{"id":16566,"date":"2019-10-10T10:45:31","date_gmt":"2019-10-10T03:45:31","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=16566"},"modified":"2019-10-16T14:46:17","modified_gmt":"2019-10-16T07:46:17","slug":"memang-cuma-yang-terhormat-arteria-dahlan-cs-yang-tahu-lainnya-tempe","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/memang-cuma-yang-terhormat-arteria-dahlan-cs-yang-tahu-lainnya-tempe\/","title":{"rendered":"Memang Cuma Yang Terhormat Arteria Dahlan CS yang Tahu, Lainnya Tempe"},"content":{"rendered":"<p>Acara televisi Mata Najwa yang digawangi Mbak <a href=\"https:\/\/mojok.co\/red\/rame\/kilas\/najwa-shihab-cecar-gerindra-lewat-komen-instagram-sensasinya-lebih-seru-dari-mata-najwa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Najwa Shihab<\/a> edisi Rabu, 9 Oktober 2019 menjadi pembahasan khalayak ramai di jagat media sosial. Edisi tersebut mengangkat tema \u201c<a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/watch?v=OddGgAnWaM0\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Ragu-Ragu Perppu<\/a>\u201d tersebut menghadirkan beberapa politisi antara lain Sekjen Partai Nasdem Jhonny G Plate, politisi Partai Gerindra Supratman Andi Agtas, dan politisi PDIP Yang Terhormat Arteria Dahlan. Selain itu juga dihadirkan Prof. Emil Salim, Direktur Pusako Feri Amsari, dan Direktur Eksekutif LSI Djayadi Hanan.<\/p>\n<p>Bukan hanya isi pembicaraan yang cukup panas antara kedua belah pihak, tetapi yang kemudian menjadi bahan <em>guneman <\/em>publik adalah sikap dan cara para politisi itu dalam berbicara dan menghargai lawan bicara. Terlebih yang banyak mendapat sorotan malam itu adalah Yang Terhormat Arteria Dahlan, seorang politisi yang berlatar belakang akademiknya adalah teknik dan hukum. <em>Welok, pasti sudah terbayang kecerdasannya khaaan~<\/em><\/p>\n<p>Banyak pihak yang menyayangkan sikap Arteria Dahlan dalam berbicara malam itu, seolah tidak punya etika dan tata krama dalam hal berbicara di depan umum. Lah memangnya salah Yang Terhormat Arteria ini apa sih? Bukannya kalau urusan berargumen beliau ini keren, apalagi kalau soal tampan, <em>o lha ya<\/em> jelas menawan.<\/p>\n<p>Jadi begini, <em>my lov<\/em>. Singkatnya Arteria Dahlan dan dua kawan politisinya ini menghadapi 3 orang yang kontra dengan mereka perihal RUU KPK dan Perppu KPK. Eh empat orang ding, kan tambah Mbak Nana yang juga sering memberikan pernyataan yang menghunus ke <span style=\"text-decoration: line-through;\">jantung<\/span> hati para politisi. Tapi memangnya politisi itu punya hati? <em>hmm<\/em><\/p>\n<p>Arteria CS malam itu seolah menggunakan cara berpikir, \u201ckami\u00a0 ini DPR. Bisa duduk di Senayan karena dipilih rakyat, kami paham segalanya.\u201d Karena tahu segalanya itulah, para anggota dewan itu berhak merasa tinggi dan paling benar. Coba saja, <em>my lov<\/em>\u00a0tonton lagi video Mata Najwa yang sudah <em>diupload<\/em> di kanal <span style=\"text-decoration: line-through;\">perjulidan<\/span> pengetahuan kita bersama, YouTube.<\/p>\n<p><strong>Pertama. <\/strong>Ketika Prof Emil Berbicara, para politisi itu membalas argumen dengan nada tinggi. Puncaknya, Arteria Dahlan yang terlibat adu argumen dengan ekonom senior tersebut sering menunjuk-nujuk ndan menyebut <a href=\"https:\/\/tirto.id\/debat-dengan-emil-salim-arteria-dahlan-saya-katakan-yang-benar-ejvD\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Prof. Emil sesat<\/a>. Sesabar-sabarnya orang, pasti ada batasnya juga. Akhirnya Prof Emil pun nampak geram karena pembicaraanya selalu direcoki Yang Terhormat Arteria Dahlan. Beliau pun berkata dengan nada tinggi, \u201cdengar dulu!\u201d<\/p>\n<p>Ternyata belum usai, <em>my lov<\/em>. Ketika membicarakan kredibilitas pemilihan anggota DPR (yang sering dibangga-banggakan oleh anggota DPR itu), Yang Terhormat Arteria masih sempat melontarkan hujatan argumen, \u201canda bisa jadi menteri karena proses politik di DPR. Jangan salah.\u201dNampak kesal, Prof Emil pun menjawab, \u201cjadi Bung boleh bangga saya dipilih, tapi apa betul dipilih dengan cara yang benar. Berapa ongkosnya dan dari mana uangnya?&#8221; Mantap, Pak. Orang ngegas adalah orang sabar yang dibuat emosi.<\/p>\n<p><strong>Kedua.<\/strong> Ketika Direktur Pusako Universitas Andalas, Feri Amsari berbicara lagi-lagi Yang Terhormat Arteria selalu memotong dan menimpali pembicaraan dengan kata-kata yang tidak strategis dan meremehkan. <em>Ahli macam apa anda? Anda mending belajar dulu. Ah apa iya? Anda ini bukan ahli, jangan berbicara sok pinter anda ini<\/em>\u00a0adalah beberapa kata yang terlontar dari <em>lathi <\/em>seorang anggota dewan yang <span style=\"text-decoration: line-through;\">tidak punya tata krama<\/span>\u00a0terhormat itu.<\/p>\n<p>Sama seperti Prof Emil, Feri Amsari pun tidak diam begitu saja. Kalem nan santai ketika diganggu Yang Terhormat Arteria, sambil berkata, \u201ctugas dia memang mengacaukan.\u201d <em>Slaap<\/em>, bagai batu yang terlempar mengenai <span style=\"text-decoration: line-through;\">kepala<\/span> dengkul, rasanya pasti <em>senut-senut. <\/em><\/p>\n<p><strong>Ketiga. <\/strong>Direktur Eksekutif LSI, Djayadi Hanan pun mendapat jatah serangan dari politisi. Ketika memaparkan data hasil survei opini publik tentang RUU KPK dan Perppu KPK, Yang Terhormat Supartman meragukan apakah publik yang menjadi responden punya pengetahuan tentang revisi UU dan Perppu. Tapi tidak sampai disitu saja, <em>my lov<\/em>. Ketika Djayadi mengatakan bahwa opini publik adalah bagian dari demokrasi, Yang Terhormat Arteria lagi-lagi menimpali, \u201cjangan berbicara demokrasi, kami juga paham tentang demokrasi.\u201d<\/p>\n<p><em>Ah elah, my lov<\/em>. Begini amat punya wakil rakyat yang cerdas-cerdas. Saking cerdasnya sampai-sampai para ahli pun dianggap tidak tahu apa-apa dan merasa mereka paling tahu urusan bernegara. Kalau para ahli saja dianggap tidak tahu, lalu bagaimana dengan kita <span style=\"text-decoration: line-through;\">buruh tani mahasiswa<\/span> rakyat <span style=\"text-decoration: line-through;\">miskin kota<\/span> jelata yang memang tidak tahu apa-apa ini? Memang cuma anggota dewan yang tahu, kita semua tempe.<\/p>\n<p>Seperti warganet yang lain, aku pun kesal dibuatnya. Bagaimana bisa uang yang kita setorkan ke negara digunakan untuk memberi gaji orang-orang seperti ini? Tapi sih tapi Bapakku pernah berpesan kalau aku tidak boleh <em>misuhi<\/em> orang lain, apalagi orang-orang terhormat nan pandai.<\/p>\n<p><em>HAAASSSHHH MBUH TULUNG AKU PENGEN MISUH!!!1!!111!!111 <\/em>(*)<\/p>\n<p>BACA JUGA\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/arteria-dahlan-dkk-vs-mahfud-md\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Arteria Dahlan, dkk VS Mahfud MD<\/a> atau tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/kristianto\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kristianto<\/a>\u00a0lainnya.<\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Banyak pihak yang menyayangkan sikap Arteria Dahlan dalam berbicara malam itu, seolah tidak punya etika dan tata krama dalam hal berbicara di depan umum.<\/p>\n","protected":false},"author":84,"featured_media":16590,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[3234,3861,2239,3863,3862,2815,3864],"class_list":["post-16566","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-anggota-dpr","tag-arteria-dahlan","tag-debat","tag-emil-salim","tag-mata-najwa","tag-politisi","tag-yang-terhormat"],"modified_by":"Zahroh Ayu","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16566","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/84"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=16566"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/16566\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/16590"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=16566"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=16566"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=16566"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}