{"id":162317,"date":"2022-01-29T13:00:59","date_gmt":"2022-01-29T06:00:59","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=162317"},"modified":"2022-01-29T12:16:22","modified_gmt":"2022-01-29T05:16:22","slug":"ronaldowati-sinetron-jadul-yang-menyindir-pssi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/ronaldowati-sinetron-jadul-yang-menyindir-pssi\/","title":{"rendered":"Ronaldowati, Sinetron Jadul yang Menyindir PSSI"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat perjuangan Timnas Putri Indonesia, tak ada yang lebih pantas saya sematkan selain rasa bangga dan guyuran ucapan terima kasih. Kompetisi yang minim, perhatian yang minim (dicuekin), kini harus ditambah otak yang minim. Banyak yang menghina mereka dengan kalimat-kalimat alay. Yang komposisinya hanya terdiri dari bualan serta mengesampingkan masalah struktural dalam dunia sepak bola kita. Wis, pancen angel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Melihat apa yang terjadi di persepakbolaan dalam negeri, seperti melihat Mbak Kinan yang dikhianati, perih. Bahkan, perihnya terasa hingga proton dan elektron dalam setiap atom. Mempersiapkan penerus misalnya, tak bisa hanya berdiam diri tanpa ada kompetisi sejak dini dan sarana yang baik. Mau punya bibit unggul tapi seolah beli lotre. Kalau nanti hasilnya bagus, ya, syukur alhamdulillah. Kalau ternyata nggak sesuai ekspektasi, tinggal bilang proses itu tak penting. Intinya dipaido terus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal berbeda saya dapatkan dari semesta sinetron. Seorang bocah berambut nanggung, menjadi bintang utamanya. Ialah Ronaldowati, yang kerjaannya ngobrol sama poster Ronaldo dari Brazil. Gaya rambut yang khas itu menjadi trademark dari tokoh utamanya. Gaya rambut kuncung yang bikin saya gemes pengin jambak. Meski konyol, ada banyak hal baik yang bisa kita ambil dari sinetron yang dahulu saya saksikan bersama sepupu dan tetangga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mereka adalah tim yang sakti, pun tak tertandingi. Ada Bombom, sang kiper yang memiliki tubuh besar seringan kapas. Bahkan bola bisa dipilin dengan mudah. Ceking, sang gelandang yang kadang jadi pemain belakang yang bisa lari cepat. Konon, ia bisa berlari lebih cepat dari Joko Tjandra.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada juga Rimbi, si ahli capoeira. Yang jika dipikir dengan akal sehat, ngapain juga pemain bola bisa capoeira? Tapi, ternyata skill-nya berguna. Lalu ada Iwan, intinya dia jago, mirip Wati. Tak lupa, Mat Gondrong, pemain serba bisa dan bisa lompat tinggi, serta menyundul bola dengan presisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari yang saya uraikan, mereka seperti gerombolan nggak guna. Nyatanya memang begitu. Awalnya mereka sudah punya bakat dan kekuatan terpendam, tapi tak jua berkembang. Hingga muncul seorang pelatih bernama Ustad Adi. Nah, si ustad inilah yang menyatukan mereka. Terbentuklah tim super keren sakti mandraguna. Mereka dilatih dengan keras, pun berlatih hingga badan lemas. Mirip kayak Tim 7 yang dilatih Kakashi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang asik adalah, orang-orang antusias untuk menyaksikan setiap pertandingan dengan damai. Meski tinggal di kampung, kompetisi tak pernah surut, selalu ada. Selain itu, orang-orang juga ikut beperan serta dan nggak cuma nyinyir kalau menang, dan menghina kalau kalah. Tentu ada match fixing, ada kecurangan, juga permainan kotor orang dalam. Semua itu dibabat habis hingga akar-akarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Intinya, mereka bisa menciptakan lingkungan yang baik untuk tumbuh kembang atlet. Bahkan, mendatangkan pemain internasional untuk melatih dan menginspirasi (dalam hal ini, Ronaldikin yang dipilih, hadeh). Sesuatu yang sulit didapatkan di dunia nyata.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bayangkan, anak sekecil mereka sudah sering ikut pertandingan, pun punya sarana dan prasarana lengkap. Akhirnya mereka jadi pemain hebat dan berprestasi, bikin bangga kampungnya. Apalagi pertandingannya seru. Ada sinar-sinar ajaib, pemain yang penuh atraksi, hingga gempa bumi tiap Ronaldowati menendang bola. Hiperbola yang sungguh nikmat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, dari semua itu, hal yang paling aneh adalah: tak ada federasi sepak bolanya. Bayangkan, tanpa federasi saja tim Ronaldowati bisa sehebat itu, apalagi kalau punya. Meski sudah berhasil membuat ekosistem yang baik, punya federasi itu memang penting. Itu adalah marwah bangsa. Meski tetap saja, wajib punya federasi itu satu hal. Dan federasi yang waras pun mampu membangun ekosistem yang sehat, itu hal lain lagi.<\/span><\/p>\n<p>Bayangkan andai di universe\u00a0<em>Ronaldowati<\/em> ada federasinya. Mungkin mereka tiap tahun memperebutkan Piala Dunia Klub melawan Real Madrid. Ronaldowati mungkin muncul di highlight YouTube, mencetak gol rabona, membobol gawang Courtois. Atau si Ceking jadi gelandang termahal di dunia, direkrut oleh PSG. Atau si Iwan yang akhirnya direkrut oleh MU, jadi tandem Greenwood.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, kita punya federasi. Tapi, federasi kita belum berbuat maksimal. Menurut mereka mungkin maksimal. Sebab, video call pemain itu jauh lebih penting ketimbang mengurus jadwal yang sehat serta membenahi kebobrokan. Susah lho video call pemain tuh. Kalau di-reject, gimana? Kalau membenahi sepak bola, itu bisa besok-besok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari Ronaldowati kita belajar, federasi itu ada atau nggak ada sama aja di Indonesia. Sebab, sekalipun ada, ya tak ada bedanya. Pokoknya begitu.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Bayu Kharisma Putra<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ronaldowati bisa datengin Ronaldikin. San666ar.<\/p>\n","protected":false},"author":1151,"featured_media":162368,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13083],"tags":[3416,14744,14745],"class_list":["post-162317","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-acara-tv","tag-pssi","tag-ronaldowati","tag-timnas-putri"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/162317","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1151"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=162317"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/162317\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/162368"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=162317"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=162317"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=162317"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}