{"id":1653,"date":"2019-05-19T13:00:52","date_gmt":"2019-05-19T06:00:52","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=1653"},"modified":"2021-10-05T14:54:12","modified_gmt":"2021-10-05T07:54:12","slug":"nggak-enaknya-menjadi-seorang-penulis-dicap-pengangguran-sampai-dianggap-menjalani-laku-pesugihan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/nggak-enaknya-menjadi-seorang-penulis-dicap-pengangguran-sampai-dianggap-menjalani-laku-pesugihan\/","title":{"rendered":"Nggak Enaknya Menjadi Seorang Penulis : Dicap Pengangguran Sampai Dianggap Menjalani Laku Pesugihan"},"content":{"rendered":"<p>Di negara ber-<em>flower <\/em>\u00a0ini tidak selamanya menjadi penulis itu seenak yang dikatakan <span style=\"text-decoration: line-through;\">cocotnya <\/span>Mario Teguh<span style=\"text-decoration: line-through;\"> lur (ngapa Mario yang disalahin).<\/span> Hanya menggerakan jari dan pikiran di rumah bisa mendapatkan duit bejibun, populer, kaya raya dan matinya masuk surga. Oh tidak semudah itu Ferguso.<\/p>\n<p>Terkadang masyarakat awam banget menganggap bahwa penulis kerjanya disamakan dengan tukang ketik di Kelurahan, atau tukang ketik di <em>rental<\/em> komputer, Warnet, dan fotokopi-an. Ini masih mendingan. Saya memiliki cerita yang mengesankan sekaligus mengenaskan dari teman-teman yang berprofesi sebagai penulis, dari yang ga ada manis-manisnya hingga memiliki stigma miring di masyarakat.<\/p>\n<p>Berikut adalah beberapa daftar nggak enaknya jadi seorang penulis yang saya kumpulkan dari berbagai sumber.<\/p>\n<ol>\n<li><strong>Dicap pengangguran<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Menjadi penulis memang diperlukan kemampuan olah pikir, olah rasa, dan perenungan yang mendalam.\u00a0 Sebelum kemudian menemukan sebuah kesimpulan yang pada akhirnya akan berakhir pada pertanyaan lanjutan. Kegiatan menulis \u00a0memang identik dengan laku tapa dan ini tentu menjadi kelebihan tersendiri.<\/p>\n<p>Seorang kawan penulis mengaku bisa berhari-hari mengurung diri di dalam kamar untuk menulis. Selama 23 jam tidur dan satu jam menulis, lupa makan dan mandi. Tentu ini menjadi aktivitas yang luar biasa berat.<\/p>\n<p>Namun akan berbeda di mata masyarakat,\u00a0 karena\u00a0 masyarakat menganggap ciri-ciri orang yang disebutkan di atas adalah sebagai salah satu ciri pengangguran anti sosial akut. Betapa tidak, si teman ini hanya di dalam kamar selama berjam-jam bahkan berhari-hari untuk merampungkan satu tulisannya, tanpa pernah keluar untuk bersosialisasi selayaknya <em>Homo Sapiens.<\/em><\/p>\n<p>Dan ketika keluar saya membayangkan tubuhnya dipenuhi dengan sawang laba-laba, atau seperti cerita Ashabul Kahfi yang baru bangun dari goa beberapa ratus tahun setelah dimatikan.<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><strong>Dianggap menjalani laku pesugihan, ngepet misalnya.<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Pokoknya di mata masyarakat penulis itu profesi antara ada dan tiada. Penulis yang nggak miskin-miskin amat, memiliki pemikiran, dan penghasilan yang moncer, tentu saja menjadi kebanggaan tersendiri bagi si penulis. Tapi tidak dengan pandangan masyarakat yang menyerupai netizen, maha benar netizen dengan segala komentarnya.<\/p>\n<p>Ada di kalangan masyarakat yang menganggap bahwa penulis melakukan laku pesugihan. Anggapan ini sebenarnya bukan tanpa alasan. Salah satu teman saya yang berprofesi sebagai penulis hanya keluar di pagi hari ngopi di teras rumah, lalu menyalakan rokok pas-pus pas-pus dengan pongahnya, tapi kemudian di tanggal tertentu dia pulang dengan membawa seabreg buku yang memiliki ketebalan bervariasi.<\/p>\n<p>Bagi sebagian masyarakat kita yang mulai terkikis rasa <em>khusnuzon-<\/em>nya, tentu saja hal ini akan mengundang kecurigaan masyarakat di negara +62. Orang yang kerjanya hanya ngopi dan <em>udad-udud<\/em> <em>thok<\/em>, \u00a0kok memiliki penghasilan yang tak terduga. Darimanakah sumber penghasilannya itu kalau bukan dari laku pesugihan dan <em>ngepet<\/em>, hmm.<\/p>\n<ol start=\"3\">\n<li><strong>Tulisan dimuat sekali, dimintai traktir berkali-kali<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n<p>Kita mafhum dengan pepatah modern di atas. \u00a0\u201cAsal kamu tahu ya\u201d kata salah satu teman saya dengan nada dibuat sok seriyes \u00a0\u201cpenulis itu menghidupi sekaligus dihidupi oleh tulisannya\u201d, <em>jero-jero, ora umum-ora umum<\/em>.<\/p>\n<p>Baginya ketika ia tidak menulis maka dapur tidak mengepul, pun tidak hidup apinya. Meskipun ada kopi dan gula yang sudah tersedia, tapi gas habis kan api tetap tidak hidup, mau beralih ke dahan dan ranting males <em>repek<\/em>, mau beli galon <em>eman-eman<\/em>, dispenser warisan rusak.<\/p>\n<p>Lebih parahnya lagi ketika satu tulisan dimuat, teman-teman di sekelilingnya langsung beramai-ramai mengucapkan selamat, sekaligus beramai-ramai minta traktiran, wah ini menjadi kiamat kecil bagi penulis kere yang kurang produktif.<\/p>\n<p>Hal traktir-traktiran ini mungkin tidak menjadi masalah bagi dewanya novel sekelas Tere Liye (dalam Kumcer Pelisaurus, GTA menulis Kere Piye, entah ada dendam apa di antara mereka), mau nraktir orang-orang se-Indonesia pun dia sanggup insyaallah.<\/p>\n<p>Lalu bagaimana dengan penulis-penulis kelas <em>pace <\/em>semi <em>cembrean<\/em>, yang baru mencoba menapaki jalan kepenulisannya, yang dipenuhi dengan derita kelaparan, kedinginan, dan insomnia? Yang baru beberapa kali tulisannya dimuat, namun baru sekali ia menerima honor. harus menghadapi pahitnya rudapaksa secara halus dengan mengatasnamakan syukuran dan makan-makan.<\/p>\n<p>Padahal perutnya harus rela berkali-kali diganjal batu, dan kopi yang dia minum tinggal ampas dan harus rela ia seduh beberapa kali sampai pahit kopi berubah menjadi hambar kopi. Kopi yang berubah menjadi butek, karena kehilangan pekat hitamnya.<\/p>\n<p>Tentu saja kisah ini sebagian fiktif dan sebagian bukan fiktif belaka, ada teman penulis yang curhat sama saya, tapi kemudian saya <em>adem-ademi<\/em> supaya ga terlalu frustrasi dan memikirkannya, karena saya juga sering minta <a href=\"https:\/\/mojok.co\/apk\/ulasan\/pojokan\/budaya-minta-traktir-ulang-tahun-buat-apa\/\">traktir<\/a> <em>sih<\/em>.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Terkadang masyarakat awam banget menganggap bahwa penulis kerjanya disamakan dengan tukang ketik di Kelurahan, atau tukang ketik di rental komputer.<\/p>\n","protected":false},"author":76,"featured_media":1682,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[448,447,449],"class_list":["post-1653","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-ngepet","tag-penulis","tag-traktir"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1653","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/76"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1653"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1653\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1682"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1653"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1653"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1653"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}