{"id":156596,"date":"2021-12-29T12:00:43","date_gmt":"2021-12-29T05:00:43","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=156596"},"modified":"2021-12-29T12:41:14","modified_gmt":"2021-12-29T05:41:14","slug":"final-aff-yang-menang-pejabat-yang-cari-muka","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/final-aff-yang-menang-pejabat-yang-cari-muka\/","title":{"rendered":"Final AFF: Yang Bertanding Indonesia vs Thailand, yang Menang Pejabat yang Cari Muka"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: center;\"><i><span style=\"font-weight: 400;\">Yang bertanding di final AFF Indonesia vs Thailand, yang juara politisi.<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Saya tahu, meningkatkan citra di hadapan masyarakat untuk seorang politisi itu perlu. Sudah perlu, pakai banget malah. Saya paham, citra akan mendompleng dirinya. Baik ketika lagi mencalonkan atau bahkan sudah menjabat dalam posisi tertentu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita bisa memasukan logika dengan premis paling sederhana ketika ada bakal calon peserta kontestasi yang cari muka. Tentu saja ia membutuhkan suara untuk menang kontestasi itu. Premisnya ya sudah jelas; butuh suara. Nah, kalau ada pejabat yang sudah mapan di posisinya namun masih saja cari muka, betapa menggelikannya orang tersebut.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau pakai logika paling purba pun nggak bakal bisa kita\u2014sebagai manusia biasa pada jamaknya\u2014berpikir sampai ke sana. Kalau pejabat yang sudah mapan ya tinggal kerja, kerja, kerja. Urusan tipes atau vertigo ya lihat belakangan. Yang penting kerja.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di sebuah daerah di Pulau Jawa, terdapat pejabat daerah yang lucunya kelewatan. Ia sudah nyaman duduk di pangkuan jabatan, menang kontestasi tentu saja sudah, namun masih cari muka sih itu bener-bener bikin garuk-garuk kepala.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin blio ini mencontoh secara bodon cari muka ala Bu Risma dan Pak Ridwan Kamil. Bu Risma acap kali marah-marah tanpa sebab. Mungkin ketika ia sedang ngalamun, juga bisa langsung mencak-mencak. Atau Pak Ridwan Kamil yang sering pamer sudut Jawa Barat khusus bagian yang indah-indah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, itu semua retorika politik. Tanpa ada kesepakatan, retorika politik itu punya aturan main tersendiri. Sedang pejabat yang saya maksud, masuk retorika politik paling bodoh saja belum. Ya maaf-maaf saja, pemain Timnas Indonesia yang masih bertugas dan memerah keringat, kok ya sudah dijadikan alat politik.<\/span><\/p>\n<blockquote class=\"twitter-tweet\">\n<p dir=\"ltr\" lang=\"in\">Video call Mas ARHAN pencetak gol ciamik sekaligus Man of the Match Indonesia vs Malaysia. Selamat ulang tahun Mas Arho (panggilan akrabnya di rumah Blora), semoga sehat selalu, sukses dan besok menang terus sampai Final.. InshaAllah INDONESIA JUARA&#8230; Aamiin <a href=\"https:\/\/t.co\/FQRuYm4UWI\">pic.twitter.com\/FQRuYm4UWI<\/a><\/p>\n<p>\u2014 BUPATI BLORA (@AriefRohman_838) <a href=\"https:\/\/twitter.com\/AriefRohman_838\/status\/1473289226577797123?ref_src=twsrc%5Etfw\">December 21, 2021<\/a><\/p><\/blockquote>\n<p><script async src=\"https:\/\/platform.twitter.com\/widgets.js\" charset=\"utf-8\"><\/script><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">mungkin bisa mengelak dengan, \u201cWong cuma ngucapin ulang tahun dan ngobrol-ngobrol bentar.\u201d Itu saja sudah nggak valid blaaaas. Sekalian saja ditambah \u201ccuma\u201d yang lainnya. Cuma ngonten di Twitter, cuma kebetulan dapat like banyak dan tambahan followers karena Arhan sedang naik daun, cuma ganggu konsentrasi Arhan menjelang berhadapan dengan Singapura, cuma kebetulan elektabilitas naik deh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lionel Messi yang masih umur 22 dan dapat Ballon d&#8217;Or yang pertama kalinya saja nggak dibikinkan konten sama Bupati Rosario. Bahkan nggak ada tuh Gubernur Santa Fe bikin tweet ndlogok macam, \u201cKira-kira Mas Messi punya pacar belum ya. Pak @BupatiBuenosAires, kita besanan, nih.\u201d Nggak, nggak sampai sana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Itulah kenapa Messi tumbuh dengan baik. Cristiano Ronaldo juga menjadi pemain sepak bola kelas dewa. Sebab, di daerah asal mereka nggak ada itu politisi-politisi gathel yang gangguin konsentrasi mereka baik membela klub maupun timnas.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Messi dan Ronaldo kelas dunia lho ini. Bahkan jumlah followers mereka dijumlah, populasi Portugal saja kalah. Nggak sampai tuh Bupati Aveiro ndompleng nama dengan video call bareng. Mungkin Bupati Aveiro dan juga Bupati Rosario tahu bahwa telepon dan bikin konten bareng atlet yang sedang bertugas itu dikatakan norak bin ndlogok saja belum.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pesepakbola Indonesia itu layu sebelum berkembang ya karena kultur di negara ini yang super busuk sekali. Berprestasi di tingkat usia muda, didatangi politisi, dimanja setengah mati, dibelikan apa-apa, dijanjikan jadi Polri atau PNS, setelah terlena dan kariernya turun, ya politisi itu pergi cari atlet lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atlet yang manja? Ah nggak juga. Ya bayangkan saja ketika usiamu baru 20 tahun, lalu diajak video call sama politisi aneh. Secara psikis ya mau nolak juga nggak enak. Apalagi di luar jam latihan, kebijakan pelatih sudah nggak mutlak. Pelatih dan jajaran hanya bisa mengingatkan, sedang pemain yang menentukan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bahkan ada yang bilang, \u201cSalahin atletnya sendiri kenapa diangkat!\u201d Lha di-video call sama bupati daerah tempat tinggalnya sendiri je, mosok ya reject. Tentu saja pekewuh. Sedang atlet muda yang usianya baru 20 tahun tak tahu bahwa dirinya berdampak besar kepada daerah kelahirannya. Apalagi kemarin baru cetak gol, waduh incaran betul bagi politisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Panjat sosial dengan atlet ketika event olahraga usai saja aneh, apalagi ketika event masih berlangsung, macam final AFF ini. Saya yakin, yang dibutuhkan atlet hanyalah kabar dari orang-orang yang ia sayang. Orang tua yang berkata bangga, kawan-kawan yang menunggu di tongkrongan, atau pacar yang sudah menabung rindu di celengan. Bukan politisi prik yang ujug-ujug nanya jodoh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama saya jadi pelatih sepak bola lingkup desa, menjaga pikiran pemain selama kompetisi itu penting. Pernah pemain saya ketika jadi striker malah ndomblong. Ketika saya tanya kenapa, ia kepikiran kalau kemarin ditelepon pinjol. Lha ini apalagi yang telepon lebih medeni dari debt collector pinjol, yakni politisi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun, lama kelamaan saya malah menaruh kasihan kepada politisi macam ini. Saking nggak punya prestasi untuk dibanggakan, sampai-sampai panjat sosial atlet yang bahkan laga kompetisinya saja belum usai. Kasihan betul kalau kenyataannya memang begitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Laga final AFF nanti, Indonesia akan menghadapi Thailad. Menang atau kalah (semoga saja menang, amin paling banter), pejabat-pejabat seperti ini akan membelah diri. Menjadi banyak. Ada di mana-mana. \u201cSelamat Menjuarai Piala AFF 2020\u201d tapi yang dipajang wajah-wajah mereka yang membosankan itu. Ah, lagu lama.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan, yah, yang bertanding di final AFF Indonesia vs Thailand, yang juara politisi.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Gusti Aditya<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<h5><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Muka politisi memenuhi poster incoming.<\/p>\n","protected":false},"author":130,"featured_media":156628,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[14483,31,656,2815],"class_list":["post-156596","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-final-aff","tag-indonesia","tag-pejabat","tag-politisi"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/156596","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/130"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=156596"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/156596\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/156628"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=156596"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=156596"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=156596"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}