{"id":157082,"date":"2022-01-03T15:00:40","date_gmt":"2022-01-03T08:00:40","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=157082"},"modified":"2022-01-03T11:52:53","modified_gmt":"2022-01-03T04:52:53","slug":"memangnya-ada-tempat-wisata-di-solo","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/memangnya-ada-tempat-wisata-di-solo\/","title":{"rendered":"Memangnya Ada Tempat Wisata di Solo?"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penuh huru-hara, begitu nampaknya gambaran Jogja kini. Lini masa seolah tak pernah sepi soal pemberitaan klitih. Dan di tengah kemuraman Jogja, kota tetangga Solo malah tampil dengan pedenya memasang <a href=\"https:\/\/www.suara.com\/news\/2022\/01\/01\/162639\/marak-klitih-pemkot-solo-pasang-baliho-di-jogja-publik-marketingnya-juara\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">baliho berlogo Pemkot Surakarta<\/a> bertuliskan \u201cWisata Aman? ke Solo Aja\u201d. Seolah ada tendensi mengejek, atau memang memanfaatkan situasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Salah satu yang menarik adalah reaksi beberapa warganet yang bertanya: \u201cMemangnya ada tempat wisata di Solo?\u201d Pertanyaan juga berlanjut pada perbandingan Jogja dan Solo yang tidak imbang. Apalagi, selama ini Jogja dikenal sebagai tempat piknik, sementara Solo, ummm, masih diragukan. Tapi, apakah benar nggak ada tempat wisata di Solo?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita perlu pembahasan yang lumayan detil perkara ini. Sebab, ada hal-hal yang banyak orang tak ketahui perkara ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya anggapan \u201ctidak imbang untuk membandingan Solo dan Jogja, itu benar adanya. Yo jelas nggak imbang, lha wong Jogja itu provinsi (DIY), sementara Solo itu kota. Tapi, sebenarnya jawabannya nggak secetek itu. Tidak, kalau kita mempreteli detail Jogja dan Solo.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau ingin membuatnya adil, maka semestinya kota Solo yang luasnya 44,04 km2 itu dibandingkan dengan kota Jogja yang luasnya 32,50 km2. Jika perbandingannya begini, kita akan melihat, bahwa sebenarnya, Jogja dan Solo itu serupa. Lha, gimana nggak serupa, lha wong kedua kota ini sama-sama pecahan kerajaan Mataram Islam.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika di Jogja ada keraton Kesultanan Yogyakarta dan Pura Pakualaman, di Solo juga ada keraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran. Di Jogja ada benteng Vredeburg, di Solo juga ada benteng Vastenburg. Dan beberapa yang saya sebutkan ini, merupakan beberapa objek wisata sejarah dan budaya. Jika apa yang ada di Jogja (wisata sejarah) juga ada di Solo, Solo sebenarnya bisa jadi alternatif wisata selain Jogja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hal mirip lain dari Jogja dan Solo juga ada pada masyarakatnya, yang sama-sama merupakan masyarakat Mataraman. Alias, sama-sama njawani, pun bahasa dan logatnya serupa. Maka vibes bermalam di angkringan Jogja itu bisa dirasakan juga di hik Solo (hik: sebutan untuk angkringan di Solo)<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, bukan berarti Solo selalu mirip dengan Jogja. Tidak. Misalnya Jogja punya Jl. Malioboro yang plang jalannya selalu ramai dengan wisatawan. Dan jika kamu tanya \u201cMalioboro-nya Solo\u201d itu di mana, jawabannya masih dipikirkan. Ngarsopuro? Hmmm, masih belum sebanding.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hanya saja, soal wisata kota, kota Solo masih bisa beradu di sektor lain, misalnya perihal kulineran. Jelas, Solo punya magnet itu, baik kuliner yang halal maupun haram, semuanya ada. Solo bukan hanya soal rasa yang boleh diadu, soal harga, Solo lebih unggul!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Oh, ya, dari baliho \u201cWisata Aman? ke Solo Aja\u201d ada lagi pertanyaan dari warganet: \u201cMemangnya di Solo ada pantai?\u201d Begini, Lur, sebenarnya di Jogja itu juga nggak ada pantai. Yang ada pantai itu Bantul dan Gunung Kidul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika konteks Jogja yang dibawa adalah Jogja raya (Daerah Istimewa Yogyakarta), semestinya Jogja raya (DIY) dibandingkan dengan Solo raya (Eks Karesidenan Surakarta dan Eks Daerah Istimewa Surakarta), yaitu Solo, Boyolali, Sukoharjo, Karanganyar, Wonogiri, Sragen, dan Klaten.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, jadi jawabannya, di Solo raya itu juga ada pantai, yaitu di <a href=\"https:\/\/wonogirikab.go.id\/profile\/progile-wilayah\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Wonogiri,<\/a> sebagai satu-satunya wilayah Solo raya yang punya bibir pantai. Bukan hanya pantai, di Solo raya juga ada candi, salah satunya Candi Cetho di Karanganyar. Atau, Candi Prambanan, yang masuk wilayah Sleman dan sebagian masuk Klaten.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Wisata lain ada apalagi? Banyak. Kalau mau wisata mata air, di Klaten ada, Boyolali juga ada. Wisata alam pegunungan, ada Tawangmangu di Karanganyar, ada pula Selo di Boyolali. Dan wisata-wisata Solo raya lainya yang bisa kalian googling sendiri. Perlu diingat pula, jarak tempuh dari kota Solo ke kabupaten Eks Karesidenan Surakarta itu juga sama dengan jarak tempuh kota Jogja ke kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, yah, sedikitnya, apa yang dicari orang di Jogja itu beberapa juga ada di Solo, baik di kota atau kabupaten sekitarnya. Namun, keduanya memiliki keunggulan dan kekurangan masing-masing. Yang pasti, soal pertanyaan \u201cEmangnya di Solo ada tempat wisata?\u201d jawabannya \u201cada\u201d.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Dicky Setyawan<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<h5><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Ada lah, sembarangan!<\/p>\n","protected":false},"author":783,"featured_media":157256,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[1],"tags":[2284,5533],"class_list":["post-157082","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-nusantara","tag-solo","tag-tempat-wisata"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157082","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/783"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=157082"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/157082\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/157256"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=157082"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=157082"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=157082"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}