{"id":166042,"date":"2022-03-08T13:00:35","date_gmt":"2022-03-08T06:00:35","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=166042"},"modified":"2022-03-08T09:57:21","modified_gmt":"2022-03-08T02:57:21","slug":"7-ungkapan-biar-ngobrolmu-jadi-jember-banget","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/7-ungkapan-biar-ngobrolmu-jadi-jember-banget\/","title":{"rendered":"Dari Maara hingga Mak Tager: 7 Ungkapan biar Ngobrolmu Jadi Jember Banget"},"content":{"rendered":"<p>Dengan suasana kota yang bernuansa asri, Kabupaten Jember tentu menjadi sebuah tempat yang sering jadi jujukan wisatawan. Selain banyaknya objek wisata alam, tempat bersejarah, dan kuliner khasnya, Jember juga terkenal dengan kota perkebunannya.<\/p>\n<p>Bagi beberapa orang yang sudah atau baru saja mengunjungi Jember, pasti mereka akan menemukan satu hal yang unik, yakni terkait bahasanya. Maklum, Kabupaten Jember memang dikenal sebagai daerah Madura swasta, alias kebanyakan warganya adalah keturunan Madura. Meski mereka orang Madura, tapi mereka juga fasih berbahasa Jawa.<\/p>\n<figure id=\"attachment_167973\" aria-describedby=\"caption-attachment-167973\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img fetchpriority=\"high\" decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-167973\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_1878845065.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_1878845065.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_1878845065-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_1878845065-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_1878845065-560x354.jpg 560w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_1878845065-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-167973\" class=\"wp-caption-text\">Jember Fashion Carnaval, sebuah acara kebanggaan warga Jember (Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Nah, untuk memudahkan komunikasi di sana, berikut ini saya akan memperkenalkan 7 ungkapan yang mencerminkan orang Jember banget. Pokoknya, kalau ada orang pakai kata itu, sudah dipastikan itu orang Jember. Pasalnya, selama 20 tahun hidup di Jember, kata-kata berikut ini memang sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Langsung saja, ini dia uraiannya.<\/p>\n<h4>#1 Maara (maa-ra)<\/h4>\n<p>Sekali lagi, pada dasarnya Jember kebanyakan dihuni oleh masyarakat Madura dan Jawa. Jadi, nggak usah kaget jika dalam kesehariannya akan dipenuhi dengan kosakata yang campur aduk. Kata pertama yang sering ditemui di Jember adalah \u201cmaara\u201d, yang berarti \u201ccome on!\u201d atau \u201cayolah!\u201d<\/p>\n<p>Ungkapan ini biasa digunakan oleh warga Jember untuk merespons warga lain yang nggak sat-set alias lamban. Seperti contoh, \u201cKoen iku cek suwine. Maara!\u201d (Kamu itu lama banget. Ayo, dong!) Jadi, misal kalian ke Jember, terus ada teman kalian yang ora sat-set, bilang aja seperti itu. Gampang, to?<\/p>\n<h4>#2 Madt (mad\/mat)<\/h4>\n<p>Kata \u201cmadt\u201d sebenarnya masih menjadi misteri asal-usulnya. Namun, di Jember, kata ini menjadi sangat populer, khususnya di kalangan anak muda. Sebab, kata \u201cmadt\u201d merujuk pada kata ganti orang. Jika di Surabaya pakai \u201ccok\u201d, di Malang pake \u201csam\u201d, di Jakarta pakai \u201cngab\u201d, atau di kebanyakan wilayah lainnya pakai \u201crek\/gaes\u201d, di Jember memakai kata tersebut.<\/p>\n<p>Penggunaannya pun sangat simpel, sama seperti menggunakan kata ganti orang pada umumnya. Seperti, \u201cSek lapo, Madt?\u201d (Lagi ngapain, Gaes?) Atau, \u201cMadt, engko bengi ngopi, yo!\u201d (Rek, ntar malam ngopi, ya!) Tapi, itu hanya berlaku untuk kalangan anak muda saja, lho, ya. Kalau buat orang tua, saya nggak merekomendasikan. Bisa-bisa, kalian kena omel, nggak sopan soalnya. Hahaha.<\/p>\n<h4>#3 Boh\/Boh-aboh (boh-a-boh)<\/h4>\n<p>Selanjutnya, ungkapan ini biasa digunakan untuk merespons sebuah kejadian yang agak mengagetkan, nggak biasa, atau sekadar keheranan. Sebenarnya, ungkapan \u201cboh\u201d hampir sama penggunaannya dengan kata \u201cbeh\/biyuh\u201d di kalangan masyarakat Jawa Timur bagian barat. Atau kata \u201cwah\u201d dalam bahasa Indonesia.<\/p>\n<figure id=\"attachment_167970\" aria-describedby=\"caption-attachment-167970\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-167970\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_2117970635.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_2117970635.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_2117970635-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_2117970635-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_2117970635-560x354.jpg 560w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_2117970635-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-167970\" class=\"wp-caption-text\">Beberapa anak laki-laki sedang bersantai di Masjid Jami Kabupaten Jember (Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<p>Penggunaannya pun seperti ini, \u201cBoh! Anyar ta sepatumu?\u201d (Wah! Sepatu kamu baru, ya?). Bisa juga, \u201cBoh-aboh, yo nggak iso ngunu, Madt. Iki larang aku tukune.\u201d (Wah, wah, wah, ya, nggak bisa begitu, Bro. Mahal ini belinya).<\/p>\n<h4>#4 Ra kah\/Huh kah (ra-kah\/huh-kah)<\/h4>\n<p>Ini adalah ungkapan kekesalan, kepasrahan, dan kekecewaan. Sama dengan kata \u201cHuft!&#8221;, &#8220;Haaah&#8221;, dsb. Bedanya, mungkin kata \u201cra kah\u201d bisa dipakai di akhir kalimat. Seperti, \u201cAku wes keselen ra kah.\u201d (Aku kecapekan ini, lho). Sementara \u201chuh kah\u201d digunakan di awal, \u201cHuh kah, ojok angel-angel poo?\u201d (Huft! Jangan sulit-sulit kenapa, sih?).<\/p>\n<h4>#5 Kesuk (ke-suk)<\/h4>\n<p>Kata ini mungkin sudah bisa ditebak artinya. Yap, kata \u201ckesuk\u201d equivalen dengan istilah arek-arek Suroboyo yang bilang \u201cmene\u201d, arek-arek Jawa kulonan (Mataraman, Jawa Tengah, Jogja) yang bilang \u201csesuk\u201d, atau anak-anak Jakarta yang bilang \u201cbesok\u201d, dan sebagainya. Fungsinya sama, yakni sebagai keterangan waktu saja.<\/p>\n<figure id=\"attachment_167971\" aria-describedby=\"caption-attachment-167971\" style=\"width: 854px\" class=\"wp-caption alignnone\"><img decoding=\"async\" class=\"size-full wp-image-167971\" src=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_2083182178.jpg\" alt=\"\" width=\"854\" height=\"540\" srcset=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_2083182178.jpg 854w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_2083182178-300x190.jpg 300w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_2083182178-768x486.jpg 768w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_2083182178-560x354.jpg 560w, https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-content\/uploads\/2022\/02\/shutterstock_2083182178-750x474.jpg 750w\" sizes=\"(max-width: 854px) 100vw, 854px\" \/><figcaption id=\"caption-attachment-167971\" class=\"wp-caption-text\">Beberapa remaja perempuan berfoto di alun-alun Jember (Shutterstock.com)<\/figcaption><\/figure>\n<h4>#6 Rah (rah)<\/h4>\n<p>Kalau saya tafsirkan, ungkapan \u201crah\u201d bermaksud sebagai kata imbuhan. Atau, sederhananya, sama seperti \u201clah&#8221;, &#8220;dong&#8221;, &#8220;deh\u201d dalam bahasa Indonesia. Misalnya, \u201cJok ngunu, rah! Sing nggenah, rah! Wes, rah, jok carok tok!\u201d (Jangan begitu, lah! Yang bener, dong! Udah, deh, jangan berantem mulu!).<\/p>\n<h4>#7 Mak tager (mak-ta-ger)<\/h4>\n<p>\u201cMak tager koyok ngunu, Madt? Mak tager balikkan maneh.&#8221; Itulah yang biasa saya dengarkan dari warga sekitar. Sebenarnya, \u201cmak tager\u201d secara sederhana berarti \u201ckok bisa\/kok gitu\u201d. Pokoknya, nanti jangan bingung, deh, kalau kalian beli oleh-oleh khas Jember dan terjadi tawar-menawar. Lalu penjualnya bilang, \u201cMak tager semunu, Cong. Yo, ndak boleh. Boh-aboh.\u201d Itu berarti, \u201cKok bisa segitu, Mas. Ya, nggak boleh. Walah-walah.&#8221;<\/p>\n<p>Dari semua ungkapan di atas, kalian sudah bisa memahami, bukan? Ya sudah, habis ini langsung dipraktikkan, ya? Bukan sesuatu yang sulit-sulit amat, kan? Yang penting ngomongnya agak mencucu dan sedikit penekanan. Kalau ngomong jangan alus-alus, soalnya vibes Jember-nya bakal kurang nanti. Oke, Madt?<\/p>\n<p><span style=\"font-family: -apple-system, BlinkMacSystemFont, 'Segoe UI', Roboto, Oxygen-Sans, Ubuntu, Cantarell, 'Helvetica Neue', sans-serif;\">Penulis: Adhitiya Prasta Pratama<br \/>\n<\/span>Editor: Audian Laili<\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini.<\/a><\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;Beh, jek koen, Madt!&#8221;<\/p>\n","protected":false},"author":1549,"featured_media":167972,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2501,8794,5020],"class_list":["post-166042","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jawa-timur","tag-jember","tag-madura"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/166042","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1549"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=166042"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/166042\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/167972"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=166042"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=166042"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=166042"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}