{"id":161242,"date":"2022-01-24T09:00:38","date_gmt":"2022-01-24T02:00:38","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=161242"},"modified":"2022-01-24T07:39:26","modified_gmt":"2022-01-24T00:39:26","slug":"review-tokyo-revengers-live-action","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/review-tokyo-revengers-live-action\/","title":{"rendered":"Review Tokyo Revengers Live Action: Terburu-buru dan Sangat Melelahkan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menaruh ekspektasi tinggi terhadap sesuatu dapat membawa seseorang pada rasa kecewa. Ekspektasi adalah soal harapan, keinginan, sementara realitas tak selalu selaras dengan hal itu. Ketika mengetahui bahwa <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tokyo Revengers<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> akan diadaptasi ke live action, saya tak ingin berekspektasi tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengingat banyak adaptasi anime dan manga yang zonk ketika diadaptasi jadi live action, terlebih apabila anime atau manga itu punya plot yang kompleks plus pengembangan karakter yang membutuhkan beberapa episode. Dan sesuai perkiraan, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tokyo Revengers<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memiliki nasib yang sama. Sebuah live action yang ketika ditonton terasa begitu nanggung dan melelahkan. Setidaknya ada tiga alasan untuk menguatkan argumen itu.<\/span><\/p>\n<h4><b>Plot cerita<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi kalian yang mengikuti secara intens <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tokyo Revengers<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, baik manga maupun anime, akan mengetahui bahwa tema fantasi dan time traveler yang dijadikan sebagai pondasi cerita memiliki alur seperti labirin. Penuh misteri dan membuat kita penontonnya selalu menerka-nerka. Pengalaman cerita yang diberikan membuat kita sebagai penonton dibuat kebingungan sekaligus rasa penasaran dan antusias. Sayangnya semua pengalaman itu tidak akan didapat ketika menonton versi live actionnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski plot dan angle ceritanya dibuat sama, tapi banyak scene yang dilewatkan, bahkan diubah. Padahal di anime-nya menjadi set up penting dalam membangun cerita setelahnya. Scene yang dihilangkan misalnya ketika Takemichi berpapasan dengan Kisaki pada sore hari saat kembali ke masa lalu. Atau scene ketika Takemichi bertemu dengan Osanai di masa depan untuk mencari tahu tentang mobius.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dua scene itu terlihat sepele, tapi punya peran penting dalam membangun konflik dan mengembangkan cerita. Scene penting lainnya yang dihilangkan adalah ketika Pah-chin menusuk Osanai. Scene ini krusial dalam menciptakan konflik antara Mikey dan Draken.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konflik ini akan membawa kita pada upaya Takemichi memahami dua pentolan Geng Toman ini. Sehingga kita akan disuguhkan sedekat apa ikatan antara Mikey dan Draken. Pendekatan yang Takemichi lakukan juga sekaligus akan membangun relasi emosional dengan kedua tokoh tersebut. Selain itu, masih banyak scene penting lainnya yang dihilangkan sehingga sangat mengurangi cita rasa dari cerita yang disuguhkan oleh live action <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tokyo Revengers<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang paling mengganggu dan disayangkan adalah diferensiasi sajian cerita ketika Takemichi bertemu dengan Naoto di sebuah taman. Dalam versi anime atau manganya, Takemichi mengamuk ketika Naoto diganggu oleh segerombolan berandal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di situ bisa dilihat bagaimana ganasnya Takemichi saat benar-benar marah. Scene inilah yang membuat Naoto menjadi respect dengan Takemichi. Melalui scene inilah, relasi antara Naoto dan Takemichi tercipta. Tapi di live actionnya, scene ini dibuat begitu aneh dengan jokes yang dipaksakan. Takemichi dibuat konyol lewat adegan jatuh terkena ayunan yang dia tendang.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perihal cerita, saya sepenuhnya sadar bahwa tidak mudah mengadaptasi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tokyo Revengers. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Terlebih, plotnya begitu kompleks. Tapi, justru karena begitu kompleks, mengadopsi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tokyo Revengers<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> secara mentah dalam durasi yang singkat menjadi pilihan yang kurang bijak. Terlebih dengan perubahan beberapa scene yang terkesan nanggung dan dipaksakan agar sesuai dengan durasi filmnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengapa tidak menghadirkan angle atau plot cerita yang berbeda sekalian? Misalnya seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Crows Zero<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Atau dibuat mini seri terlebih dahulu seperti <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">High and Low<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">? Mengapa semuanya harus dijejalkan dalam sebuah proyek film berdurasi kurang dari dua jam dengan ending yang begitu lempeng?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ending-nya apalagi, oh Tuhan\u2026<\/span><\/p>\n<h4><b>Tokoh yang hilang<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Persoalan kedua yang hadir dalam live action <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tokyo Revengers<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> adalah soal tokoh yang hilang atau lebih tepatnya tidak dihadirkan. Padahal para karakter ini punya peran penting dalam memainkan peran di sebuah konflik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Misalnya Emma, pacar Draken dan adik dari Mikey, Chifuyu, Baji Keisuke, si duo kembar Angry and Smiley, Peh-yan, Mutou Yasuhiro, dan banyak karakter lainnya. Mereka adalah karakter yang punya relasi kuat dengan para tokoh-tokoh sentral. Misalnya Peh-yan yang menjadi kunci dalam retaknya Toman menjadi dua kubu, yaitu kubu Mikey dan Draken. Bahkan Peh-yan sampai berkhianat dan ingin membunuh Draken.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan hilangnya Peh-yan itulah yang bikin parah. Tak hanya jadi kunci konflik, tapi menyalahi kodrat. Tak ada Pah tanpa Peh. Kayak bikin film Batman tanpa Alfred sih ini.<\/span><\/p>\n<h4><b>Pengembangan karakter<\/b><\/h4>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masalah lain yang tidak kalah penting datang dari film ini adalah tentang pengembangan karakter. Karakter Takemichi dalam live action ini benar-benar payah. Scene penting yang tujuannya membangun karakter pemberani dan pantang menyerah banyak dihilangkan. Akibatnya Takemichi di live action ini di mata saya hanya tokoh sampingan yang mencoba mencari perhatian kepada para penontonnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Scene terkena ayunan saat mengancam orang yang mengganggu Naoto, scene pura-pura gila saat menghadapi orang yang mengganggu Hinata saat menjadi penjaga di sebuah minimarket, membuat Takemichi terkesan menjadi pecundang. Di sisi lain, scene ngobrol dengan Draken dan Mikey dari hati ke hati, malah tidak ada. Padahal scene ini akan menunjukan bagaimana sikap dewasa Takemichi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Anggota Middle Five (gengnya Takemichi) juga karakternya tidak dikembangkan dengan maksimal. Hanya Akkun saja yang diperhatikan. Padahal seluruh anggota Middle Five punya peran dalam menguatkan mental Takemichi. Misalnya ketika membantu Takemichi melawan geng Kiyomasa sembari mengawasi Draken yang perutnya tertusuk.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Karakter Mitsuya dan Kisaki juga menjadi sorotan. Mitsuya di live action ini terlihat begitu angkuh dan kurang respect dengan Takemichi. Padahal di animenya, Mitsuya memiliki karakter bersahabat, tenang, dan menaruh respek terhadap Takemichi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih parah adalah Kisaki. Karakter ini benar-benar terbengkalai di live actionnya. Mulai dari penampilan fisik yang macam om-om, hingga sisi misterius dan bengis sebagai mastermind dalam sebuah konflik yang tidak dikembangkan secara baik dalam cerita. Kecerdasannya benar-benar dikubur dalam live actionnya. Kesannya seperti tokoh gabut dan sok misterius yang gentayangan di beberapa scene. Padahal, baik di manga maupun animenya, Kisaki adalah antagonis utama. Dia yang mengatur semua konflik yang terjadi.<\/span><\/p>\n<p>Nggak usah nanya Shuji Hanma. Muncul doang, nggak ngapa-ngapain.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pada akhirnya, satu-satunya yang menyelamatkan film ini hanyalah scene berkelahinya yang memang epik. Jadi bagi kalian yang hanya pengin melihat sisi action saja, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tokyo Revengers<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sudah cukup memberi apa yang kalian mau.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski, jujur saja, Mikey seperti kena nerf di sini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selebihnya, live action <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tokyo Revengers<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> biasa saja. Alur dan angle cerita yang tanggung dan melompat-lompat, bikin film ini sangat melelahkan untuk ditonton. Pengembangan karakter yang ala kadarnya juga begitu mengganggu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah film ini amat buruk? Tidak juga. Tapi, kalau dibilang bagus, jelas tidak.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhamad Iqbal Haqiqi<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<h5><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>MANA BAJI? MANA PEH-YAN?<\/p>\n","protected":false},"author":232,"featured_media":161332,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13081],"tags":[14048,13098,95,11626],"class_list":["post-161242","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-film","tag-live-action","tag-pilihan-redaksi","tag-review","tag-tokyo-revengers"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/161242","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/232"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=161242"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/161242\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/161332"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=161242"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=161242"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=161242"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}