{"id":160676,"date":"2022-01-21T10:00:23","date_gmt":"2022-01-21T03:00:23","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=160676"},"modified":"2022-01-21T10:18:51","modified_gmt":"2022-01-21T03:18:51","slug":"dari-tekyan-sampai-garangan-40-kata-slang-jogja-yang-mulai-punah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/dari-tekyan-sampai-garangan-40-kata-slang-jogja-yang-mulai-punah\/","title":{"rendered":"Dari Tekyan Sampai Garangan: 40 Kata Slang Jogja yang Mulai Punah"},"content":{"rendered":"<p>\u201cHeh, mukamu tu lho kayak tekyan,\u201d celetuk saya ke salah seorang kawan. Seketika kawan saya malah melongo sambil bertanya, \u201cTekyan itu apa?\u201d Tidak hanya sekali saya mengalami gap bahasa ketika menggunakan kata tekyan dan kata-kata lain. Bahkan ketika bicara ke sesama orang Jogja<\/p>\n<p>Padahal, kata slang ini tidak benar-benar punah. Penuturnya masih cukup banyak, meskipun tergerus lu gua dan bahasa khas Jaksel semacam which is dan actually. Padahal kata slang khas Jawa juga tidak kalah menyebalkan di telinga. Misal tekyan tadi. Betapa luar biasa leluhur kita sampai menemukan kata yang blas nggak nyaman untuk diucapkan dan didengarkan.<\/p>\n<p>Maka tanpa bermaksud melanggengkan Jawanisasi, berikut adalah 40 kata slang khas Jogja yang mulai punah. Jika Anda merasa beberapa kata di sini masih sering terdengar, ya bagus lah. Tapi jika Anda merasa asing, semoga cakrawala bahasa Anda terbuka lebih luas oleh bahasa yang unik, lucu, dan menyebalkan ini.<\/p>\n<h4>#1 Nggatheli<\/h4>\n<p>Bukan asli Jogja. Tapi di Jogja, ia sering dipakai untuk mengutarakan rasa sebal; menyebalkan dengan lebih kasar.<\/p>\n<h4>#2 Ndlogok<\/h4>\n<p>Mirip dengan nggatheli, sama-sama bahasa kasar dari menyebalkan, tapi di-buff.<\/p>\n<h4>#3 Gosu<\/h4>\n<p>Singkatan &#8220;Ndlogok Asu&#8221;. Versi sempurna dari kata ndlogok. Damage-nya ketika diucapkan benar-benar menyerang mental.<\/p>\n<h4>#4 Pagob<\/h4>\n<p>Berasal dari bahasa walikan yang artinya atos. Biasanya, ini untuk menyatakan sikap seseorang yang ketus.<\/p>\n<h4>#5 Byayakan<\/h4>\n<p>Sama artinya dengan perilaku pecicilan atau ugal-ugalan. Ia identik dengan perilaku ugal-ugalan di jalan.<\/p>\n<h4>#6 Biangane<\/h4>\n<p>Identik dengan biang keladi atau biang kerok. Intinya sumber masalah.<\/p>\n<h4>#7 Gentho<\/h4>\n<p>Artinya preman, atau orang yang dipandang preman. Bisa juga untuk menyebut orang yang berkuasa di sebuah kelompok.<\/p>\n<h4>#8 Gali<\/h4>\n<p>Artinya Gabungan Anak Liar. Identik dengan preman pasar, tapi sering digunakan untuk menyebut anak punk dan anak jalanan.<\/p>\n<h4>#9 Gondes<\/h4>\n<p>Gondrong ndeso, artinya gondrongnya orang desa. Punya kedekatan arti dengan istilah jamet, jadi bayangkan sendiri.<\/p>\n<h4>#10 Mendes<\/h4>\n<p>Mentel ndeso, artinya kemayu\/genit orang desa. Versi perempuan dari gondes dan jamet, ia mewabah di TikTok.<\/p>\n<h4>#11 Dab<\/h4>\n<p>Bahasa walikan yang artinya mas. Ia masih sering dipakai, tapi tergeser dengan kata bro, gan, kamerad, dll.<\/p>\n<h4>#12 Daladh<\/h4>\n<p>Pelafalannya hanya dalat. Bahasa walikan dari kata makan. Ia sering terdengar di warung nasi rames terminal.<\/p>\n<h4>#13 Hongib<\/h4>\n<p>Bahasa walikan dari polis\/polisi. Ia biasa dipakai ketika sebal atau ingin memaki aparat.<\/p>\n<h4>#14 Dagadu<\/h4>\n<p>Mungkin Anda kira ini nama brand. Tapi ini adalah bahasa walikan yang artinya matamu.<\/p>\n<h4>#15 Kecu<\/h4>\n<p>Memiliki banyak arti, bisa ingkar janji, bisa menyebalkan, bisa plin-plan. Ia termasuk kata slang yang sering disebut tanpa makna jelas.<\/p>\n<h4>#16 Ndangil<\/h4>\n<p>Artinya mencuri. Ia kalah populer dengan kata nyolong. Identik dengan pencurian skala kecil (gorengan, buah, pulpen, tanaman).<\/p>\n<h4>#17 Garangan<\/h4>\n<p>Hewan sejenis tupai, tapi dipakai untuk menyebut pria genit atau playboy. Biasanya dipakai untuk menyebut pria yang suka mendekati perempuan. Ia identik dengan istilah buaya.<\/p>\n<h4>#18 Garangan giras<\/h4>\n<p>Versi lanjut dari garangan. Ia dianggap lebih tangkas dan cekatan dalam mendekati perempuan. Di era sekarang identik dengan oknum yang suka mengirim DM ke perempuan.<\/p>\n<h4>#19 Garanganwati<\/h4>\n<p>Versi perempuan dari garangan.<\/p>\n<h4>#20 Tekyan<\/h4>\n<p>Gembel dengan gaya. Karakter teman parasit (menumpang tidur, makan, dan kebutuhan hidup lain).<\/p>\n<h4>#21 Jaker<\/h4>\n<p>Dari kata kerja yang dibalik. Ia identik dengan kultur pengamen era 60 sampai 90-an.<\/p>\n<h4>#22 Temon<\/h4>\n<p>Bahasa walikan dari wedok\/perempuan. Tapi kata ini cenderung melecehkan dan tidak sopan ketika digunakan<\/p>\n<h4>#23 Keple<\/h4>\n<p>Identik dengan pelacur\/PSK. Ia merupakan sebutan yang cukup kasar dan bisa jadi umpatan.<\/p>\n<h4>#24 Grenpang<\/h4>\n<p>Sudah sangat punah. Ia identik dengan keple, tapi lebih dekat dengan model FWB. Akar bahasa dari grandfunk\/greenpunk era 60-an.<\/p>\n<h4>#25 Gendhakan<\/h4>\n<p>Selingkuhan. Bisa juga untuk menyebut FWB. Saat ini, ia masih dipakai oleh kelompok bapak-bapak yang hobi karaoke.<\/p>\n<h4>#26 Timplik<\/h4>\n<p>Kata ini sudah mulai punah, artinya bersetubuh. Sebenarnya banyak kata serupa seperti kenthu, tapi timplik yang makin jarang digunakan.<\/p>\n<h4>#27 Lodse<\/h4>\n<p>Bahasa walikan yang artinya ngombe atau minum. Ia identik dengan minuman keras.<\/p>\n<h4>#28 Ndugab<\/h4>\n<p>Bahasa walikan yang artinya muntah, ia identik dengan muntah karena mabuk.<\/p>\n<h4>#29 Kewer<\/h4>\n<p>Mabuk berat sampai tidak bisa berjalan. ia bisa juga untuk menyebut lemas atau capek yang berlebihan.<\/p>\n<h4>#30 Mletre<\/h4>\n<p>Sama seperti kewer. Tapi, ia lebih menyebalkan saja ketika didengar.<\/p>\n<h4>#31 Sapi<\/h4>\n<p>Identik dengan pil koplo alias ekstasi. Ia sempat viral pada 2000-an.<\/p>\n<h4>#32 Gembyeng<\/h4>\n<p>Identik dengan geger atau keributan. Ia biasa dipakai untuk situasi berkelahi atau tawuran.<\/p>\n<h4>#33 Senggel<\/h4>\n<p>Artinya berkelahi satu lawan satu. Kadang, ia diartikan benturan bahu saat berjalan untuk menantang. Kemungkinan akar bahasanya dari single.<\/p>\n<h4>#34 Herek<\/h4>\n<p>Bisa hereg atau herex. Ini untuk menyebut pengendara motor ugal-ugalan dengan motor modifikasi yang super berisik.<\/p>\n<h4>#35 Tarikan<\/h4>\n<p>Artinya balapan. Ia identik dengan balapan liar atau sekedar saling tantang di jalan.<\/p>\n<h4>#36 Stanplat<\/h4>\n<p>Artinya halte bus. Jangan ditanya akar katanya, saya juga bingung dengan istilah ini. Konon, ia dari bahasa Belanda.<\/p>\n<h4>#37 Aniem<\/h4>\n<p>Identik dengan listrik PLN sekarang. Cagak aniem berarti tiang listrik dan pabrik aniem berarti gardu listrik. Berasal dari akronim nama perusahaan listrik era kolonial.<\/p>\n<h4>#38 Toni boster<\/h4>\n<p>Akronim Waton Muni nDobose Banter. Artinya asal bicara tapi bohongnya keras\/keterlaluan.<\/p>\n<h4>#39 Yarwe<\/h4>\n<p>Bayar dewe atau bayar sendiri. Ia punah karena istilah split bills ala FWB sekarang.<\/p>\n<h4>#40 Bimantara<\/h4>\n<p>Akronim Bisa Mangan Tanpa Ragat atau bisa makan tanpa biaya. Ia identik dengan pria yang tidak menafkahi keluarga dan jadi parasit.<\/p>\n<p>Dari 40 kata slang Jogja tersebut, coba sebutkan yang sudah cukup familier di hidupmu.<\/p>\n<p>Penulis: Prabu Yudianto<br \/>\nEditor: Audian Laili<\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ngerti kata slang, ora?<\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":160689,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[115,14669,14665,14666],"class_list":["post-160676","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-jogja","tag-kamus-terminal","tag-kata-slang","tag-tekyan"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/160676","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=160676"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/160676\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/160689"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=160676"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=160676"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=160676"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}