{"id":160233,"date":"2022-01-19T14:30:56","date_gmt":"2022-01-19T07:30:56","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=160233"},"modified":"2022-01-19T00:17:44","modified_gmt":"2022-01-18T17:17:44","slug":"membedah-lirik-lagu-bujangan-yang-kurang-mashok","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/membedah-lirik-lagu-bujangan-yang-kurang-mashok\/","title":{"rendered":"Membedah Lirik Lagu Bujangan yang Kurang Mashok"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Dipikir-pikir lagi, lirik \u201cBujangan\u201d sebenarnya kurang mashok<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tak ada yang berani menghina Koes Plus. Begitu juga saya, tak mungkin saya berani menghina mereka. Band yang super duper legend ini, punya karya yang tak boleh dianggap main-main. Sampai hari ini lagu mereka masih rutin menghiasi radio, pesta, reunian, hingga panggung-panggung besar. Saya tetap yakin, karya mereka akan terus dikenal hingga era anak cucu saya nanti.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu lagu yang terpatri di ingatan dan sanubari adalah \u201cBujangan\u201d. Sebuah lagu yang langsung bisa dipahami hanya dengan membaca tajuknya. Lagu dengan melodi nan ceria ini, nyatanya masih lestari dan dikenang oleh banyak orang. Sehingga, kerap menjadi referensi untuk memahami kehidupan para jomblowan dan jomblowati dari zaman ke zaman. Tak ada maksud menghina lagu ini, saya hanya kurang cocok dengan liriknya. Nah, mari kita telaah saja liriknya dari bait ke bait.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Begini nasib jadi bujangan<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Ke mana-mana asalkan suka<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tiada orang yang melarang<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNasib jadi bujangan\u201d, sebuah penegasan hakiki, bahwa membujang adalah nasib. Padahal, banyak juga yang memang memilih menjadi bujangan dan tak akan menikah seumur hidup mereka. Bagi banyak orang, jomblo adalah pilihan, dan itu tak mengapa. Begitu juga dengan orang yang memilih untuk menikah, itu juga hak mereka. Intinya, melajang atau menikah merupakan pilihan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di bait selanjutnya, kita bisa menemukan sebuah stigma umum nan gatheli yang kerap disematkan pada para lajang. Masih banyak saja yang menganggap semua jomblo itu sama. Bahwa jomblo bisa bebas pergi ke mana saja dan tak ada yang melarang. Kenyataannya, tak semua jomblo seperti itu. Ada juga yang mau jalan tapi duit cupet. Beberapa bahkan tetap dilarang jalan oleh orang tuanya. Mungkin tak ada pihak yang melarang, tapi banyak yang punya tanggung jawab, yang bahkan tak bisa ditinggalkan meski di akhir pekan.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Hati senang walaupun tak punya uang<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Hati senang walaupun tak punya uang<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ini bagian paling bikin saya geleng-geleng. Siapa yang hatinya senang kalau tak punya uang? Tak semua jomblo hidup untuk dirinya sendiri tanpa tanggungan apapun. Uang memang bukan segalanya, tapi kalau tak ada uang, segalanya bisa hancur. Di era Omnibus Law, masih banyak lajang yang menjadi tulang punggung keluarga, bahkan keluarga besarnya. Tak punya uang, berarti keluarganya remuk redam. Apalagi harus bayar kos, uang makan, kirim duit ke rumah, uang sekolah adik-adiknya, beli kuota internet, dan lain sebagainya. Dikira hidup cuma soal makan doang?<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Apa susahnya hidup bujangan<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Setiap hari hanya bernyanyi<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Tak pernah hatinya bersedih<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gila, manusia mana yang tak pernah bersedih? Jangankan bernyanyi, berpikiran waras saja kadang sulit. Tekanan kerja, menganggur, pandemi, belum lagi hati tersakiti yang belum bisa move on. Masih banyak yang menganggap menjadi jomblo itu isinya senang-senang belaka, pun banyak waktu luangnya. Ra mashoook banget. Lirik lagu ini menjadi gambaran nyata tentang pandangan secara umum yang kurang mashook pada para jomblo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, setiap orang boleh punya pandangannya masing-masing. Tapi, ya nggak seenak udel sendiri juga. Mungkin lagu ini adalah pengalaman pribadi mereka sendiri. Bisa saja mereka ini memang santai dan bebas saat masih lajang dulu. Namun, tak semua orang punya keadaan dan kehidupan yang sama.<\/span><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/belum-menikah-bukan-berarti-jadi-babu\/amp\/\"> <span style=\"font-weight: 400;\">Tak semua jomblo itu bebas merdeka tanpa tanggung jawab sama sekali.<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400;\"> Bahkan, pilihan untuk melajang juga harus mulai dipahami sebagai pilihan hidup. Tak perlu lagi saling serang, menjatuhkan, apalagi debat kusir tak penting lewat thread di Twitter.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sesekali hidup harus dibikin woles dan nyantai. Yang jomblo santai, yang sudah menikah woles, sama-sama saling menghargai. Yang penting, pas waktunya kerja, ya kerja. Pas waktunya main, ya main. Apalagi kerjanya jadi wakil presiden, pasti menyenangkan sekali. Datang ke podcast, rajin tersenyum, kelihatannya santai sekali. Ah, tapi hidup memang isinya hanya sawang sinawang semata. Siapa tahu, jadi wakil presiden itu ternyata tanggung jawabnya berat minta ampun. Iya, nggak, sih?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Bayu Kharisma Putra<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<h5><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Begini nasib, jadi bujangan.<\/p>\n","protected":false},"author":1151,"featured_media":160263,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13084],"tags":[14644,14645],"class_list":["post-160233","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-musik","tag-bujangan","tag-koes-plus"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/160233","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1151"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=160233"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/160233\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/160263"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=160233"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=160233"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=160233"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}