{"id":164690,"date":"2022-02-14T10:00:09","date_gmt":"2022-02-14T03:00:09","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=164690"},"modified":"2022-02-14T09:54:19","modified_gmt":"2022-02-14T02:54:19","slug":"9-film-romantis-indonesia-yang-bikin-nyesek","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/9-film-romantis-indonesia-yang-bikin-nyesek\/","title":{"rendered":"9 Film Romantis Indonesia yang Bikin Nyesek"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bulan Februari kerap dihubungkan dengan cinta karena keterkaitannya dengan hari Valentine. Menyambut hal ini, banyak konten soal cinta yang muncul dan juga dicari, termasuk soal film romantis. Bicara soal film romantis, film Indonesia mungkin bisa dijadikan pertimbangan untuk menemani valentine Anda. Toh bagi saya, kebanyakan film romantis Indonesia punya catatan menarik tersendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film-film Indonesia memang jauh dari kata asing soal genre romance. Buktinya, sampai muncul julidan ke industri film Indonesia yang dianggap selalu membuat film dengan genre yang itu-itu saja, yaitu romance dan horor. Tapi bagi saya, sama halnya dengan horor, tidak ada yang salah dengan Indonesia yang terus membuat film bergenre romantis. Apalagi selama ini Indonesia cukup sukses membuat film romantis yang bagus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk menilainya secara keseluruhan, nilai \u201cbagus\u201d memang bisa diperdebatkan. Bicara kuantitas, ada banyak film Indonesia bergenre romance yang tidak berkualitas dengan alasan klise, minim inovasi, dan memang banyak cela secara teknis. Tapi di sisi lain, ketika Indonesia berhasil membuat film romantis, kualitasnya bukan sembarangan, dan yang bisa dibanggakan tidak itu-itu saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan secara tidak sengaja, saya menyadari bahwa film-film romantis Indonesia yang dianggap memukau ini memiliki kesamaan, yaitu jago bikin penonton nyesek. Mau tau apa saja judul-judulnya? Monggo disimak.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Ada Apa Dengan Cinta?\u00a0<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai perkenalan, mari buka dengan film romantis paling legendaris di negeri ini. Lho? Memangnya <em>Ada Apa Dengan Cinta?<\/em> nyesek? Terlepas dari sekuelnya, saat itu film AADC sukses dan melegenda dengan ending yang nyesek ketika Cinta dan Rangga berujung terpisah. Sebagai remaja SMA, mereka tidak bisa mengatasi berbagai masalah seperti gengsi dan konflik persahabatan. Meski sudah tahu endingnya, film ini rasanya masih layak jadi tontonan di zaman sekarang.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Hari Untuk Amanda<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film ini bercerita mengenai Amanda yang terpaksa harus menyebarkan undangan pernikahannya bersama mantan kekasihnya. Film yang memiliki banyak adegan ngobrol ini dikemas dengan sederhana, namun tetap memikat hati. Film berhasil membuat penonton dilematis akan pilihan akhir Amanda dan akhirnya pilihan itu akan membuat penonton nyesek.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Sang Penari<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film ini merupakan adaptasi novel sastra <em>Ronggeng Dukuh Paruk<\/em>. Bercerita mengenai kisah cinta Srintil dan Rasus yang terhalang adat lokal, film <em>Sang Penari<\/em> memiliki premis yang sangat menarik dan unik. Pasalnya, Srintil yang merupakan penari Ronggeng memiliki ritual yang dianggap menabrak norma di era sekarang. Selain status Srintil sebagai penari Ronggeng, cintanya pada Rasus juga harus diuji peristiwa kelam G30 S-PKI. Kurang nyesek apa coba rintangannya? Meski begitu, daya jual film ini bukan cuma nyesek, tapi juga konteks budaya dan sejarah yang menarik.<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 Posesif<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melalui film ini, kita akan menyelami kehidupan percintaan Lala dan Yudhis, di mana mereka terjebak abusive relationship. Menariknya, film ini secara serius mencoba mengupas apa yang terjadi pada pasangan toxic ini. Hasilnya, saya sebagai penonton turut terhanyut pada hubungan yang ternyata kompleks ini, dan berakhir dengan perasaan nyesek tapi lega. Aftertaste yang menarik, kan?<\/span><\/p>\n<h4><b>#5 Radit dan Jani<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Upi sebagai sutradara berhasil mengemas film yang cukup mengecoh. <em>Radit dan Jani<\/em> dibuka dengan pemaparan kehidupan percintaan pasangan begajulan Radit dan Jani yang ala ala Sid dan Nancy. Awalnya Radit dan Jani tampak keren dengan kehidupan dengan tingkah sok rebelnya (padahal toxic).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBahagia itu kita yang ciptain, bukan mereka,\u201d kata Radit. Gokil nggak tuh? Sayangnya, di akhir cerita Upi berhasil menampar penonton secara nyesek dengan pesan bahwa hidup dan berpasangan tidak bisa dijalani tanpa kesadaran bertanggung jawab.<\/span><\/p>\n<h4><b>#6 Love For Sale<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film ini bercerita mengenai Richard, sang jomblo tua yang perilakunya ngeselin. Suatu hari, melalui aplikasi dating, dia memesan seorang wanita bernama Arini. Selama masa pelayanan Arini, dia berhasil mengubah perilaku Richard melalui cinta. <em>Love For Sale<\/em>\u00a0memperlihatkan bagaimana cinta berhasil mengubah seseorang menjadi lebih baik. Hingga akhirnya penonton dibuat nyesek ketika masa pelayanan Arini telah usai.<\/span><\/p>\n<h4><b>#7 Gita Cinta dari SMA<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Film legendaris tahun 1979 ini mungkin tidak banyak ditonton penonton era sekarang. Tapi, pasti banyak orang tahu nama pasangan Galih dan Ratna. Bagi yang penasaran kenapa nama mereka populer, tidak lain jawabannya adalah karena kisah cintanya yang nyesek. Galih dan Ratna adalah remaja yang kisah cintanya harus terhalang kehendak orang tua yang berbeda suku dan status ekonomi. Anda juga bisa menonton film remake-nya berjudul <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Galih dan Ratna<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang juga dikemas menarik secara lebih modern.<\/span><\/p>\n<h4><b>#8 A Copy of My Mind<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Joko Anwar tidak jago bikin film horor atau thriller. Blio pernah membuat cerita romantis mengenai pasangan kelas pekerja bernama Sari dan Alek. Sayangnya kisah cinta mereka harus terhalang situasi pelik ketika secara tidak sengaja terjebak dengan masalah para politikus. Bukan cuma nyesek, dijamin Anda juga bakal geram.<\/span><\/p>\n<h4><b>#9 Dua Garis Biru<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekilas, film yang satu ini tampak seperti film romantis remaja yang manis. Namun, <em>Dua Garis Biru<\/em> mengajak kita mendalami isu hamil usia muda dengan potensi pernikahan usia muda. Kita akan melihat bagaimana remaja naif seperti Dara dan Bima harus menghadapi konsekuensi dari akibat perbuatan mereka. Kejadian ini tentunya akan mendewasakan mereka dan juga penonton bahwa hubungan pernikahan dan membesarkan anak bukanlah persoalan main-main.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhammad Sabilurrosyad<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n<h5><em>Anda penulis Terminal Mojok? Silakan bergabung dengan Forum Mojok\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/forum\/daftar\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">di sini<\/a>.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Film romantis Indonesia yang bagus tuh yang ending-nya bikin penonton nyesek.<\/p>\n","protected":false},"author":1449,"featured_media":164693,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13081],"tags":[20,3647,9436],"class_list":["post-164690","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-film","tag-film-indonesia","tag-romantis","tag-sad-ending"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/164690","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1449"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=164690"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/164690\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/164693"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=164690"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=164690"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=164690"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}