{"id":1562,"date":"2019-05-18T09:00:36","date_gmt":"2019-05-18T02:00:36","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=1562"},"modified":"2021-10-05T15:02:56","modified_gmt":"2021-10-05T08:02:56","slug":"mempertajam-jiwa-minimalis-pada-anak-kos","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/mempertajam-jiwa-minimalis-pada-anak-kos\/","title":{"rendered":"Mempertajam Jiwa Minimalis pada Anak Kos"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"margin: 0px; font-size: 12pt;\">Setiap manusia di dunia menerapkan gaya hidup yang berbeda\u2013beda. Di tengah maraknya orang\u2013orang zaman sekarang yang berlomba untuk memiliki barang mewah serta bergaya hidup <\/span><i><span style=\"margin: 0px; font-size: 12pt; font-style: italic;\">glamor<\/span><\/i><span style=\"margin: 0px; font-size: 12pt;\">, ada gaya hidup yang prinsipnya berseberangan dan ternyata cukup populer bagi sebagian orang, yaitu gaya hidup <\/span><s><span style=\"margin: 0px; font-size: 12pt; text-decoration: line-through;\">minim alis<\/span><\/s><span style=\"margin: 0px; font-size: 12pt;\"> minimalis. Gaya hidup minimalis sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru, terutama di kalangan generasi milenial. Prinsip gaya hidup minimalis didasarkan pada filosofi \u2018Zen\u2019 yang menekankan bahwa kesederhanaan adalah hal penting guna menjalani kehidupan yang lebih tenang dan bahagia. Terkait dengan itu, kesederhanaan bukan hal yang asing bagi anak kos yang merantau jauh dari orangtua.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"justify\"><i><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt; font-style: italic;\"><span style=\"color: #000000;\">\u201cOke\u2026 Lalu masalahnya di mana? Kami sebagai anak kos memang sudah terbiasa kok dengan keseharian yang serba pas \u2013 pasan,\u201d<\/span><\/span><\/i><i><\/i><\/p>\n<p align=\"justify\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt;\">Begini ya teman \u2013 teman, saya yakin banyak sekali anak <span style=\"margin: 0px; font-size: 12pt;\">kos <\/span>yang jauh di dalam lubuk hatinya terobsesi untuk nantinya ingin punya harta yang berlimpah. Siapa juga yang tidak mau jadi orang kaya, kan? Nah, Anak kos yang akrab dengan kesederhanaan biasanya karena faktor keadaan, bukan berdasarkan pada mindset yang memang ingin hidup serba prihatin dan tirakat<\/span><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt;\">. Sering saya menjumpai teman saya sesama anak <span style=\"margin: 0px; font-size: 12pt;\">kos <\/span>yang penginnya beli barang ini lah itu lah sampai pusing mikirnya. Setelah terlepas dari kehidupan <span style=\"margin: 0px; font-size: 12pt;\">kos<\/span>, barulah mereka meluapkan hasratnya untuk bergaya hidup yang lebih mewah dari sebelumnya.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"justify\"><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt;\"><span style=\"color: #000000;\">Tenang saja, yang saya maksud dengan gaya hidup minimalis bukan masalah mampu atau tidak mampu membeli barang\u2013barang mahal dan mewah, melainkan cara pandang seseorang tentang kepemilikan terhadap suatu barang. Pada prinsipnya, orang yang bergaya hidup minimalis percaya bahwa ia cuma perlu mempunyai barang \u2013 barang penunjang kebutuhannya tanpa dikelilingi barang\u2013barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan. Maka dari itu, menurut saya wajib bagi anak <span style=\"margin: 0px; font-size: 12pt;\">kos <\/span>memegang teguh prinsip gaya hidup minimalis bahkan sampai nanti ketika sudah nggak nge-<span style=\"margin: 0px; font-size: 12pt;\">kos<\/span>. Wong, jika menerapkan gaya hidup minimalis, sah\u2013sah saja kok kalau ingin beli barang mahal nan berkualitas asalkan mencukupi kebutuhan bukan keinginan. Begitu loh\u2026<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"justify\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt;\">Emang sih, nggak bisa dipungkiri jika menerapkan gaya hidup minimalis di zaman sekarang ini merupakan prinsip yang cukup menantang. Banyak sekali godaan yang datang dari segala arah dalam memperlihatkan barang\u2013barang unik yang sebenarnya nggak penting\u2013penting banget buat kita miliki. Mulai dari tren model pakaian, <\/span><i><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt; font-style: italic;\">gadget<\/span><\/i><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt;\">, furnitur, dan lain\u2013lain. Semua itu terlihat menarik saat dipromosikan di berbagai media, entah kenapa seperti tidak ada habisnya jika kita mengikuti tren yang berkembang. Mengingat generasi Z juga dikenal dekat dengan gaya hidup konsumerisme~<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"justify\"><i><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt; font-style: italic;\"><span style=\"color: #000000;\">\u201cNamanya anak muda masa tidak boleh mengikuti tren?! Nanti bisa kudet dan nggak gaul dong~\u201d<\/span><\/span><\/i><i><\/i><\/p>\n<p align=\"justify\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt;\">Perlu diingat bahwa tidak ada larangan tertulis bagi siapapun untuk mengikuti perkembangan zaman. Yang perlu dikhawatirkan adalah kebiasaan mengikuti tren yang sifatnya konsumtif sampai sering bikin kantong jebol, misalnya hasrat untuk membeli <\/span><i><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt; font-style: italic;\">fashion item<\/span><\/i><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt;\"> baru setiap beberapa bulan hingga lama\u2013kelamaan memenuhi lemari. Sementara, tanpa sadar kita seringkali menggunakan pakaian yang itu\u2013itu saja.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"justify\"><span style=\"color: #000000;\"><i><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt; font-style: italic;\">Hadeeehh<\/span><\/i><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt;\">&#8230;<\/span><i><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt; font-style: italic;\">\u00a0Mubazir banget ya&#8230;<\/span><\/i><\/span><\/p>\n<p align=\"justify\"><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt;\"><span style=\"color: #000000;\">Alih\u2013alih mengikuti tren dengan membeli barang\u2013barang yang tidak terlalu bermanfaat, alangkah lebih baik jika uangnya digunakan untuk pengembangan diri misalnya mengambil kursus tertentu, ikut seminar maupun lomba, atau mungkin diinvestasikan. Sedangkan, untuk barang\u2013barang yang tidak terpakai bisa dijual atau bahkan diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan. Lebih bermanfaat, kan?<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"justify\"><i><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt; font-style: italic;\"><span style=\"color: #000000;\">\u201cIntinya menyingkirkan barang\u2013barang yang tidak dibutuhkan ya? Bagaimana dengan barang yang mempunyai cerita tersendiri, pemberian dari orang lain, dan ada juga yang dirasa sayang\u2013sayang kalau dibuang?\u201d<\/span><\/span><\/i><i><\/i><\/p>\n<p align=\"justify\"><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt;\"><span style=\"color: #000000;\">Saya tahu bahwa tidak mudah untuk menyingkirkan barang yang memiliki cerita dan memori tertentu, misalnya barang pemberian dari mantan. Patut diakui hal itu cukup sulit dilakukan karena keterlibatan emosi yang bergejolak di dalamnya. Beberapa solusinya yakni dengan tidak harus melakukan perubahan besar secara signifikan, berbenah secara bertahap, dan mempertimbangkan secara matang dalam memilih barang\u2013barang yang hendak dipertahankan atau disingkirkan.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"justify\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt;\">Jika dirasa masih bingung mengenai tips membereskan barang\u2013barang, Sebagai referensi, serial Netflix dan buku berjudul <\/span><i><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt; font-style: italic;\">\u201cThe Life-Changing Magic of Tidying Up: The Japanese Art of Decluttering and Organizing\u201d <\/span><\/i><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt;\">karya penulis Jepang, Marie Kondo, berhasil mempopulerkan gaya hidup minimalis dan metode berbenah \u201cKonMari\u201d di berbagai negara. Metode tersebut memberikan arahan serta aturan ketika kita hendak merapikan barang mulai dari meyakinkan diri untuk komitmen dalam berbenah, menempatkan barang sesuai kategorinya, sampai hal yang paling esensial yakni bertanya kepada diri sendiri apakah barang tersebut memberikan kesenangan atau tidak (jika tidak, maka barang tersebut layak disingkirkan).<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"justify\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt;\">Toh, jika kita tidak malas untuk mengulik lebih jauh di zaman dengan penyebaran informasi yang cepat ini, sebenarnya sudah ada banyak sekali referensi yang membahas tentang gaya hidup minimalis, misalnya buku yang berjudul <\/span><i><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt; font-style: italic;\">\u201cgoodbye, things: The New Japanese Minimalism\u201d <\/span><\/i><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt;\">karya Fumio Sasaki yang ramai diperbincangkan dalam mengubah pola pikir banyak orang di Jepang untuk menerapkan gaya hidup minimalis secara efektif dan menjauhkan budaya konsumerisme. Ada pula contoh dari Amerika Serikat seperti misalnya Joshua F. Millburn bersama Ryan Nicodemus dengan situsnya yang bertajuk \u2018<\/span><i><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt; font-style: italic;\">The Minimalists\u2019<\/span><\/i><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt;\">\u00a0sebagai saluran penyedia <\/span><i><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt; font-style: italic;\">podcast<\/span><\/i><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt;\">, buku, dan film dokumenter dinilai cukup mampu menjabarkan seluk\u2013beluk gaya hidup minimalis dengan baik kepada para penikmatnya.<\/span><\/span><\/p>\n<p align=\"justify\"><i><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt; font-style: italic;\"><span style=\"color: #000000;\">\u201cJadi, apa manfaat nyata dari gaya hidup minimalis bagi anak kos?\u201d<\/span><\/span><\/i><i><\/i><\/p>\n<p align=\"justify\"><span style=\"color: #000000;\"><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt;\">Gampangnya, seorang anak kos yang menanamkan <\/span><i><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt; font-style: italic;\">mindset <\/span><\/i><span style=\"margin: 0px; line-height: 150%; font-size: 12pt;\">dan mempraktikkan gaya hidup minimalis secara efektif nggak perlu deh mengeluarkan tenaga ekstra serta khawatir dalam merawat barang\u2013barang yang dimilikinya. Masih ada hal penting lainnya yang perlu dipikirkan dan dikerjakan di luar ketergantungannya terhadap materi dan tren. Di samping itu, anak kos juga harus sadar akan kebutuhannya di masa depan yang nantinya semakin berjibun, dengan menerapkan gaya hidup minimalis tentunya bisa menghemat pengeluaran untuk sesuatu yang lebih krusial. Lagipula, apa nggak merasa sumpek menimbun begitu banyak barang di kamar yang luasnya tidak seberapa itu?<\/span><\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Anak kos yang akrab dengan kesederhanaan biasanya karena faktor keadaan, bukan berdasarkan pada mindset yang memang ingin hidup serba prihatin dan tirakat.<\/p>\n","protected":false},"author":73,"featured_media":1595,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13078],"tags":[116,407,408],"class_list":["post-1562","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-gaya-hidup","tag-anak-kos","tag-filosofi-zen","tag-minimalis"],"modified_by":"Ibil S Widodo","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1562","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/73"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1562"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1562\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1595"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1562"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1562"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1562"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}