{"id":159306,"date":"2022-01-15T12:00:27","date_gmt":"2022-01-15T05:00:27","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=159306"},"modified":"2022-01-14T12:15:43","modified_gmt":"2022-01-14T05:15:43","slug":"gulai-bumbu-kuning-ala-warteg-jakarta-kok-dibilang-rawon-ra-mashok","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gulai-bumbu-kuning-ala-warteg-jakarta-kok-dibilang-rawon-ra-mashok\/","title":{"rendered":"Gulai Bumbu Kuning ala Warteg Jakarta kok Dibilang Rawon, Ra Mashok!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menemukan quote yang bagus perihal makanan dan Jakarta dari netizen. Bunyinya seperti ini:<\/span><\/p>\n<blockquote><p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Makanan daerah apa pun kalau sudah sampai Jakarta jadi rusak.&#8221;<\/span><\/p><\/blockquote>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tak bisa untuk tak setuju. Sudah banyak contoh bertebaran. Contoh paling gampang ya ayam geprek. Ayam geprek kok dioles, gendeng ha?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baru-baru ini beredar video cara masak rawon ala warteg di akun @MasakTV yang diprotes netizen. Pasalnya resep yang diunggah itu resep gulai santan kuning. Nggak sopan banget memberi nama masakan seenaknya, padahal sudah ada pakem resep.<\/span><\/p>\n<blockquote class=\"twitter-tweet\">\n<p dir=\"ltr\" lang=\"in\">Ada yang udah pernah coba Rawon ala Warteg ini? Apa sih bedanya dengan Rawon yang ada di daerah kalian? Coba komen dibawah ya!\u2063\u2063\u2063\u2063<br \/>\n\u2063\u2063\u2063\u2063\u2063\u2063\u2063<br \/>\ncc: <a href=\"https:\/\/twitter.com\/alvin_kapau?ref_src=twsrc%5Etfw\">@alvin_kapau<\/a>\u2063\u2063\u2063\u2063<br \/>\nResep lengkap klik: <a href=\"https:\/\/t.co\/kQMtuXJyRc\">https:\/\/t.co\/kQMtuXJyRc<\/a> <a href=\"https:\/\/t.co\/ObXNkfSqdg\">pic.twitter.com\/ObXNkfSqdg<\/a><\/p>\n<p>\u2014 Masak.TV (@MasakTV) <a href=\"https:\/\/twitter.com\/MasakTV\/status\/1481219415660183554?ref_src=twsrc%5Etfw\">January 12, 2022<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><script async src=\"https:\/\/platform.twitter.com\/widgets.js\" charset=\"utf-8\"><\/script><br \/>\n<span style=\"font-weight: 400;\">Meski begitu ada juga netizen yang terheran-heran resep tersebut diributkan. Katanya rawon di warteg-warteg Jakarta memang seperti itu, kalau mau yang berkuah hitam cari di tempat lain saja. Netizen lainnya, sama-sama dari Jakarta, menyepelekan keributan. Perkara nama makanan saja dibikin rame, katanya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jakartans di Twitter yang hobi melihat persoalan pakai perspektif Jakarta-sentris. Mereka levelnya bertengkar soal bubur diaduk dan tidak diaduk, soal makanan tahunya hal-hal yang remeh saja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wajar kalau orang Jakarta terheran-heran ketika ada netizen yang berusaha menyuarakan ide menjaga keaslian resep masakan tradisional. Mereka mana kepikiran bahwa rawon berbumbu kuning dan bersantan itu sesat dan menyesatkan. Pokoknya makanan itu soal beli, beli, dan beli. Kalau tidak suka, ya, nggak usah dibeli. Meributkan makanan dianggap sesedehana &#8220;take it or leave it&#8221;.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya menghargai kebebasan berekspresi dan berpendapat, apalagi kesulitan budget untuk menghadirkan makanan yang sesuai resep. Tapi, mengobrak-abrik pakem resep adalah kesalahan fatal, dan itu tidak bisa didiamkan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begini. Saya pernah makan rawon budget minimalis, pakai kecap. Meski terasa seperti semur, dan waktu tanya ke penjual memang resepnya semur (hanya kuahnya saja diperbanyak supaya seperti rawon), saya bisa memaklumi kesulitan pemilik warung membeli kluwek. Lokasi warungnya memang di luar Jawa, pelosok pula. Alasan pemakluman yang kedua, karena bumbu dasarnya masih sama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda dengan rawon kuning ala warteg di Jakarta. Di Jakarta segala macam bumbu ada. Jakarta dan Surabaya sama-sama di Pulau Jawa loh. Alasan rawon terpaksa berbumbu kuning dan bersantan tanpa pakai kluwek karena di Jabodetabek sulit didapat sungguh nggak masuk akal, untuk nggak menyebut bohong.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">FYI saja nih, masakan gabus pucung khas Betawi yang sangat terkenal itu bumbunya pakai kluwek. Hanya pemilik warteg pemalas saja yang nggak bisa menemukan penjual kluwek di pasar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Resep masakan tradisional bisa dimodifikasi, seperti rendang dibikin jadi steak misalnya. Tapi tetap harus sesuai pakem, kalaupun nggak bisa plek sama persis setidaknya bumbu dasarnya masih dipakai. Perlu juga memahami bumbu dasar masakan tradisional Indonesia. Jangan sampai resepnya pakai bumbu dasar A, tapi cosplay jadi masakan bernama B. Resepnya gulai santan kuning, ngaku-ngaku rawon. Hih!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Contoh kasus lainnya. Kita berbangga rendang dinobatkan menjadi makanan paling enak sedunia. Kalau ada orang bule memasak rendang dengan mengurangi bumbu rempah dan menambahkan kecap supaya tetap kaya rasa, rela?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yo jelas ora, edan po rendang pakai kecap. Penistaan ini mah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan jangan dikira orang Jawa Timur yang mara-mara soal rawon ala warteg di Twitter nggak menghargai perbedaan selera orang lain. Di Banyuwangi ada masakan bernama pecel rawon, perpaduan antara bumbu pecel dengan kuah rawon. Pecel rawon khas Banyuwangi pantas-pantas saja mengaku rawon, karena memang dimasak pakai pakem bumbu rawon yang ditambahkan bumbu pecel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai sini bisa paham bedanya pecel rawon Banyuwangi dengan gulai santan kuning yang cosplay jadi rawon di warteg-warteg di Jakarta, ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">**<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keaslian resep masakan tradisional itu penting dan perlu dijaga karena termasuk warisan budaya takbenda. Mengubahnya seenak jidat sama saja menghancurkan. Ya inovasi dikit boleh, tapi nggak melenceng kejauhan. Kayak rendang pake kecap gitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski belum masuk 11 warisan takbenda yang diakui UNESCO, tapi rawon punya potensi untuk diakui. Sebab, rawon sebagai warisan budaya ini punya dasar yang kuat. Nama masakan rawon tertulis di prasasti Taji. Prasasti ini ditemukan di Ponorogo, dikeluarkan pada 823 Saka atau 901 Masehi oleh Rakryan i Watu Tihang pu Sanggramadurandara. Prasasti tersebut menceritakan peresmian sebuah desa yang menyajikan perjamuan makanan. Selain &#8220;rarawwan&#8221; (kita kenal sekarang bernama rawon), juga tertulis &#8220;rurujak&#8221; (rujak) dan &#8220;kurupuk&#8221;(kerupuk).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi jangan sepelekan pakem resep masakan tradisional. Kalau nggak tahu ujung pangkal persoalan sebaiknya diam. Simak saja baik-baik kenapa ada orang yang protes ketika resep diacak-acak, supaya nggak ikutan tersesat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alih-alih salty pada mereka yang masih berusaha menjaga warisan budaya, anggaplah keributan tersebut sebagai cara untuk mendapat pengetahuan baru di Twitter. Normalnya orang yang nggak tahu itu menyimak, bukan malah salty ke orang yang memberitahu. Pahamilah bahwa Jakarta bukanlah pusat semesta, wahai Jakartans.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan untuk pemilik warteg di Jakarta yang menyajikan rawon sesat, kalau maksudnya mau mengirit biaya bumbu masak saja jenis makanan yang sesuai budget. Jangan malah nama masakannya yang diganti!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau memang tak mau masak sesuai resep, unggah di Cookpad atau Instagram saja sana. Pakai caption &#8220;resep modifikasi memanfaatkan bahan yang ada di kulkas&#8221;, beres.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber Gambar: <a href=\"https:\/\/commons.wikimedia.org\/wiki\/File:Rawon_Setan.jpg\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Christian R via Wikimedia Commons<\/a><\/em><\/p>\n<p>Penulis: Aminah Sri Prabasari<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<h5><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta tuh kerep ra mashok.<\/p>\n","protected":false},"author":582,"featured_media":159319,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":"","disable_ad":"0"},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12909],"tags":[14591,529,4919,3343],"class_list":["post-159306","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kuliner","tag-gulai","tag-jakarta","tag-rawon","tag-warteg"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/159306","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/582"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=159306"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/159306\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/159319"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=159306"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=159306"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=159306"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}