{"id":157429,"date":"2022-01-08T08:00:47","date_gmt":"2022-01-08T01:00:47","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=157429"},"modified":"2022-01-08T11:15:05","modified_gmt":"2022-01-08T04:15:05","slug":"panggilan-sayang-dalam-bahasa-jawa-buat-pasangan-selain-mas-dan-dik","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/panggilan-sayang-dalam-bahasa-jawa-buat-pasangan-selain-mas-dan-dik\/","title":{"rendered":"Panggilan Sayang dalam Bahasa Jawa buat Pasangan selain Mas dan Dhik"},"content":{"rendered":"<p>Panggilan sayang merupakan bentuk ungkapan kepedulian secara verbal yang ditujukan kepada orang yang disayangi. Fungsinya tidak lain untuk membangun komunikasi yang harmonis dalam hubungan.<\/p>\n<p>Bahasa Jawa memiliki cukup banyak variasi panggilan sayang buat pasangan. Panggilan sayang dalam bahasa Jawa kebanyakan merujuk pada artian kakak-adik dan menitikberatkan pada ketentuan gender seperti halnya \u201cmas\u201d dan \u201cdhik\u201d yang sangat populer sebagai panggilan sayang di kalangan pasangan Jawa.<\/p>\n<p>Secara garis besar, variasi panggilan sayang dalam bahasa Jawa dibedakan oleh asas kesantunan dan letak geografi bahasanya. Lewat tulisan ini, saya akan memberikan sedikit pengetahuan tentang ragam panggilan sayang dalam bahasa Jawa.<\/p>\n<h4><strong>#1 Raka dan Nimas<\/strong><\/h4>\n<p>\u201cRaka\u201d merujuk pada panggilan sayang buat cowok. Tidak jauh berbeda dengan \u201cmas\u201d, \u201craka\u201d juga memiliki arti kakak laki-laki. Perbedaan antara \u201cmas\u201d dan \u201craka\u201d terletak pada ragam bahasanya. Jika \u201cmas\u201d adalah ragam bahasa Jawa Ngoko, \u201craka\u201d adalah ragam bahasa Jawa Krama Inggil. \u201cRaka\u201d juga memiliki beberapa variasi seperti \u201crakamas\u201d, \u201cmasraka\u201d, atau \u201ckang raka\u201d yang keseluruhannya memiliki arti yang sama. \u201cRaka\u201d lebih sering digunakan sebagai panggilan buat pasangan cowok.<\/p>\n<p>Kemudian, kata \u201cnimas\u201d merujuk pada panggilan sayang buat cewek. \u201cNimas\u201d merupakan gabungan dari kata \u201cnini\u201d yang berarti sebutan bagi anak perempuan dan \u201cmas\u201d yang dalam konteks ini merujuk pada sebutan untuk orang terdekat. \u201cNimas\u201d juga termasuk ragam bahasa Jawa Krama Inggil. Panggilan \u201cnimas\u201d sering ditemukan pada sajak-sajak lama, kemudian juga tak jarang ditemukan pada lagu-lagu populer berbahasa Jawa seperti lagu yang berjudul &#8220;Sotya&#8221;. Berikut bunyinya:<\/p>\n<p><em>Nimas, sesotyaning ati, ya mung ndika kang sawiji.<\/em><br \/>\n(Sayang, perhiasan hati, ya hanya engkau satu-satunya)<\/p>\n<p>Panggilan \u201craka\u201d dan \u201cnimas\u201d jarang digunakan oleh pasangan Jawa di zaman sekarang lantaran adanya keterbatasan pengetahuan tentang ragam bahasa Jawa Krama dari kedua kata tersebut. Namun, dari kedua kata tersebut dapat disimpulkan bahwa panggilan sayang buat pasangan Jawa tidak dibatasi oleh ragam bahasa dan tingkat tutur, sehingga dalam kondisi seperti apa pun pasangan Jawa pasti menuntut adanya keharmonisan dalam hubungan.<\/p>\n<h4><strong>#2 Kangmas<\/strong> <strong>dan Dhiajeng<\/strong><\/h4>\n<p>\u201cKangmas\u201d atau bisa disebut juga dengan \u201ckakangmas\u201d merupakan panggilan yang lazimnya digunakan sebagai sebutan untuk kakak laki-laki. Lalu, \u201cdhiajeng\u201d yang terdiri dari kata \u201cadhi\u201d atau adik dan kata \u201cajeng\u201d yang berarti perempuan. Kedua panggilan tersebut merupakan ragam bahasa Jawa mataraman atau bahasa Jawa yang sering dipakai di daerah Jawa Tengah, Yogyakarta, dan sebagian wilayah bagian barat Jawa Timur. Selain digunakan dalam hubungan persaudaraan, kedua panggilan ini juga digunakan untuk panggilan pasangan.<\/p>\n<p>Di zaman sekarang, \u201ckangmas\u201d dan \u201cdhiajeng&#8221; masih banyak digunakan oleh pasangan Jawa untuk panggilan sayang. Baik dari kalangan muda-mudi hingga pasangan pernikahan, frekuensi penggunaan kedua panggilan tersebut masih sangat banyak. Panggilan \u201ckangmas\u201d dan \u201cdhiajeng\u201d juga sering digunakan untuk sebutan <a href=\"https:\/\/id.wikipedia.org\/wiki\/Daftar_pemilihan_duta_putra_putri_wisata_di_Indonesia\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">kompetisi yang melibatkan putra-putri daerah<\/a> di Pulau Jawa.<\/p>\n<h4><strong>#3 Cak dan Ning<\/strong><\/h4>\n<p>Di beberapa wilayah bagian timur Jawa Timur seperti Surabaya, Malang, Pasuruan, dan sekitarnya, masyarakatnya pasti sangat akrab dengan sapaan \u201ccak\u201d dan \u201cning\u201d. Panggilan-panggilan ini biasanya digunakan sebagai sapaan oleh orang-orang Jawa Timur yang ingin lebih akrab saat bercengkerama.<\/p>\n<p>Panggilan \u201ccak\u201d yang berasal dari \u201ccacak\u201d merupakan sebutan untuk kakak laki-laki. Sedangkan \u201cning\u201d digunakan sebagai sebutan untuk anak perempuan. Untuk penggunaannya, selain digunakan sebagai panggilan keakraban, \u201ccak\u201d dan \u201cning\u201d juga digunakan untuk panggilan sayang buat pasangan. Kedua panggilan tersebut berlaku bagi semua kalangan pasangan, baik dari yang sudah menikah maupun belum.<\/p>\n<p>Jadi, jika pasanganmu menyapamu dengan sebutan \u201ccak\u201d, jangan lupa dibalas dengan sebutan \u201cning\u201d, ya!<\/p>\n<p>Itulah ragam paket panggilan sayang dalam bahasa Jawa yang diperuntukkan buat kalian yang ingin berkomunikasi secara romantis sama pasangan dan biar kelihatan njawani. Selamat mencobanya!<\/p>\n<p>Penulis: Ahmad Rizky Wahyudi<br \/>\nEditor: Intan Ekapratiwi<\/p>\n<h5><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\"><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/span><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Aku tresno karo kowe, Dik~<\/p>\n","protected":false},"author":1580,"featured_media":157961,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[763,6135,13098],"class_list":["post-157429","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-bahasa-jawa","tag-panggilan-sayang","tag-pilihan-redaksi"],"modified_by":"Intan Ekapratiwi","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157429","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1580"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=157429"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157429\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/157961"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=157429"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=157429"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=157429"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}