{"id":15761,"date":"2019-10-05T08:50:19","date_gmt":"2019-10-05T01:50:19","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=15761"},"modified":"2019-10-05T07:23:09","modified_gmt":"2019-10-05T00:23:09","slug":"bucin-dan-lagu-galau-adalah-passion","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/bucin-dan-lagu-galau-adalah-passion\/","title":{"rendered":"Menjadi Bucin dan Penikmat Lagu Galau adalah Passion Kita (Hah, Kita?)"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Kalau nggak suka galau, mending kita jangan temenan deh.&#8221;<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tanpa mengamati dunia jagad media sosial pun semua orang juga pada tahu, kok lagu-lagu galau zaman nyokab gue laku lagi ya? Benar sekali, fenomena cover song menjadi begitu akrab dalam nadi pemuda pemudi hari ini. Begitulah kiranya <\/span><span style=\"font-weight: 400;\"><del>awal negara api menyerang<\/del> <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">kenapa lord of brokenheart Didi Prasetya dan Abid Ghofar Aboe DJa&#8217;far mendapatkan panggungnya kembali.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya sudah lama sekali lagu percintaan sudah sangat akrab dengan kehidupan kita. Contoh saja Dewa 19 dengan lagu kangennya di kisaran tahun 2000-an. Alm. Chrisye dengan Cintaku di kisaran tahun 1990-an. Mungkin Ida Laila dengan sepiring berduanya di kisaran tahun 1980-an. Maaf Ani dan Roma irama sebenarnya ingin saya sebutkan, tapi untuk menghormati KPI, makanya tidak jadi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Memasuki tahun 2010-an ke atas, rasa-rasanya telinga ini belum bisa move on dari lagu cinta yang mendayu-dayu. Benar memang kata Cholil Mahmud, lagu cinta melulu, apa memang karena kuping melayu. Suka mendayu-dayu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Benar sepanjang tahun-tahun berikutnya Anji dengan &#8220;Dia&#8221; <\/span><del><span style=\"font-weight: 400;\">padahal nggak tahu dia siapa <\/span><\/del><span style=\"font-weight: 400;\">sempat mewarnai jagad viral dan cover dunia maya. Lantas Payung Teduh menyusul dengan pengen &#8220;Akad&#8221;-nya, karena mungkin di balik payung yang teduh itu, banyak yang harus diselamatkan dari dosa-dosa indah. Menyusul pula Starla dengan sepucuk &#8220;Surat Cinta untuk Starla&#8221;, meskipun Starla ini sebenarnya adalah anaknya Virgoun Putra Tambunan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lantas Sa Su Sayang menampakkan warnanya dengan tema kesetiaannya. Beralih lagi Andmesh dengan Cinta yang Luar Bisanya. Semakin ke sini, tiba-tiba Pamer Bojo, Layang Kangen, dan tidak boleh dilupakan Katonyono Medot Janji dengan Sahabat Ambyarnya, mana suaranya\u2026<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sorry terbawa suasana\u2026<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ehm.! Baik-baik. Kita fokuskan kepada pembahasan kali ini. Pemuda-pemudi hari ini sangat akrab dengan sebutan milenials. Sebuah <\/span><del><span style=\"font-weight: 400;\">kiseki no sedai <\/span><\/del><span style=\"font-weight: 400;\">generasi keajaiban yang katanya Analisa Widyaningrum seorang Psikolog Klinis generasi milenials di mata generasi sebelumnya itu generasi yang idealis? Punya visi yang tidak realistis? Yang terpenting asal bisa gaya? Padahal gak sepenuhnya bener sih.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Faktanya generasi ini diisi oleh kalian yang berumur 18-38 tahun. Ciri khas generasi ini sebenarnya mereka itu cari nyaman dalam urusan-urusannya, baik hoby, passion, pekerjaan, dan lain sebagainya. Baiklah sepertinya kita dapat 2 poin penting di sini. Pertama, penilaian generasi tua itu semuanya salah, dan kedua faktor suka cari kenyamanan. <del>Nah, coba <\/del><\/span><del><span style=\"font-weight: 400;\">distabilo <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">garisbawahi 2 poin dan akan kita ulas.<\/span><\/del><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Generasi milenials adalah generasi idealis? Kurang tepat mungkin generasi egois lebih cocok. Maaf generasi kami tidak kenal dengan idealis, yang kami tahu bahwa kami cukup egois mementingkan diri kami sendiri dengan kenyamanan versi kami. Tapi kami begini ini sebenarnya niru dari generasi sebelumnya lo, yang katanya baby boomers itu orang-orangnya idealis banget.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Generasi milenials punya visi yang nggak realistis? Salah besar, kami sebenarnya tidak nyaman saja menceritakan visi-visi kita-kita iya nggak? Biar kami dan generasi kami saja yang tahu, kalian cukup tunggu dan bersabar. Tunggu <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">revolusi <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">gebrakan-gebrakan dari generasi paling kreatif, inovatif dan inspiratif ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Generasi milenials penting asal bisa gaya dan terkesan luarnya aja, dalamnya kosong? Salah besar, sebenarnya itu semua adalah bentuk literasi kami dalam passion-passion yang kami ketahui melalui foto, video dan bahan-bahan bacaan yang menurut kami renyah dan bergizi, macam <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">rumah uya, cumi-cumi, katakan putus <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">kompas muda, narasi entertainment, atau mungkin watchdoc.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keseluruhan alasan ini sebenarnya didominasi oleh faktor kami yang ingin mencari kenyamanan. Kalau kami nyaman sama passion-passion kami, lantas generasi baby boomers mau apa?\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maaf saya tidak bermaksud untuk tidak sopan disini, saya hanya mencoba meyakinkan bahwa generasi kami ini generasi yang paling dinanti-nantikan. Kalau nggak percaya, mari kita buktikan fakta-fakta akibat perbuatan kami.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fakta pertama. <a href=\"https:\/\/www.cnbcindonesia.com\/tech\/20190824161148-40-94389\/atta-halilintar-youtuber-terkaya-ke-8-dunia-mesin-uangnya\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Atta Halilintar masuk nominasi Youtuber terkaya ke-8 duni<\/a>a. Kalau seandainya ada nominasi mengharumkan bangsa menjadi Youtuber, saya orang pertama yang merekomendasikan Atta Halilintar sebagai nominasi pahlawan Milenials pertama Indonesia. Pahlawan yang berjasa memperkenalkan Indonesia di mata dunia. Suatu saat saya bermimpi foto Atta akan terakomkdir di uang 50 ribuan. Bukan begitu sahabat Ahsyiaaap?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fakta kedua. Pasca baby boomers generasi kami membuat hampir separuh penduduk Indonesia sudah melek internet lo. Menurut rilis BPS sih, saya tinggal percaya aja. Bayangkan sudah 64% nih penduduk Indonesia telah melek internet. Mayoritas dari angka itu, kita generasi milenials yang paling mendominasi. Jadi kita-kita, generasi milenials yang punya potensi memviralkan segala sesuatu yang bersebaran di dunia maya. Semua bentuk berita viral, pasti kita-kita yang bikin. Mau contoh nih? KKN di Desa Penari, Mawang-Kasih Sayang kepada Orangtua.\u00a0 Masih kurang? Pamer Bojo Didi Prasetyo karena kalau nggak di cover sama Guyon Waton dan Via Valen, pasti ndak seramai sekarang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fakta ketiga. Istilah bucin adalah bentuk proses riil kebudayaan kami. Kalau kata analisa widyaningrum pada channel youtubenya yang masih 48k subscriber sih bilang, generasi milenials itu sebenarnya suka terhadap hal yang membikin mereka nyaman. Nah, atas dasar asumsi inilah saya berani berpendapat bahwa mengejar cinta itu sama dengan mengejar kenyamanan. Alhasil semuanya akan dikorbankan mulai dari tenaga, pikiran, uang, jiwa, raga, mimpi, cita-cita, sampai <\/span><del><span style=\"font-weight: 400;\">nama baik kampus <\/span><\/del><span style=\"font-weight: 400;\">orangtuapun kadang ikut dikorbankan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sudah tendensi mencari kenyamanan generasi kami tuh sudah tidak peduli lagi sama yang namanya malu, segan, apalagi sungkan. Kita tuh sebenarnya hanya ingin merasa nyaman, udah gitu doang. Kalau kita nyaman, udah deh kita pasti pergi ke Gejayan atau Tugu Surabaya kok, ikut menolak RKUHP, RUU KPK, dan aneka rancangan undang-undang yang bermasalah lainnya deh, tenang aja. (*)<\/span><\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <\/strong><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kalau-mau-cover-lagu-lagunya-didi-kempot-minta-izin-dulu-lah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Kalau Mau Cover Lagu-Lagunya Didi Kempot, Minta Izin Dulu, Lah<\/a> atau tulisan\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/theo\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Theo<\/a><a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/faridhermawan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">\u00a0<\/a>lainnya.<\/p>\n<p>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sebenarnya kita tuh cuman suka terhadap hal yang bikin nyaman. Menjadi bucin dan mendengarkan lagu-lagu cinta galau adalah salah satu eh salah duanya<\/p>\n","protected":false},"author":361,"featured_media":15911,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[497,3782,507],"class_list":["post-15761","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-bucin","tag-lagu-galau","tag-milenial"],"modified_by":"Nia Lavinia","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15761","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/361"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15761"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15761\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/15911"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15761"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15761"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15761"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}