{"id":157842,"date":"2022-01-12T09:00:57","date_gmt":"2022-01-12T02:00:57","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=157842"},"modified":"2022-01-12T08:29:43","modified_gmt":"2022-01-12T01:29:43","slug":"panduan-ngomong-bahasa-jepang-bagi-pemula-yang-pengin-kenalan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panduan-ngomong-bahasa-jepang-bagi-pemula-yang-pengin-kenalan\/","title":{"rendered":"Panduan Ngomong Bahasa Jepang bagi Pemula yang Pengin Kenalan"},"content":{"rendered":"<p>Belajar bahasa Jepang memang memiliki tingkat kesulitan tersendiri. Jika bahasa lain kesulitan mengenal kata benda yang harus membedakan mana tunggal dan mana jamak, atau membedakan gender si penutur, bahasa Jepang &#8220;hanya&#8221; rumit di tingkat kesopanan dan hurufnya. Pelafalan dalam bahasa Jepang sama dengan tulisan, jadi penutur tak perlu pusing-pusing.<\/p>\n<p>Dengan teknologi yang sangat berkembang sekarang, orang semakin mudah mengakses media untuk belajar bahasa Jepang. Kehadiran e-book, video, audio dengan mudah kita dapatkan untuk menunjang pembelajaran bahasa Jepang. Berkenalan dengan orang Jepang melalui media sosial juga bukan hal yang mustahil. Tentunya kita harus memiliki cara berkenalan dan etika yang baik saat hendak ngobrol dengan orang Jepang. Apalagi orang Jepang terkenal kaku dan sulit bergaul dengan dunia luar.<\/p>\n<h4><strong>Pelafalan<\/strong><\/h4>\n<p>Pelafalan bahasa Jepang sebenarnya tidak begitu rumit, apalagi jika dibandingkan dengan bahasa Mandarin atau Perancis misalnya. Kosakata Jepang biasanya berupa bunyi terbuka dengan akhiran bunyi vokal. Pengucapan a seperti a pada saya, i pada ibu, u pada ular, e pada ekor, dan o pada otak.<\/p>\n<p>Dalam bahasa Jepang juga dikenal bunyi panjang dan pendek, artinya panjang pendek sudah beda artinya, seperti &#8220;ojisan&#8221; (om\/pakdhe) berbeda dengan &#8220;ojiisan&#8221; (kakek). Ada juga huruf rangkap dan pengucapannya dihitung satu mora. Bunyi \u201cn\u201d juga mengalami perubahan menjadi \u201cng\u201d, \u201cng\u201d lemah, bahkan \u201cm\u201d.<\/p>\n<h4><strong>Salam dan ungkapan penting<\/strong><\/h4>\n<p>Salam merupakan hal penting dalam pergaulan dengan orang Jepang. Mengucapkan salam dengan ceria bisa menjadi memberikan kesan pertama yang baik. Setidaknya ada 5 salam yang perlu diketahui, yaitu:<\/p>\n<p>\u304a\u306f\u3088\u3046\u3054\u3056\u3044\u307e\u3059 (Ohayoo gozaimas: selamat pagi)<br \/>\n\u3053\u3093\u306b\u3061\u306f (Konnichiwa: selamat siang)<br \/>\n\u3053\u3093\u3070\u3093\u306f (Kombangwa: selamat malam) diucapkan saat bertemu<br \/>\n\u304a\u3084\u3059\u307f\u306a\u3055\u3044 (Oyasuminasai: selamat istirahat)<br \/>\n\u3055\u3088\u3046\u306a\u3089 (Sayoonara: selamat tinggal) atau \u3058\u3083\u307e\u305f\u306d (Ja mata ne: sampai jumpa) yang diucapkan saat berpisah.<\/p>\n<p>Selain salam-salam tersebut, ada juga ungkapan menanyakan kabar \u304a\u5143\u6c17\u3067\u3059\u304b (ogengki des ka, artinya apa kabar?) dan bisa dijawab dengan \u306f\u3044\u3001\u5143\u6c17\u3067\u3059 (hai, gengki des yang artinya kabar baik) atau \u304a\u304b\u3052\u3055\u307e\u3067\u3001\u5143\u6c17\u3067\u3059 (okagesama de, gengki des yang artinya berkat doa Anda, kabarku baik).<\/p>\n<p>Ungkapan terima kasih bisa kalimat \u3042\u308a\u304c\u3068\u3046\u3054\u3056\u3044\u307e\u3059 (arigatoo gozaimas yang artinya terima kasih) dan dijawab dengan \u3044\u3044\u3048\u3001\u3069\u3046\u3044\u305f\u3057\u307e\u3057\u3066 (iie, doo itashimashite yang artinya tidak apa-apa atau cukup dengan \u3044\u3044\u3048 (iie) yang artinya tidak (apa-apa).<\/p>\n<p>Selain itu, ada ungkapan untuk meminta maaf dari yang paling simpel sampai yang paling merasa bersalah, yaitu \u3054\u3081\u3093 (gomen), \u3054\u3081\u3093\u306a\u3055\u3044 (gomennasai), \u3059\u307f\u307e\u305b\u3093 (sumimaseng), dan \u7533\u3057\u8a33\u3054\u3056\u3044\u307e\u305b\u3093 (mooshiwake gozaimaseng). Untuk minta tolong, bisa menggunakan onegaishimas atau yoroshiku onegaishimas, bahasa gaulnya \u201cyoroshiku ne\u201d.<\/p>\n<p>Pemakaian ohayoo dan arigatoo (tanpa gozaimasu) sebenarnya bisa saja dilakukan ke sesama orang yang sudah akrab, tetapi bagi pemula memang lebih baik memakai ragam sopan untuk menghindari kesalahpahaman.<\/p>\n<h4><strong>Perkenalan<\/strong><\/h4>\n<p>Ada banyak versi berkenalan dalam bahasa Jepang, mulai dari yang paling simpel hingga yang panjang. Tidak ada yang salah, namun lebih baik saat awal berkenalan menggunakan kalimat yang sederhana dulu, misalnya menyebutkan nama dan status pekerjaan. Contohnya:<\/p>\n<p>\u306f\u3058\u3081\u307e\u3057\u3066\u3002\u30ca\u30ca\u3067\u3059\u3002\u6a5f\u68b0\u5de5\u5b66\u79d1\u306e\u4e00\u56de\u751f\u3067\u3059\u3002\u3088\u308d\u3057\u304f\u304a\u9858\u3057\u307e\u3059\u3002<br \/>\n(Hajimemashite. Nana des. Kikai koogakka no ikkaisee des. Yoroshiku onegaishimas.<br \/>\nPerkenalkan, saya Nana, mahasiswa tingkat pertama teknik mesin. Senang berkenalan denganmu)<\/p>\n<p>Nah, setelah itu bisa dilanjutkan dengan obrolan seperti: tinggal di mana, hobinya apa, nomor teleponnya berapa, anggota keluarganya, dll.<\/p>\n<p>Bayangkan saja kalau kita mendengarkan perkenalan orang yang sangat panjang, ribet juga kan jadinya? Apalagi kadang yang jadi persoalan adalah pengucapan nama kita yang terdengar asing di telinga orang Jepang.<\/p>\n<h4><strong>SKSD<\/strong><strong>\u00a0<\/strong><\/h4>\n<p>Ngomongin kesukaan, kita bisa menggunakan pola \u201c(kata benda)\u304c\u597d\u304d\u3067\u3059\u3002(~ga suki des) yang artinya saya suka ~.<\/p>\n<p>Dulu iklan Indomie versi lawas, ada lho kalimat \u201cWatashi wa indomi ga suki\u201d (saya suka indomi).<\/p>\n<p>Saat menanyakan kesukaan orang lain, kita bisa menggunakan kalimat: \u201cDonna tabemono ga suki deska?\u201d (Suka makanan seperti apa?). Atau kalau ingin menanyakan hobi bisa dengan kalimat: \u201cShumi wa nan deska?\u201d (Hobimu apa?).<\/p>\n<p>Biar dekat dengan orang Jepang, kita boleh juga kok minta kontak mereka. Namun, tentu saja harus melihat situasi dan prospeknya. Kalau malah bikin ilfeel, mending nggak usah, deh.<\/p>\n<p>Cara meminta kontak orang Jepang bisa dengan kalimat: \u3088\u304b\u3063\u305f\u3089\u3001\u9023\u7d61\u5148\u3001\u805e\u3044\u3066\u3082\u3044\u3044\u3067\u3059\u304b (Yokattara, renraku-saki kiitemo ii desu ka?) yang artinya \u201cKalau (Anda) berkenan, bolehkah saya tanya kontakmu?\u201d<\/p>\n<p>Untuk basa-basi, kita bisa menggunakan kalimat seperti: \u304a\u5929\u6c17\u306f\u3044\u3044\u3067\u3059\u306d (Otenki wa ii des ne) yang artinya &#8220;Cuacanya bagus ya\u201d, atau \u4eca\u65e5\u306f\u6691\u3044\u3067\u3059\u306d (Kyoo wa atsui des ne) yang artinya \u201cHari ini panas ya.\u201d FYI, orang Jepang suka sekali basa-basi seperti ini, lho.<\/p>\n<h4><strong>Kosakata penting<\/strong><\/h4>\n<p>Kosakata-kosakata dalam bahasa Jepang berikut lumayan sering dipakai. Jadi, tidak ada salahnya juga dicoba dengan melihat konteksnya. Agar lebih sopan, kita bisa menambahkan \u3067\u3059\u306d (des ne), contoh: sugoi des ne (keren ya). Berikut kosakata yang sering dipakai dalam percakapan dengan orang Jepang:<\/p>\n<p>Yabai (gawat\/parah)<br \/>\nSugoi (keren)<br \/>\nOishii (enak)<br \/>\nMeccha kakkoii (keren banget)<br \/>\nOshare (modis)<br \/>\nKowai (takut)<br \/>\nOkashii (aneh)<br \/>\nSaikoo (mantap)<br \/>\nIi (bagus\/baik)<\/p>\n<p>Ada juga ungkapan yang sering digunakan dalam percakapan seperti: daijoobu deska (tidak apa-apa?) atau hontoo deska (beneran?). Kita bisa menjawabnya dengan kalimat: hontoo des yo (beneran lah). Atau ada juga ungkapan seperti: tsukaremashita (wah, capeknya) atau bikkuri shimashita (ku kaget).<\/p>\n<p>Sudah jelas, kan? Belajar bahasa Jepang itu jangan cuma asal memakai kosakata \u201cgaul\u201d, ya. Konteks penggunaannya juga harus diperhatikan. Sekali lagi, kalau memang mau berkenalan dengan orang Jepang, perhatikan cara berkenalan yang sopan. Selamat mencoba, Gaes!<\/p>\n<p>Penulis: Primasari N Dewi<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mau kenalan sama orang Jepang? Nih, saya kasih panduannya.<\/p>\n","protected":false},"author":1543,"featured_media":158216,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[12910],"tags":[6526,10051,13662],"class_list":["post-157842","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pendidikan","tag-bahasa-jepang","tag-orang-jepang","tag-panduan"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157842","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1543"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=157842"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157842\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/158216"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=157842"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=157842"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=157842"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}