{"id":15854,"date":"2019-10-04T12:15:43","date_gmt":"2019-10-04T05:15:43","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=15854"},"modified":"2019-10-04T15:23:07","modified_gmt":"2019-10-04T08:23:07","slug":"gelaran-woodstock-nya-indonesia-itu-penghinaan-terhadap-ruh-woodstock","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/gelaran-woodstock-nya-indonesia-itu-penghinaan-terhadap-ruh-woodstock\/","title":{"rendered":"Gelaran Woodstock-nya Indonesia Itu Penghinaan Terhadap Ruh Woodstock"},"content":{"rendered":"<p>Akhir-akhir ini, saya agak terganggu dengan sebuah jargon dari sebuah rencana konser musik. Jargon tersebut adalah jargon \u201cWoodsock-nya Indonesia\u201d yang merujuk pada gelaran Konser Untuk Republik, yang rencananya akan digelar pada 18-20 Oktober 2019, di Bumi Perkemahan Buperta Cibubur, Jakarta Timur. Kabarnya, acara ini melibatkan lebih dari 60 musisi lintas genre, yang beberapa di antaranya <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/siksakubur-jadi-musisi-istana-metalheads-kecewa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">datang ke Istana<\/a> untuk bertemu Presiden beberapa hari lalu. Gelaran yang katanya punya tujuan untuk meredam perpecahan di masyarakat dan membuat masyarakat bersatu kembali ini menggunakan jargon ini dalam beberapa poster promonya <del datetime=\"2019-10-04T08:05:46+00:00\">yang nggak banget itu, setidaknya menurut saya.<\/del><\/p>\n<p>Saya\u2014dan mungkin beberapa orang\u2014jelas terganggu dengan jargon tersebut. Gimana nggak terganggu, <em>lha wong<\/em> mencatut nama festival musik lain untuk sebuah festival musik yang berbeda saja sudah salah, apalagi mencatut nama Woodstock yang jelas punya ruh yang kuat. Saya nggak tahu pasti, siapa yang dengan entengnya mencatut di acara Konser Untuk Republik ini. Entah orang dalam, spontanitas dari \u201cfans\u201d di luar. Yang jelas, siapa pun yang mencatutnya, mereka nggak paham ruh dari Woodstock itu sendiri.<\/p>\n<p>Saya memang bukan orang paling paham tentang seluk beluk Woodstock. Tapi, apa salahnya sih cari tahu dulu apa dan bagaimana Woodstock itu sendiri? Saya juga bukan orang yang paling paham tentang seluk beluk festival musik. Tapi, apa nggak ada cara yang lebih etis selain mencatut nama festival musik paling berpengaruh di dunia? <em>Mbok ya<\/em> yang tahu diri gitu lho, jangan asal mencatut nama festival lain yang jelas-jelas punya latar belakang, semangat, dan ruh yang berbeda. Ya meskipun tujuannya ada mirip-miripnya, lah.<\/p>\n<p>Bicara soal Woodstock, terutama Woodstock \u201969, ini adalah sebuah <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-mengikuti-festival-midsommar-spoiler-alert\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">festival<\/a> yang fenomenal. Selain sebagai surganya <a href=\"https:\/\/tirto.id\/nostalgia-kejayaan-generasi-bunga-cumc\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">kaum hippies<\/a>, hentakan Rock N Roll, dan tebaran bunga, cinta, dan ganja. Woodstock \u201969 juga merupakan sebuah sikap kritis, dan sikap kontrakultur sebagai respon terhadap pemerintah Amerika Serikat saat itu. Michael Lang dkk, sebagai inisiator, berusaha membuat sebuah \u201cceremonial\u201d yang merespon kebijakan-kebijakan militeristik pemerintah Amerika Serikat, termasuk Perang Vietnam, dengan slogan \u201cThree Days of Peace and Music\u201d.<\/p>\n<p>Ruhnya sudah jelas. Woodstock \u201969 yang digelar di ladang Max Yasgur di Bethel, pada 15 Agustus hingga 18 Agustus 1969, menentang adanya perang dan kebijakan militeristik melalui sebuah festival musik. Sehingga gelaran ini menciptakan sebuah generasi yang dinamakan generasi anti perang. Dalam gelarannya, Michael Lang dkk juga nggak bekerja sama dengan pemerintah atau <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/sebenarnya-pak-jokowi-tidak-perlu-buzzer\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">buzzer<\/a>-buzzernya. Paling ya cuma minta sedikit keamanan saja. Yang jelas, nggak ada sponsor dari pemerintah yang masuk ke Woodstock \u201969.<\/p>\n<p>Musisi yang diundang juga nggak main-main. Ada nama Janis Joplin, Grateful Dead, Santana, Jefferson Airplane, Joan Baez, hingga \u201csang dewa\u201d Jimi Hendrix. Sebagian musisi di atas punya isu yang hampir serupa dalam perjalanan karirnya. Mereka menentang adanya kekerasan, penindasan, dan mencoba menyebarkan kedamaian melalui musik mereka. Selama gelaran Woodstock \u201969, total ada sekitar 450 ribu orang yang hadir dan punya semangat yang sama. Woodstock \u201969 juga bisa dibilang sebagai kejadian sejarah, sebuah leksikon kultural, yang nggak akan pernah terulang lagi.<\/p>\n<p>Nah, kalau kita tarik maju ke depan, dalam kasuk Konser Untuk Republik yang \u201cmencatut\u201d nama Woodstock, jelas kelihatan banget bedanya. <strong>Pertama<\/strong>, Woodstock \u201969 nggak ada ikut campur dari pemerintah, atau negara. Beda dengan Konser Untuk Republik yang dibilang \u201cWoodstock-nya Indonesia\u201d, yang kalau ditelusuri, jelas ada banyak tangan negara yang masuk di situ. <strong>Kedua<\/strong>, mengenai isu anti perang dan militeristik yang dilawan melalui Woodstock \u201969. Kalau Konser Untuk Republik, ini malah nggak jelas. <strong>Ketiga<\/strong> dan yang paling jelas, nggak ada satu pun penampil di Woodstock \u201969 yang sowan ke Gedung Putih. Beda dengan musisi sini yang sowan dulu ke Istana.<\/p>\n<p>Nggak cuma sowan ke Istana, musisi yang terlibat juga aneh menurut saya. Salah satunya ada <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/siksakubur-jadi-musisi-istana-metalheads-kecewa\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Siksakubur<\/a> dan Laze, yang dulu dikenal cukup progresif, sekarang malah melunak. Kikan eks Cokelat yang paling juga nyanyi \u201cBendera\u201d dan NTRL yang paling anthemnya \u201cGaruda Di Dadaku\u201d lagi. Bosan.<\/p>\n<p>Jadi, nggak perlulah menodai ruh Woodstock dengan mencatut namanya untuk sebuah festival yang nggak nyambung seperti \u201cKonser Untuk Republik\u201d ini. Penghinaan terhadap ruh Woodstock itu namanya. Mending nonton dulu aja film Taking Woodstock atau dokumenternya Woodstock. Biar ngerti! (*)<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA\u00a0<\/strong><a class=\"link link--forsure\" href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/konser-untuk-republik-itu-solusi-omong-kosong\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">\u201cKonser Untuk Republik\u201d Itu Solusi Omong Kosong<\/a> atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/Iqbal-AR\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Iqbal AR<\/a><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/faridhermawan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">\u00a0<\/a>lainnya.<\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/p>\n<div id=\"gtx-trans\" style=\"position: absolute; left: 67px; top: 199px;\">\n<div class=\"gtx-trans-icon\"><\/div>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Entah orang dalam, spontanitas dari \u201cfans\u201d di luar. Yang jelas, siapa pun yang mencatut nama Woodstock, mereka nggak paham ruh dari Woodstock itu sendiri.<\/p>\n","protected":false},"author":75,"featured_media":15860,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[700,3697,3680,3043,3681,3772],"class_list":["post-15854","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-istana-negara","tag-konser-untuk-republik","tag-musisi-istana","tag-perpecahan","tag-siksakubur","tag-woodstock"],"modified_by":"Zahroh Ayu","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15854","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/75"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15854"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15854\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/15860"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15854"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15854"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15854"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}