{"id":165399,"date":"2022-02-23T10:45:45","date_gmt":"2022-02-23T03:45:45","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=165399"},"modified":"2022-05-11T14:16:43","modified_gmt":"2022-05-11T07:16:43","slug":"15-istilah-bahasa-sunda-yang-sering-digunakan-sehari-hari","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/15-istilah-bahasa-sunda-yang-sering-digunakan-sehari-hari\/","title":{"rendered":"15 Istilah Bahasa Sunda yang Sering Digunakan Sehari-hari"},"content":{"rendered":"<p>Bahasa Sunda merupakan bahasa dari cabang Melayu-Polinesia dalam rumpun bahasa Austronesia. Belum diketahui secara jelas kapan bahasa Sunda ini lahir. Namun, asal-usul bahasa Sunda memang sudah dibuktikan dengan adanya prasasti berbahasa Sunda kuno yang ditemukan di Kawali Ciamis pada abad ke-14.<\/p>\n<p>Sebagai warga Sunda asli, saya sudah hafal betul berbagai kosakata atau istilah yang sering digunakan oleh orang Sunda pada umumnya. Mulai dari yang lemah lembut sampai yang nggak enak untuk didengar. Namun, kali ini saya akan membagikan istilah-istilah standar yang biasa dituturkan oleh masyarakat Sunda sehari-hari.<\/p>\n<h4>#1 Naon<\/h4>\n<p>Istilah pertama yang sering digunakan orang Sunda sehari-hari yaitu kata &#8220;naon&#8221; yang mempunyai arti &#8220;apa&#8221;. Kata naon ini sering dipakai saat seseorang menyahut panggilan dari seseorang atau saat bertanya pada seseorang seperti, \u201cAya naon (ada apa)?\u201d atau \u201c\u00c9ta naon (itu apa)?\u201d. Dan segala macamnya.<\/p>\n<h4>#2 Kunaon<\/h4>\n<p>Selanjutnya ada kata &#8220;kunaon&#8221; yang mirip dengan kata pertama, tapi artinya jelas berbeda. Kunaon mempunyai arti kenapa atau mengapa. Kunaon digunakan saat seseorang menanyakan situasi, kondisi, ataupun keadaan seseorang. Kunaon juga sering digunakan ketika orang sedang heran pada suatu kejadian seperti, \u201cKunaon mantak bisa kitu (kenapa bisa sampai begitu)?\u201d<\/p>\n<h4>#3 Punteun<\/h4>\n<p>Kata &#8220;punteun&#8221; ini sepertinya sudah banyak orang yang tahu. Punteun sebenarnya mempunyai dua arti. Punteun bisa berarti maaf dan permisi. Kata &#8220;punteun&#8221; yang berarti maaf bisa digunakan ketika kita menyenggol seseorang di jalan. Sementara kata &#8220;punteun&#8221; dengan arti permisi bisa kita gunakan saat masuk ke dalam rumah orang atau saat melewati segerombolan orang.<\/p>\n<h4>#4 Hatur nuhun<\/h4>\n<p>&#8220;Hatur nuhun&#8221; mempunyai arti terima kasih. Setiap orang tampaknya tidak akan asing dengan kata terima kasih. Begitu pula dengan orang Sunda yang sudah terbiasa mengatakan hatur nuhun ketika doi merasa terbantu atau sesederhana setelah selesai membeli makanan di warung.<\/p>\n<h4>#5 Sami-sami<\/h4>\n<p>Kata &#8220;hatur nuhun&#8221; akan selalu berdampingan dengan kata &#8220;sami-sami&#8221; alias &#8220;sama-sama&#8221;. Ada terima kasih, ada pula sama-sama. Tapi terkadang jika belanja di warung beberapa orang sering bingung siapa yang mesti bilang terima kasih duluan. Kadang saya pun sering mengucapkan kata hatur nuhun berbarengan dengan pemilik waung.<\/p>\n<h4>#6 Piraku<\/h4>\n<p>Selanjutnya ada kata &#8220;piraku&#8221;. Piraku di sini artinya bukan pira punyaku, ya. Piraku artinya adalah &#8220;masa&#8221; (bukan masa waktu). Masa mempunyai arti keheranan atau tidak percaya seperti masa sih. Kata &#8220;piraku&#8221; digunakan saat kita seakan tidak percaya dengan sesuatu. Contohnya, \u201cPiraku man\u00e9h dahar sapo\u00e9 sakali (masa kamu makan sehari sekali)?\u201d dan kondisi-kondisi heran atau bingung lainnya.<\/p>\n<h4>#7 Timana<\/h4>\n<p>Kemudian ada kata &#8220;timana&#8221; yang artinya &#8220;dari mana&#8221;. Biasanya orang tua saya selalu kepo saat anaknya tidak kunjung pulang walau sudah larut malam. Ketika saya sudah sampai rumah blio akan bertanya, \u201cTimana wa\u00e9 atuh kas\u00e9p (Dari mana aja atuh ganteng)?\u201d dengan tatapan sinisnya.<\/p>\n<h4>#8 Kamana<\/h4>\n<p>Istilah Sunda tidak akan jauh-jauh dengan akhiran \u2013na seperti kata yang satu ini yaitu kamana. &#8220;Kamana&#8221; mempunyai arti &#8220;ke mana&#8221;. Orang-orang kan biasanya suka penasaran kalau ada yang pakaiannya rapi seperti sudah gatal untuk bertanya, \u201cBad\u00e9 kamana, Pak (mau ke mana, Pak)?\u201d padahal sudah jelas pakai baju kantor, ya mau ke kantor, lah.<\/p>\n<h4>#9 Kumaha<\/h4>\n<p>&#8220;Kumaha&#8221; artinya adalah &#8220;bagaimana&#8221;. Kata &#8220;kumaha&#8221; digunakan saat seseorang bertanya mengenai suatu cara untuk melakukan sesuatu atau menanyakan solusi terhadap suatu masalah. Kumaha juga bisa digunakan untuk menanyakan kabar seseorang seperti, \u201cKumaha damang (Gimana, sehat)?\u201d<\/p>\n<h4>#10 Aya-aya wa\u00e9<\/h4>\n<p>\u201cAya-aya wa\u00e9 atuh!\u201d ucap seseorang yang seakan menyesali suatu keadaan sambil turut bersimpati. &#8220;Aya-aya wa\u00e9&#8221; mempunyai arti ada-ada saja. Isitilah ini juga bisa digunakan saat seseorang mengalami kekecewaan terhadap suatu hal yang tidak terduga.<\/p>\n<h4>#11 Hor\u00e9am<\/h4>\n<p>Biasanya kata &#8220;hor\u00e9am&#8221; ini digunakan oleh orang-orang mageran. Kata &#8220;hor\u00e9am&#8221; mempunyai arti &#8220;males&#8221; atau &#8220;males, ah&#8221;. Seperti misalnya saat kamu akan berangkat kerja, tapi karena cuaca sedang hujan, jadinya kamu akan mengeluh, \u201cHor\u00e9am ah mangkat gaw\u00e9na og\u00e9 mending sar\u00e9 deui!\u201d (Males ah berangkat kerjanya juga mending tidur lagi aja!)<\/p>\n<h4>#12 Lieur<\/h4>\n<p>Kata &#8220;lieur&#8221; menunjukkan jika seseorang sedang pusing. Entah saat pusing kepala karena sakit atau pusing karena memikirkan sesuatu. Namun, kata &#8220;lieur&#8221; lebih sering digunakan saat seseorang sedang mumet-mumetnya karena dilanda masalah.<\/p>\n<h4>#13 Atuh<\/h4>\n<p>Kemudian ada istilah &#8220;atuh&#8221; yang sering dipakai oleh rata-rata orang Sunda dalam percakapan sehari-hari. Kata &#8220;atuh&#8221; ini dipakai sebagai kata tambah yang mempunyai arti &#8220;sih&#8221; atau &#8220;dong&#8221;. Misalnya, \u201cKunaon atuh (kenapa sih)!\u201d atau \u201cTah, kitu atuh (nah, gitu dong)!\u201d<\/p>\n<h4>#14 Tong sok api-api<\/h4>\n<p>&#8220;Tong sok api-api&#8221; artinya bukan tong yang ada apinya, tapi &#8220;jangan suka pura-pura&#8221;. Istilah ini sering digunakan oleh tuan rumah yang sedang kedatangan tamu yang malu-malu saat ingin mengambil makanan. Malu-malu, tapi mau.<\/p>\n<h4>#15 Tong asa-asa<\/h4>\n<p>Selanjutnya ada istilah &#8220;tong asa-asa&#8221; yang berarti &#8220;jangan ragu-ragu&#8221;. Istilah ini sebenarnya hampir sama pengaplikasiannya dengan istilah &#8220;tong sok api-api&#8221;. Namun, istilah &#8220;tong asa-asa&#8221; lebih sering digunakan pada kondisi tertentu yang membuat kita merasa tidak enak. Misalnya, saat kita sedang memijat orang tua, tapi takut orang tua kesakitan. \u201cTong asa-asa Ujang, penc\u00e9t w\u00e9h sing tarik (jangan ragu-ragu Ujang, pencet saja yang keras)!\u201d<\/p>\n<p>Nah, itulah istilah-istilah dalam bahasa Sunda yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari. Kalian yang bukan orang Sunda, sudah sering mendengar istilah yang mana saja, nih? Gimana? Apakah pemaparan dari saya cukup membantu menambah pemahamanmu soal istilah dalam bahasa Sunda?<\/p>\n<p>Penulis: Erfransdo<br \/>\nEditor: Audian Laili<\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini.<\/a><\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wahai bukan orang Sunda, merapatlah.<\/p>\n","protected":false},"author":654,"featured_media":165963,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"no","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[6512,13142,2209],"class_list":["post-165399","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-sunda","tag-istilah","tag-percakapan"],"modified_by":"Administrator","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/165399","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/654"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=165399"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/165399\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/165963"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=165399"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=165399"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=165399"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}