{"id":158184,"date":"2022-01-10T12:00:28","date_gmt":"2022-01-10T05:00:28","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=158184"},"modified":"2022-01-09T21:26:32","modified_gmt":"2022-01-09T14:26:32","slug":"punya-dosen-seorang-youtuber-itu-blas-nggak-enak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/punya-dosen-seorang-youtuber-itu-blas-nggak-enak\/","title":{"rendered":"Punya Dosen Seorang YouTuber Itu Blas Nggak Enak"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, ngomongin soal pandemi saat ini memang males dan mboseni. Sebab, banyak tulisan yang intronya apa-apa pandemi, apa-apa tentang covid, dan segala tetek bengeknya. Akan tetapi, semua itu memang nggak bisa dimungkiri juga, kan, Gaes? Lantaran kehadiran pandemi secara global memang berdampak pada segala aspek kehidupan. Mulai dari aspek ekonomi, kesehatan, politik, hingga pendidikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam ranah pendidikan sendiri, tentu kita sebagai pelajar telah merasakan dampaknya, bukan? Buktinya pembelajaran saat ini masih dilakukan secara daring. Perpindahan pembelajaran dari luring ke daring ini lah yang menciptakan banyak perubahan lain juga. Mulai dari interaksi belajar, interaksi dengan pengetahuan, bahkan interaksi dengan pengajarnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ngomongin soal pengajar, nih, Gaes, mungkin sebagian dari kita punya guru atau dosen yang kini mulai aktif nge-YouTube. Seolah, pandemi ini menjadi jalan paling efektif untuk memaksimalkan teknologi. Dalam kehidupan kampus saya, nyatanya ada beberapa dosen yang sekarang nyambi jadi YouTuber juga. Meski subscriber-nya nggak sebanyak Atta Halilintar atau <a href=\"https:\/\/www.youtube.com\/c\/corbuzier\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Om Deddy<\/a>, tapi mereka ini sangat aktif jika memproduksi kontennya. Mulai dari konten podcast, traveling, daily activity, bahkan sampai perkuliahan pun dijadikan konten YouTube.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Alhasil, dari segala tetek bengek yang mereka lakukan tadi, terutama kuliah via YouTube itu, kami sebagai mahasiswanya pun agak dilematis. Pasalnya, memang patut disetujui juga, jika punya dosen seorang YouTuber itu pancen blas nggak enak.<\/span><\/p>\n<p><b>Pertama<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, boros kuota. Bagi kaum mendang-mending seperti saya ini, memasang WiFi adalah hal yang sulit. Sebab, selama ini rumah saya belum memasang WiFi sama sekali. Dan, yang saya lakukan adalah mengandalkan bantuan kuota internet istimewa dari Kemendikbud itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengalaman perkuliahan daring selama lebih dari tiga semester ini memang memakan banyak biaya, khususnya dalam penggunaan kuota internet. Bagaimana tidak, kuota yang seharusnya hanya digunakan untuk Google Meet dan Zoom saja, sejak ada dosen yang magang jadi YouTuber itu, kini kuota saya harus dibagi lagi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pasalnya, setiap \u201ckonten\u201d perkuliahan yang mereka sajikan adalah full alias utuh, tuh, tuh. Bayangkan jika selama seminggu kita harus nonton YouTube empat sampai delapan SKS. Buuh, ya, keroso, Rek! Pokoknya, setiap mata kuliah yang mereka ampu, durasinya ngalah-ngalahi YouTube-nya Ngaji Filsafat, lah. Puanjanggg puol.<\/span><\/p>\n<p><b>Kedua<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, presensi mahasiswa tergantung dari like, komen, subscribe, dan share. Hal yang unik dari dosen yang nyambi jadi YouTuber adalah, ya, sama seperti YouTuber pada umumnya. Pokoknya, pasti akan muncul kata-kata andyalan, yakni, \u201cJangan lupa like, komen, subscribe, dan share, ya?\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini pun juga merambah ke dosen saya yang tadi. Bahkan, saking ekstremnya, presensi kami dihitung dari siapa saja yang sudah like dan siapa saja yang sudah komen. Menurut saya, ini adalah strategi YouTuber yang cerdas. Sebab, selain menggaet mahasiswa untuk aktif, nyatanya juga untuk menambah views dan subscriber-nya pula.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal ini pun menjadi momok menakutkan bagi saya dan teman mahasiswa yang lain. Soalnya, kalau nggak nge-like atau malah kepencet dislike, wah\u2026 bisa dihitung alpa, tuh.<\/span><\/p>\n<p><b>Ketiga<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">, harus menonton konten kuliahnya sampai habis dan nggak boleh di-skip-skip. Sama halnya dengan perkuliahan melalui Gmeet atau Zoom, perkuliahan via YouTube tampaknya juga harus tertib. Jika di Gmeet atau di Zoom mahasiswa nggak boleh leave duluan, maka kalau di YouTube mahasiswa nggak boleh nggak nonton sampai habis. Masalahnya, materi perkuliahannya, ya, gitu-gitu saja, monoton, mboseni, dan blass rak mudeng.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sampai-sampai, dosen melihat data di YouTube untuk mengecek apakah ada mahasiswa yang skip. Biasanya, statistik view yang wajib dilampaui adalah 85 persen-an. Kurang dari itu, mahasiswa harus nonton lagi sampai batas itu tercapai. Batin saya, \u201cStrategi YouTuber maneh iki.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan yang paling parah, setiap mahasiswa harus menyertakan bukti tangkap layar menonton sampai habis. Jika tidak, akan bernasib sama seperti tadi, yakni dapat alpa. Oleh karena itu, setiap ada perkuliahan dari dosen saya itu, saya akali dengan mempercepat kecepatan videonya di angka 2X. Supaya, \u201ckonten\u201d perkuliahannya cepat selesai dan nggak ke-skip-skip. \u201cKalau pun saya bisa mempercepatnya di angka 5X, pasti saya jabanin, dah,\u201d gumam saya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, di samping semua itu, tujuan dosen-dosen itu pasti baik, yakni guna mencerdaskan kehidupan bangsa. Terlepas yang mereka tuju adalah adsense atau bukan, ya, itu urusan mereka masing-masing. Yang penting, kalau nyambi jadi YouTuber bisa diseimbangkan, lah, kapan memberi pengajaran, kapan membuat konten non-pengajaran. Masa iya, untuk dapat nilai tambahan, para mahasiswa harus share konten-konten yang nggak ada hubungannya dengan perkuliahan, sih, Pak, Buk?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Adhitiya Prasta Pratama<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<h5><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Laik en subskreb yha.<\/p>\n","protected":false},"author":1549,"featured_media":158356,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[469,514],"class_list":["post-158184","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-dosen","tag-youtuber"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/158184","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1549"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=158184"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/158184\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/158356"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=158184"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=158184"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=158184"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}