{"id":156594,"date":"2021-12-29T09:00:26","date_gmt":"2021-12-29T02:00:26","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=156594"},"modified":"2021-12-28T23:39:49","modified_gmt":"2021-12-28T16:39:49","slug":"kata-siapa-yogyatidakaman-sembarangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kata-siapa-yogyatidakaman-sembarangan\/","title":{"rendered":"Kata Siapa #YogyaTidakAman? Sembarangan!"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\"><a href=\"https:\/\/twitter.com\/search?q=%23YogyaTidakAman&amp;src=trend_click&amp;vertical=trends\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Tagar<\/a> #YogyaTidakAman mengemuka ke publik, setelah kasus klitih kembali muncul. Tak tanggung-tanggung, sekarang klitih beroperasi tak lagi di tengah malam, namun sore hari. Kejadiannya di ring road Jogja, tempat paling ramai di Jogja. Jelas ramai, ha wong dalan kok.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Reaksi publik beragam tentang tagar #YogyaTidakAman ini. Ada yang marahnya sudah di ubun-ubun, ada yang menyayangkan, ada yang nanya klitih itu apa, dan ada yang merasa tagar ini hanyalah akal-akalan saja. Alias, Yogya itu beneran aman, netizen saja yang heboh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dan saya setuju dengan yang terakhir, netizen doang yang heboh. Yogya itu aman, Bosku!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain amat buat investor karena upah yang rendah, Yogya itu aman beneran. Kalian coba jalan malem-malem, nangis di ring road. Pernah ketemu klitih?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kamu pernah? Ganti nanya ke orang lain kalau gitu. Kamu pernah? OH NGGAK PERNAH? SAMAAA.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tuh kan, ada yang nggak pernah ketemu klitih. Berarti, #YogyaTidakAman itu suatu upaya untuk menggembosi pariwisata Jogja. Memang ya, udah susah-susah membangun brand, bikin pencitraan lewat akun-akun romantisasi, membabat lahan untuk bikin kafe artsy yang bangkrut enam bulan kemudian, malah digembosi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sini-sini saya kasih tahu. Orang-orang yang ketemu klitih itu yang salah. Mereka itu harusnya di rumah aja. Kayak anjuran pemerintah. Coba kalau mereka nggak keluar rumah, nggak ada cerita itu kena bacok. Kalau ada yang keliling-keliling kota bawa parang, itu urusan mereka. Kalian ini mbok nggak usah ngurusin urusan orang lain. Educate yerself will ya?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pun, Jogja itu nyatanya aman beneran. Kalau nggak aman, mana mungkin ada investor sebanyak itu menanamkan uangnya ke Jogja. Perkara izin yang gampang plus buruh murah, itu urusan lain. Kalau nggak aman, pasti nggak akan berani. Coba, situ udah pernah liat gerai Janji Jiwa di Kolombia? Nggak kan? Sana kan isinya gembong narkoba, makanya nggak aman. Jogja nggak kayak gitu tuh.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tagar-tagar entut itu cuman memberi imej Jogja yang buruk. Pada titik ini, <a href=\"https:\/\/jogja.suara.com\/read\/2019\/12\/16\/174821\/gkr-hemas-heran-kriminal-di-jogja-langsung-viral\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">saya setuju sama GKR Hemas<\/a>, yang bilang kejadian negatif di Jogja pasti viral dan berusaha diviralkan, padahal masih di tahap wajar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nyatanya, memang ada korban, bahkan korban jiwa. Tapi, lha saya kan cuman mbebek omongan petinggi. Lha kalau petinggi sudah ngomong gitu, kalian-kalian ini bisa apa?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka dari itu, #YogyaTidakAman ini adalah suatu upaya terstruktur, sistematik, dan masif untuk menggembosi pariwisata Jogja. Sebab, geliat wisata Jogja mulai terlihat. Meski sudah terlihat dari masa pandemi masih gila-gilanya, tapi pokoke ngono lah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tiba-tiba saya kepikiran, terstruktur-sistematis-masif ini kalau disingkat jadi SURAM. Sekenanya aja, kayak singkatan-singkatan Orde Baru gitu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalian-kalian ini harusnya narimo ing pandum. Di kota berhati nyaman ini, harus ada harga yang dibayar. Ya hunian mahal, ya tanah mahal, ya upah rendah, ya keamanan suram, ya kemacetan. Nggak usah protes, KTP-mu mana?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di dompet? Bagus.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau kalian masih ngetwit #YogyaTidakAman, sebaiknya angkat kaki dari Jogja. Jogja tidak untuk kalian-kalian yang banyak tuntutan. Upah rendah, terima saja. Risiko. Hanya di kota ini, kalian bisa lihat satu tempat direnovasi tiap tahun meski urgensinya dipertanyakan. Kota Pelajar tapi kalau bisa jangan kritis. Dah, angkat kaki aja. Pindah mana gitu yang lebih mendingan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lagian kalian ini nggak update. Kan kalian udah pernah liat tempat wisata yang jualan tagline \u201cJogja Rasa Ubud\u201d. Nah, anggap aja fenomena klitih ini sebagai promosi tagline \u201cJogja rasa Medellin\u201d. Situ tinggal cari aja orang yang mau cosplay jadi Escobar, kelar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Gimana, saya udah cocok belum jadi buzzer?<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Rizky Prasetya<br \/>\nEditor: Rizky Prasetya<\/p>\n<h5><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/h5>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kalau mau pembelaan yang lebih bombastis, bisa hubungi saya.<\/p>\n","protected":false},"author":777,"featured_media":156599,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[5193,10798,509],"class_list":["post-156594","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-klitih","tag-satir","tag-yogyakarta"],"modified_by":"Rizky Prasetya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/156594","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/777"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=156594"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/156594\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/156599"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=156594"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=156594"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=156594"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}