{"id":160016,"date":"2022-01-18T16:00:29","date_gmt":"2022-01-18T09:00:29","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=160016"},"modified":"2022-01-21T09:26:46","modified_gmt":"2022-01-21T02:26:46","slug":"sejarah-terowongan-lampegan-dan-misteri-keberadaan-nyi-sadea","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sejarah-terowongan-lampegan-dan-misteri-keberadaan-nyi-sadea\/","title":{"rendered":"Sejarah Terowongan Lampegan dan Misteri Keberadaan Nyi Sadea"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapa yang pernah naik kereta api dari Cianjur ke Sukabumi atau sebaliknya? Kalau pernah pasti nggak asing dengan Terowongan Lampegan. Ternyata, Terowongan Lampegan memiliki sejarah yang unik dan menarik. Bahkan, misteri dan mitos-mitos yang ada di dalamnya pun cukup mampu membuat bulu kuduk berdiri kalau melewati terowongan tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut beberapa sumber, terowongan sepanjang 39 kilometer ini dibangun pada 1879-1882 untuk mendukung jalur rute Bogor-Sukabumi-Cianjur-Bandung. Terowongan ini berada di Pasir Gunung Keneng, Desa Cibokor, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Pihak yang membangun terowongan angker ini adalah Perusahaan Kereta Api Negara <a href=\"https:\/\/en.wikipedia.org\/wiki\/Staatsspoorwegen\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Staatsspoorwegen<\/a> (SS).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nama Lampegan sendiri masih menjadi perdebatan sampai sekarang mengenai filosofis dan asal muasalnya. Ada yang menyebut nama itu diambil oleh mandor proyek bernama Van Beckman selalu berteriak \u201clamp pegang!\u201d saat masuk ke terowongan untuk memantau para pekerjanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada pula cerita yang mengatakan Lampegan berasal dari masinis yang selalu berteriak \u201clampen aan!\u201d setiap kali kereta memasuki salah satu terowongan tertua di Indonesia tersebut. Teriakan itu bermaksud agar para anak buahnya menyalakan lampu karena pastinya situasi akan gelap ketika memasuki terowongan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, ada pula yang menyebutkan bahwa nama Lampegan berasal dari nama pemukiman yang sama-sama bernama Lampegan yaitu berupa gunung dan perkebunan. Hal ini yang disebut-sebut sebagai asal muasal nama Terowongan Lampegan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu, ada juga versi yang mengatakan bahwa Lampegan berarti sejenis pohon kecil. Teori ini muncul berdasarkan kamus Sunda-Indonesia pada 2011 lalu yang disusun oleh R. Satjadibrata. Menurutmu versi mana yang lebih masuk akal?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konon katanya, proses pembangunan terowongan ini cukup menyulitkan. Sebab, harus menembus Gunung Kancana. Akan tetapi, pembangunan bisa berjalan lancar setelah bagian tengah bukit itu diledakan dengan dinamit. Lampegan pun bisa digunakan pada 1882 dan diresmikan oleh pemerintah Hindia-Belanda dan para juragan-juragan lokal yang ada di sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Katanya, untuk memeriahkan persemian Terowongan Lampegan, diundanglah seorang penari ronggeng tersohor bernama Nyi Sadea. Penari itu bersama dua rekannya menari sambil diguyur rintik hujan. Konon, ia mengenakan kemben merah dan selendang berwarna kuning.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada panggung kecil yang menjadi tempat Nyi Sadea dan kawan-kawan menari. Menjelang tengah malam, pertunjukan pun selesai dan ia pun berteduh di terowongan sambil menunggu hujan deras mereda. Namun, tak lama kemudian, Nyi Sadea mendengar suaranya dipanggil. Akhirnya, ia berjalan memasuki terowongan namun malah menghilang entah kemana tanpa ada yang mengetahuinya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konon katanya, Nyi Sadea menjadi istri oleh pemimpin makhluk gaib yang ada di terowongan angker tersebut. Dengan kata lain, Nyi Sadea menjadi tumbal proyek pembangunan Terowongan Lampegan. Tumbal proyek ternyata bukan berasal dari warga asli Indonesia, orang-orang Belanda pun ternyata percaya dengan hal itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alhasil, muncullah berbagai spekulasi dan cerita-cerita mistis dari warga lokal mengenai Nyi Sadea ini. Ada yang mengatakan bahwa penari cantik itu dibunuh dan tubuhnya ditanam di salah satu dinding terowongan. Kebayang kalau kalian naik kereta dari jalur Cianjur-Sukabumi, lalu melihat sesosok perempuan di dinding, mungkin itulah dia, hihihi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebab, warga lokal lainnya menyebut kalau Nyi Sadea ini sering gentayangan dan menjadi penghuni gaib Terowongan Lampegan. Ia kerap terlihat berdiri di dalam terowongan dengan penampilan yang cantik berkebaya warna merah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut salah seorang teman saya yang merupakan penggemar kereta api atau railfans, di atas Terowongan Lampegan, warga lokal di sana kerap menyembelih domba berwarna hitam sebagai ritual di hari-hari tertentu. Entah apa maksud dari ritual itu, tapi hal ini membuat terowongan tersebut semakin angker bukan main. Berani nggak lihat jendela pas naik kereta api ke sana?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Muhammad Afsal Fauzan S<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<h5><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ngeri, Dab, yakin.<\/p>\n","protected":false},"author":1184,"featured_media":160192,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[14573,14640,8607,14639],"class_list":["post-160016","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-cianjur","tag-nyi-sadea","tag-sukabumi","tag-terowongan-lampegan"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/160016","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1184"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=160016"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/160016\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/160192"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=160016"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=160016"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=160016"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}