{"id":162284,"date":"2022-01-29T16:00:08","date_gmt":"2022-01-29T09:00:08","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=162284"},"modified":"2022-01-29T14:22:55","modified_gmt":"2022-01-29T07:22:55","slug":"panduan-memberi-nama-anak-yang-baik-dan-benar","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-memberi-nama-anak-yang-baik-dan-benar\/","title":{"rendered":"Panduan Memberi Nama Anak yang Baik dan Benar"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekarang ini nama-nama anak bisa dibilang keren-keren. Ada yang berasal dari dewa-dewa, ada yang berasal dari naskah-naskah kuno dan lain sebagainya. Nama-nama keren tersebut tentu saja memiliki arti dan filosofinya masing-masing. Hal ini tentu tidak dapat dilepaskan dari kreatifitas para orang tua untuk mencari inspirasi hingga tercipta nama anak yang bisa dibilang keren.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun demikian, ternyata masih banyak orang tua yang terlalu kreatif dalam memberi nama anaknya, hingga lupa aspek-aspek yang harus dipenuhi dari nama tersebut. Banyak sekali nama-nama yang pada akhirnya aneh didengar dan sulit untuk diucapkan. Untuk itulah saya berniat memberikan panduan memberi nama anak yang baik dan benar.<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Hindari awalan huruf A<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Poin pertama yang harus dilakukan oleh orang tua dalam memberi nama anak adalah menghindari awalan A. Misal Anisa, Ahmad, Agus, dan lain sebagainya. Sebenarnya tidak ada masalah dari arti dan filosofi nama berawalan A. Masalah baru akan timbul ketika anak tersebut masuk ke sekolah. Seperti yang kita ketahui, pada sekolah di Indonesia diterapkan yang namanya ulangan tengah semester, juga ulangan akhir semester atau unggah-ungahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ketika orang tua memberi nama sang anak dengan awalan A, hal ini akan merepotkan sang anak ketika melaksanakan ulangan atau ujian. Pasalnya nama siswa yang memiliki awalan A, berpotensi untuk menduduki absen nomor satu, setidaknya dapat nomor absen awal. Dengan absen tersebut, tentu akan memperbesar potensi bagi sang anak untuk duduk persis di depan pengawas. Hal tersebut terlihat sepele. Namun, sebenarnya hal itu sangat membebani sang anak. Anak tersebut tidak dapat menoleh kanan maupun kiri. Bahkan sekadar menunduk pun bisa dituduh nyontek.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Hindari awalan huruf Z<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tadi tentang orang tua harus menghindari awalan A ketika memberi nama anak. Pada poin kedua ini, orang tua harus menghindari awalan Z bagi anak-anaknya. Selain karena potensi duduk di depan pengawas juga besar, jika dibalik susunannya. Penamaan anak dengan awalan Z akan membuat anak tersebut menjadi yang terakhir dalam berbagai hal. Tentu bukan bicara soal prestasi, tapi soal yang lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalkan saat absen, anak berawalan Z akan selalu dipanggil yang paling akhir. Parahnya lagi jika urutan absen ternyata menentukan urutan pulang siswa. Hal tersebut akan terlihat sepele bagi sebagian orang \u201chalah, paling cuma beda berapa detik\u201d. Namun, bagi anak tersebut tentu akan sangat berat, apalagi jika ternyata si Z adalah teman akrab si A. Si A sudah hampir sampai rumah, eh si Z baru saja keluar dari ruang kelas.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Hindari penggunaan nama yang terlalu muluk-muluk<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Poin ketiganya adalah hindari penamaan anak yang terlalu muluk-muluk. Penamaan anak sebaiknya dicocokkan dengan lingkungan sekitar. Misal lingkungan sekitar namanya Riski, Rahma, Yunda kemudian tiba-tiba ada anak yang bernama <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Franco_Morbidelli\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Franco Morbidelli<\/a>, hal ini tentu akan sangat aneh bagi warga sekitar. Warga sekitar akan kesulitan, baik itu saat mendengar maupun saat memanggil. Misalnya begini:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHe prangko, mau ke mana?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atau begini:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0\u201cAnake bu tinah ki jenenge sopo?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKae lho, seng ditempel ning surat-surat\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPrangko?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cIyo, Prangko Mbredelli\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sungguh akan menyulitkan society.<\/span><\/p>\n<h4><b>#4 Hindari nama-nama yang terlalu pendek atau terlalu panjang<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada poin keempat ini adalah hindari penamaan anak yang terlalu panjang dan terlalu pendek. Nama yang ideal adalah minimal dua dan maksimal tiga. Ketika kurang dari dua maka akan terdengar flat, misal Rudi, mentok nama panggilannya jadi Rudi Thok. Kemudian jika namanya terlalu panjang juga kasihan orang-orang yang baru kenalan. Nama saya Yashinta Noesa Delita Bioaqua Sambal ABC Ekstra Pedasnya. Hal ini akan susah dihafalkan. Dan ujung-ujungnya akan diambil paling gampang. Bisa Shinta, atau mungkin Chinta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memang benar, nama adalah doa dan harapan orang tua kepada anaknya. Tapi, doanya juga jangan yang sulit-sulit, selain itu doanya jangan kependekan apalagi doanya kepanjangan. Takutnya orang-orang keburu males dan kemudian nggak jadi ngaminin doanya. Kemudian malah memplesetkan doa yang telah bunda buat, tentu malah membuat doanya tidak efektif dan mempunyai kemungkinan harapannya nggak kesampaian.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah panduan memberi nama anak yang baik dan benar. Monggo lanjutkan berburu nama anaknya, pastikan yang terbaik.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Imron Amrulloh<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nama anak jangan susah-susah.<\/p>\n","protected":false},"author":765,"featured_media":162385,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[467,1529,13662],"class_list":["post-162284","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-anak","tag-nama","tag-panduan"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/162284","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/765"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=162284"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/162284\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/162385"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=162284"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=162284"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=162284"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}