{"id":161653,"date":"2022-01-25T11:00:10","date_gmt":"2022-01-25T04:00:10","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=161653"},"modified":"2022-01-25T06:59:52","modified_gmt":"2022-01-24T23:59:52","slug":"3-alasan-orang-kendal-terpaksa-mengaku-asli-semarang-di-perantauan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/3-alasan-orang-kendal-terpaksa-mengaku-asli-semarang-di-perantauan\/","title":{"rendered":"3 Alasan Orang Kendal Terpaksa Mengaku Asli Semarang di Perantauan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai putra daerah yang asli kelahiran Kabupaten Kendal, ketika sedang berada di luar kota, kadang saya merasa kesulitan memperkenalkan daerah asal saya. Saya lebih memilih mengaku berasal dari Semarang atau kecamatan yang di bawah naungan kabupaten Kendal itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebuah dilema yang mungkin juga dirasakan kebanyakan orang, yang daerah asalnya tidak banyak dikenal atau asing di telinga orang. Misalnya seperti orang Karanganyar, Wonogiri, dan Sragen yang kesusahan menjelaskan daerah asalnya dan lebih milih ngaku dari Solo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal yang sama mungkin juga dialami warga Kabupaten Semarang, atau tepatnya yang tinggal di Kecamatan Suruh dan sekitarnya. Misalnya ada yang tanya begini:<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMasnya dari Semarang, ya? Semarangnya mana?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKabupaten Semarang, Mas. Di Kecamatan Suruh\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Udah, biasanya obrolan seperti itu sudah nggak bakal lanjut. Sebab, susah menjelaskan secara rinci, dan biasanya orang Suruh dengan berat hati lebih milih ngaku dari Salatiga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oleh sebab itu, sedikit banyak warga asli Kendal yang sedang berada di tanah perantauan lebih memilih ngaku jadi orang Semarang. Hal ini dilakukan demi menghemat tenaga menjelaskan secara rinci letak geografis kabupaten ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sedikitnya, ada tiga alasan yang bikin orang memilih ngaku asli Semarang ketimbang Kendal<\/span><\/p>\n<h4><b>#1 Letaknya dekat Semarang<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika dilihat dari peta geografis, kabupaten Kendal berbatasan langsung dengan kota Semarang. Sebelum pembangunan proyek jalan tol Trans Jawa yang membabat sebagian lahan warga menghubungkan kabupaten Batang-Semarang. Mode transportasi darat yang menghubungkan kota Semarang menuju kota besar ke arah barat (Jakarta) adalah jalur pantura Semarang-Kendal. Namun sayangnya, Kendal tidak lebih terkenal dibandingkan Semarang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Untuk sekadar singgah atau plesir di pusat Kabupaten Kendal pun rasanya kurang terlalu menarik. Sebab, selain pantai atau alun-alun Kendal, nggak ada lagi yang menarik untuk dikunjungi. Kecuali Kendal wilayah dataran tinggi, yang meliputi kecamatan Sukorejo, Limbangan, dan Boja yang masih terdapat hawa-hawa dingin khas pegunungan dan bisa mampir di Curug Sewu.<\/span><\/p>\n<h4><b>#2 Kaliwungu lebih terkenal<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain langsung mengaku sebagai orang Semarang, biasanya saya menyebut Kaliwungu terlebih dahulu. Kalau lawan bicara saya masih tidak tahu Kaliwungu, baru saya bilang \u201citu lho, yang deket Semarang\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kaliwungu merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Kendal. Malah lebih dikenal luas daripada Kabupaten Kendal sendiri. Sebutan Kaliwungu Kota Santri menjadikan wilayah tersebut lebih dikenal banyak kalangan. Disebut kota santri memang di Kecamatan Kaliwungu terdapat belasan pesantren yang mungkin hingga saat ini telah melahirkan ribuan santri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, tradisi turun temurun yang ada di Kaliwungu, seperti Syawalan menjadikan wilayah ini dikenal kalangan luar daerah. Setiap tiba Syawal, makam-makam para Auliya\u2019 atau tokoh penyebar Agama Islam di antaranya adalah Makam Pangeran Djuminah, Kyai Asy\u2019ari, Sunan Katong, dan Paku Wojo yang berada di komplek pemakaman Jabal Nur selalu ramai dikunjungi peziarah baik warga sekitar maupun warga luar Kaliwungu.<\/span><\/p>\n<h4><b>#3 Kecamatannya lebih terkenal<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, selain Kaliwungu, ada daerah yang lebih femes ketimbang Kendal: Weleri. Padahal Weleri ya masuknya Kendal juga.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kecamatan Weleri lebih mungkin dikenal orang luar daerah karena mempunyai keunggulan tersendiri dibandingkan kabupatennya. Weleri memiliki stasiun kereta yang masih aktif terletak di belakang Pasar Weleri dan terminal bus yang juga masih aktif membersamai para penumpang. Oleh karena itu, banyak warga luar kota yang lebih familier dengan Weleri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah beberapa alasan saya terpaksa menyebut asli saya Semarang. Ya gimana, kalah terkenal je. Meski begitu, kota ini nggak sepele. Kendal bakal jadi kawasan industri, yang artinya bakal jadi lebih makmur. Harapannya sih begitu. Setelah itu, mungkin saya bisa dengan mudah menyebut daerah asli saya, tanpa ngaku-ngaku Semarang lagi.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Achmad Fahmi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<h5><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kendal tau nggak? Kalau Weleri? Nah.<\/p>\n","protected":false},"author":1759,"featured_media":161683,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[14707,4652,14708],"class_list":["post-161653","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-kendal","tag-semarang","tag-weleri"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/161653","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1759"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=161653"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/161653\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/161683"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=161653"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=161653"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=161653"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}