{"id":162579,"date":"2022-02-03T09:00:44","date_gmt":"2022-02-03T02:00:44","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=162579"},"modified":"2022-02-03T06:02:51","modified_gmt":"2022-02-02T23:02:51","slug":"panduan-membaca-suasana-hati-orang-blitar-dari-nada-peh-yang-dipakai","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-membaca-suasana-hati-orang-blitar-dari-nada-peh-yang-dipakai\/","title":{"rendered":"Panduan Membaca Suasana Hati Orang Blitar dari Nada Peh yang Dipakai"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kuliah di Malang ternyata tak semudah yang saya kira. Selain giat belajar, saya juga harus memahami setidaknya 3 kubu besar penguasa bahasa sehari-hari di Malang, yakni Malangan, Jakartanan, dan bahasa AG-an alias bahasa yang dibawa cah-cah Blitar, Kediri, Tulungagung, dan Nganjuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berkat kemampuan beradaptasi yang bagus ditambah ngekos di tempat yang mayoritas cah Blitar, akhirnya saya jadi lebih lancar berbahasa mBlitaran. Dari situ saya jadi tahu kalau bahasa Blitar dan teman-teman AG-nya ternyata punya ciri yang sama, yakni penggunaan kata &#8220;peh&#8221; hampir di tiap kesempatan. S<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">uasana hati cah Blitar dapat diketahui dari nada &#8220;peh&#8221; yang mereka pakai, lho. Berikut panduannya.<\/span><\/p>\n<h4><strong>#1 &#8220;Peh&#8221; sekali di awal dengan nada datar<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika bertemu cah Blitar yang menggunakan &#8220;peh&#8221; dengan datar di awal kalimat, boleh dibilang orang tersebut hendak bercerita tentang kejadian yang baru dia alami. Misalnya, \u201cPeh, dalane jan macet tenan!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang perlu kita lakukan saat berada dalam situasi seperti itu adalah cukup mendengarkan. Kalau ceritanya lucu, boleh lah kita tertawakan dan sedikit dibercandai, karena itu berarti suasana hati si penutur biasa-biasa saja.\u00a0<\/span><\/p>\n<h4><strong>#2 &#8220;Peh&#8221; banyak e-nya ditambah dengan senyum simpul<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika teman kita mengatakan &#8220;peh&#8221; dengan banyak &#8220;e&#8221; sambil tersenyum simpul dengan nada keras, tandanya dia sedang senang. Bisa senang karena mendapat keberuntungan, atau malah ikut senang karena temannya juga sedang senang. Misalnya bilang, \u201cPeeeeeeh, saiki wes mobilan,\u201d ketika bertemu teman lamanya yang sudah sukses. Atau \u201cPeeeeeeeeeeeeh, aku lho ora njaluk kok ditukokno,\u201d ketika dibeliin motor KLX tanpa nendang pintu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang bisa kita lakukan adalah ikut tertawa saja atau sedikit membanggakan diri. Oh ya, semakin keras teriakan dan semakin banyak &#8220;e&#8221; yang digunakan, berarti makin tinggi pula tingkat kebahagiaan yang si penutur rasakan.<\/span><\/p>\n<h4><strong>#3 &#8220;Peh&#8221; tapi h-nya banyak<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cah Blitar akan menggunakan &#8220;peh&#8221; jenis ini ketika terkejut. Bisa terkejut karena mendapat kabar bahagia maupun karena mendengar cerita yang sangat lucu. Misalnya begini, \u201cPehhhhh, mosok ngono to? Hahaha!\u201d Biasanya kalimat tersebut muncul kalau mereka mendengar lawakan yang lucu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi, kalau ada cah Blitar dan AG-an bilang &#8220;peh&#8221; dengan &#8220;h&#8221; banyak, dapat dikatakan dia sedang terkejut atau karena mendengar cerita lucu. Jadi mau diapa-apain saja ya nggak apa-apa, soalnya dia lagi senang.<\/span><\/p>\n<h4><strong>#4 &#8220;Peh&#8221; ditambah &#8220;jawane&#8221;<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika bertemu cah Blitar yang sedang cerita kemudian melontarkan kata &#8220;peh&#8221; yang ditambah dengan &#8220;jawane&#8221;, dapat dipastikan orang tersebut sedang merasa gelisah dan ingin menjelaskan sesuatu kepada orang yang sedang diajak ngobrol. Sebab, bisa saja dia baru melakukan kesalahan atau terjadi kesalahpahaman.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya, \u201cPeh, jawane tembak ket wingi-wingi yo.\u201d Biasanya kalimat tersebut dilontarkan kalau dia ditikung orang lain lantaran kelamaan ngegantung gebetannya. Kamu boleh ngece atau menasihatinya, tergantung seberapa dekat kamu dengan orang tersebut.<\/span><\/p>\n<h4><strong>#5 &#8220;Peh&#8221; dengan banyak h ditambah &#8220;peh&#8221; lagi<\/strong><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ada cah Blitar menggunakan &#8220;peh&#8221; seperti ini, dapat dipastikan dia sedang kesel atau jengkel. Bisa karena anaknya nggak pulang-pulang, diputusin pacar, maupun ketipu di situs judi onlen. Misalnya, \u201cPehhh peh, saben ndino tak jajakke kok malah njaluk pegat!\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang bisa kita lakukan ketika menemui hal seperti ini adalah diam saja. Takutnya kalau dikomentari nanti dia malah tambah pusing dan jengkel. Kalau nggak hati-hati, bisa-bisa kita diantemi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh ya, jika &#8220;peh&#8221; ditambah dengan &#8220;u&#8221;, tingkatannya jadi lebih tinggi lagi, baik itu rasa senang, sedih, maupun kecewanya. Misalnya, \u201cPueh, jan ajur tenan aku saiki.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah 5 tipe pelafalan &#8220;peh&#8221; yang bisa dijadikan panduan untuk memahami isi hati cah Blitaran dan teman-teman AG-nya. Semoga panduan ini bisa berguna buat kalian yang lagi mbribik cah Blitar dan sekitarnya, yak!<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Imron Amrulloh<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pehhh peh, saben ndino tak jajakke kok malah njaluk pegat!<\/p>\n","protected":false},"author":765,"featured_media":162889,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[9519,14774],"class_list":["post-162579","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-blitar","tag-peh"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/162579","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/765"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=162579"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/162579\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/162889"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=162579"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=162579"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=162579"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}