbelih!\u201d<\/span><\/p>\n<h4><b>#6 Nglintong<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nglintong menunjukkan situasi di mana seseorang pergi untuk melihat atau menengok suatu tempat, tapi dalam waktu sebentar saja. Contohnya kamu mau keluar kantor, tapi kamu mau memastikan terlebih dahulu kondisi aman atau tidak. Kemudian kamu pun \u201cnglintong\u201d untuk melihat apakah si bos ada di ruangan atau tidak.<\/span><\/p>\n<h4><b>#7 Mbuh<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada yang menyebut \u201cmbuh\u201d, ada pula yang \u201cembuh\u201d. Tapi, kedua kata tersebut memiliki arti yang sama yaitu \u201ctidak tau\u201d. Kata \u201cmbuh\u201d juga dapat diartikan sebagai \u201cbodo amat\u201d ketika disandingkan dengan kata \u201cBae\u201d, sehingga menjadi \u201cMbuh bae\u201d.<\/span><\/p>\n<h4><b>#8 Maha-maha<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam KBBI, \u201cmaha\u201d berarti \u201camat\u201d. Lantas, apakah \u201cmaha-maha\u201d yang diucapkan orang Tegal berarti \u201camat-amat\u201d? Tentu saja tidak. Orang Tegal menggunakan kata \u201cmaha-maha\u201d untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang bertingkah secara berlebihan saat membeli atau menyiapkan suatu acara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHalah. Maha-maha!\u201d respons Tukiyem saat tau suaminya menyewa satu lantai rumah sakit untuk persiapan kelahiran anaknya.<\/span><\/p>\n<h4><b>#9 Tarok<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Istilah selanjutnya yaitu \u201ctarok\u201d, yang berarti pacar. Kata \u201ctarok\u201d juga bisa diimbuhi akhiran \u2013an, menjadi \u201ctarokan\u201d alias pacaran. Nah, \u201ctarokan\u201d ini pun, oleh orang Tegal biasanya diucapkan secara berulang. Contoh kalimatnya begini:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPaijo karo Maryati wingi tarok-tarokkan neng ngisor jembatan.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">(Paijo dan Maryati kemarin pacaran di bawah jembatan)<\/span><\/p>\n<figure id=\"attachment_166783\" aria-describedby=\"caption-attachment-166783\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-166783\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_20273172232.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_20273172232.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_20273172232-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_20273172232-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_20273172232-560x354.jpg 560w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_20273172232-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-166783\" class=\"wp-caption-text\">Pacaran (Pixabay.com)<\/figcaption><\/figure>\n<h4><b>#10 Nrenges<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kamu punya teman yang kalau dibilangin sukanya senyum-senyum doang, atau temen yang sok imut padahal njelei, kelakuan temenmu itu, oleh orang Tegal disebut \u201cnrenges\u201d.<\/span><\/p>\n<h4><b>#11 Toli<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun terdengar mirip dengan kata \u201ctuli\u201d, \u201ctoli\u201d tidak ada hubungannya sama sekali dengan gangguan indra pendengaran. Dalam bahasa tegal, \u201ctoli\u201d berarti \u201clalu\u201d atau \u201ckemudian\u201d. Jika digunakan untuk merespons suatu cerita, dan penasaran dengan kelanjutan ceritanya, kata \u201ctoli\u201d bisa disambung dengan kata \u201cpimen\u201d menjadi \u201ctoli pimen?\u201d, yang artinya \u201clalu bagaimana?\u201d<\/span><\/p>\n<h4><b>#12 Ndayak<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNdayak\u201d dalam bahasa Tegal yang biasa digunakan untuk menggambarkan situasi ketika seseorang memaksa untuk naik ke atas mobil bak terbuka yang sedang melaju pelan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Setelah membaca 12 kosakata di atas, nggak ada salahnya, loh, kalau mau dipraktikkan. Atau, masih kurang banyak?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Dyan Arfiana Ayu Puspita<\/p>\n<p>Editor: Rizky Prasetya<\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ora ngapak, ora kepenak.<\/p>\n","protected":false},"author":613,"featured_media":166781,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[761,11066,2857],"class_list":["post-166360","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa","tag-kosakata","tag-tegal"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/166360","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/613"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=166360"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/166360\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/166781"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=166360"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=166360"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=166360"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}