{"id":163583,"date":"2022-02-07T12:00:56","date_gmt":"2022-02-07T05:00:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=163583"},"modified":"2022-02-06T23:26:08","modified_gmt":"2022-02-06T16:26:08","slug":"sejarah-pantun-betawi-dan-aturan-membuatnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sejarah-pantun-betawi-dan-aturan-membuatnya\/","title":{"rendered":"Sejarah Pantun Betawi dan Aturan Membuatnya"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bicara Jakarta, takkan lepas dari etnis Betawi. Saat ini etnis Betawi di Ibukota jumlahnya sekitar 27,65 persen dari seluruh etnis di Jakarta (data sensus penduduk tahun 2000). Generasi etnis Betawi asli sendiri sudah menyebar ke luar Jakarta yakni Depok, Bekasi, Bekasi, Tambun, Cikarang, Tangerang, Karawang, Cimanggis, Depok, Cibinong (tempat saya tinggal), bahkan sampai Bogor.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak heran kalau di Jakarta sendiri etnis Betawi yang ada merupakan hasil kawin campur banyak etnis dan sudah banyak menggunakan dialek Jakarta alih-alih bahasa Betawi dialek Melayu. Seperti yang dikatakan seniman dan budayawan Betawi, Abdul Chaer dalam buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Folklor Betawi <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2012). Dan memang kalau kita amati sudah lama di kalangan anak muda di Jakarta marak bahasa-bahasa alay, gaul, atau gaya bahasa anak Jaksel dengan campuran istilah-istilah Inggrisnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun demikian, ada satu ciri khas etnis Betawi yang masih tetap melekat selain gaya berbicara yang ceplos-ceplos, humoris, apa adanya. Seperti kita saksikan dalam penampilan tokoh-tokoh Betawi legendaris seperti <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Benyamin_Sueb\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Benyamin Sueb<\/a>, Bang Mandra, Babeh Ridwan Saidi, Babeh Zahrudin si Raja Pantun Betawi, dan lain-lain. Ciri tersebut adalah tradisi lisan berpantun yang masih dilestarikan hingga kini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masih adanya grup-grup kesenian palang pintu maupun Lenong Betawi bahkan lomba-lomba pantun Betawi yang diselenggarakan di masa pandemi ini oleh Pemerintah DKI, perusahaan-perusahan hingga partai politik adalah tanda pantun Betawi masih berdenyut dan masih hidup tak hanya di sanubari.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">***<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika menilik KBBI, pantun adalah bentuk puisi Indonesia (Melayu), tiap bait (kuplet) biasanya terdiri atas empat baris yang bersajak (a-b-a-b). Tiap larik biasanya terdiri atas empat kata, baris pertama dan baris kedua biasanya untuk tumpuan (sampiran) saja dan baris ketiga dan keempat merupakan isi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam buku <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pantun Betawi<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang ditulis Maman Mahayana (2008), disebutkan bahwa Prof. Dr. R.A. Hoesin Djajadiningrat dalam pidatonya pada Peringatan 9 Tahun berdirinya sekolah Hakim Tinggi di Betawi, 28 Oktober 1933, menyatakan pantun banyak menarik perhatian peneliti Barat sejak 1688. Dan beberapa hasil penelitian terdahulu tentang pantun menyatakan pantun adalah hasil karya yang telah tersebar luas di Nusantara tak terhalang sekat agama dan strata sosial di masyarakat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Referensi lainnya mengungkapkan bahwa pantun Betawi disebarkan oleh pedagang Gujarat pada abad ke-15 untuk menyebarkan pesan dan nasehat keagamaan. Hingga akhirnya pada abad ke-17 hingga ke-18, datang pula orang Melayu ke Betawi yang menjadikan pantun sebagai syair curahan hati.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut almarhum Bang Rachmat Sadeli\u2014abang dan guru saya sekaligus seorang penggiat budaya Betawi dalam seminarnya 2019 lalu, menjelaskan pantun adalah bagian dari sastra (puisi) lama yang tujuannya sebagai alat komunikasi dengan ragam tujuan baik sarana menyampaikan nasihat, hiburan, bahkan sebagai bentuk kritik sosial, tanpa harus melukai perasaan orang yang mendengarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas apa yang menjadi ciri khas pantun Betawi dibanding pantun Melayu atau pantun lainnya di Indonesia? Yang menonjol dari pantun Betawi adalah ekspresi spontan khas etnis Betawi pada sampiran dan isi dengan tetap mengutamakan kesamaan bunyi\/rima dari pola a-b-a-b sesuai kaidah pantun pada umumnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan jenis dan fungsinya, pantun ada yang berisi nasihat, agama, humor, rumah tangga, politik dan masih banyak lagi. Masih dari buku Maman Mahayana, menurutnya ada 32 jenis pantun sesuai tema dan isinya. Sementara Raja Pantun Betawi, Babeh Zahrudin dalam bukunya \u201c1500 Pantun Betawi (2014) membagi pantun hingga 319 jenis berdasarkan isinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Umumnya pantun terdiri dari empat baris, setiap baris terdiri dari 8-12 suku kata, terdapat sampiran dan isi, memakai rima berpola a-b-a-b. Mari kita coba membuat pantun dengan pola ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampiran 1: \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau makan buah kenari,<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampiran 2: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">jangan ditelen biji-bijinye.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Isi 1: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Maksud ape dateng kemari,<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Isi 2: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">boleh tahu apa maksudnye\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mari kita kupas pantun palang pintu tersebut. Rima \u201cri\u201d pada kata \u201ckenari\u201d di sampiran pertama sudah sesuai dengan rima \u201cri\u201d pada kata \u201ckemari\u201d di isi pertama. Begitu pula rima \u201cnye\u201d pada kata \u201cbijinye\u201d pada sampiran kedua dengan rima \u201cnye\u201d pada kata \u201cmaksudnye\u201d di isi kedua.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perlu diperhatikan juga sebaiknya sampiran pertama dan kedua pantun harus nyambung. Contoh yang nggak nyambung.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampiran 1: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPagar kawat dindingnya bata<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampiran 2: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ada macan tajam kukunye.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Isi 1:<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Salam Salawat pembuka kata,<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Isi 2: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kenalin Ucan Cibinong rumahnye\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Coba perhatikan, antara sampiran 1 dan sampiran 2 kelihatan nggak nyambung antara \u201cpagar kawat dindingnya bata\u201d dengan \u201cada macan tajam kukunye\u201d, meskipun isi 1 dan 2 sudah nyambung. Sebaiknya sampiran 2 diganti jadi \u201ckandang macan itu namanye\u201d. Jadi nyambung dengan pagar kawat dindingnya bata. Itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedapat mungkin pula tidak menggunakan nama orang sebagai pelengkap pantun demi mencari rima yang pas. Bisa jadi orang yang mempunyai nama yang sama kurang berkenan namanya digunakan. Masih banyak kosakata yang berima senada dengan kata di sesuai isi pantun. Misalnya kata \u201cBetawi\u201d, padanan untuk sampirannya bisa Ciawi, sawi, kawi-kawi, dan kiwi alih-alih pake nama Mpok Dewi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampiran 1: \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Lihat Mpok Dewi badannya kurus,<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampiran 1: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">makannye mangga sama Markonah\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Isi 1: \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Orang Betawi banyak maen jurus,<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Isi 2: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ayo dijaga jangan ampe punah\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebaiknya sampirannya diganti jadi:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampiran 1: \u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ke Ciawi jalannya lurus,<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampiran 2: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mampir beli mangga dibawa ke rumah\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk pantun yang tertulis, saya pikir sebaiknya menggunakan kaidah tidak hanya rima di akhir tiap baris sampiran atau akhir baris isi pantun saja yang sama. Namun, rima di kata kedua setiap baris sampiran, harus sama pula dengan rima akhir kata kedua baris isi pantun. Mari kita coba buat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama-tama tentukan dahulu temanya. Misalnya tema budaya Betawi. Mulai buat dua baris isi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Isi 1:<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u201cNggak afdol ngaku Betawi,<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Isi 2:<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> kalo ngebesan nggak ada palang pintu\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perhatikan kata dari isi, berikut pola rimanya. Lalu buatlah sampiran yang disesuaikan dengan isi pantun. Misalnya:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampiran 1: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMakan dodol di Pasar Ciawi,<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampiran 2: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dikasih bungkusan dari pisang batu\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada contoh pantun Betawi di atas, rima \u201cwi\u201d pada kata \u201cCiawi\u201d di baris sampiran ke-1 dengan rima \u201cwi\u201d pada kata \u201cBetawi\u201d di baris isi ke-1 sudah senada. Begitu pula rima \u201ctu\u201d pada kata \u201cbatu\u201d masih di sampiran 1 dengan dan rima \u201ctu\u201d pada kata \u201cpintu\u201d masih pada baris isi ke-1 masih senada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selanjutnya untuk rima \u201cdol\u201d pada kata \u201cdodol\u201d di sampiran ke-2 dengan rima \u201cdol\u201d pada kata \u201cafdol\u201d di baris isi ke-2 sudah senada. Begitu juga rima \u201csan\u201d pada kata \u201cbungkusan\u201d masih di sampiran ke-2 dengan rima \u201csan\u201d pada kata \u201cngebesan\u201d di baris isi ke-2, masih senada pula, Sehingga menjadi harmonis dibacanya jika ditulis maupun didengar jika diucapkan lisan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201c<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Makan dodol di Pasar Ciawi, dikasih bungkusan dari pisang batu<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201d<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKurang afdhol ngaku Betawi, kalo ngebesan nggak ada palang pintu\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah kira-kira aturan dalam membuat pantun ala Betawi. Gimana, gimana? Asyik,\u2019kan, pantun Betawi?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Suzan Lesmana<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Masak aer biar mateng.<\/p>\n","protected":false},"author":1247,"featured_media":163635,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[3271,11409],"class_list":["post-163583","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-betawi","tag-pantun"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/163583","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1247"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=163583"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/163583\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/163635"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=163583"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=163583"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=163583"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}