{"id":155718,"date":"2021-12-23T10:30:41","date_gmt":"2021-12-23T03:30:41","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=155718"},"modified":"2021-12-23T08:25:46","modified_gmt":"2021-12-23T01:25:46","slug":"pengungsian-erupsi-semeru-jadi-lokasi-syuting-sinetron","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/pengungsian-erupsi-semeru-jadi-lokasi-syuting-sinetron\/","title":{"rendered":"Pengungsian Erupsi Semeru Jadi Lokasi Syuting Sinetron: Kepekaan Udah Mati"},"content":{"rendered":"<p>Apa yang lebih lucu dari 24? Tentu saja 25, kata SpongeBob Squarepants. Tapi apa yang lebih lucu dari 25? Tentu saja logika ndlogok Rumah Produksi Sinetron dan entertainment lain. Lihat saja sinetron Indonesia sekarang, kalau tidak mengeksploitasi kemiskinan ya mengekploitasi sesuatu yang viral.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tapi kelucuan (baca: kegoblokan) rumah produksi sinetron selama ini belum paripurna. Puncak kelucuan mereka terjadi di tengah duka lara korban erupsi Semeru. Mereka memanfaatkan momen bencana ini sebagai konten tayangan mereka. Bukan, bukan dengan set studio yang dibuat semirip mungkin. Tapi benar-benar syuting di lokasi pengungsian!<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sinetron Terpaksa Menikahi Tuan Muda (TMTM) menjadikan lokasi pengungsian erupsi Semeru sebagai tempat syuting. Sekali lagi, di lokasi pengungsian! Dengan alasan untuk mendapat set yang realistis, tempat warga Semeru berlindung dari bencana, dijual menjadi tayangan yang mengemis rating.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pihak PT. Verona Indah Pictures membela diri dengan menunjukkan simpati. Mereka mengaku tengah memberi dukungan moral kepada korban bencana erupsi Semeru. Menurut mereka, dukungan materil telah banyak, tapi dukungan moral masih minim. Pembelaan berikutnya adalah (katanya) mereka diterima baik oleh warga dan relawan di lokasi. Yah, meskipun banyak relawan yang mencibir mereka di media sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lebih jauh lagi, syuting TMTM ini mendapat izin dari Pemerintah Daerah Lumajang. Memang, sampai detik ini belum ada klarifikasi dari pihak pemerintah. Tapi mau klarifikasi macam apa pun, tetap saja nggatheli. Intinya, susah untuk mendapat pembenaran dari eksploitasi duka lara korban bencana erupsi Semeru.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mungkin Anda berpikir, \u201cTapi kan masyarakat terhibur dengan mereka?\u201d Ya, mungkin Anda yang kini tinggal di lokasi jauh dari bencana berpikir demikian. Tapi situasi moral korban bencana berbeda. Situasi serba tidak pasti tidak tepat dihibur dengan hingar bingar syuting yang sebenarnya B aja, sih.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kemarin ada tokoh politik yang memajang foto di pengungsian. Kini rumah produksi syuting di sana. Maaf-maaf nih, Anda punya akal sehat tidak sih. Tidak usah bicara moralitas. Namun, memanfaatkan bencana sebagai alat promosi tidak pernah berhasil. Emosi terhadap bencana selalu penuh duka. Dan siapa orang yang mau membeli tayangan atau menjual suara ketika dalam situasi penuh duka.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atau Anda berpikir, \u201cTapi kan mereka mengangkat heroisme seorang relawan.\u201d Lalu kalau heroisme mereka diangkat sinetron, apa dampaknya? Para relawan sudah heroik sejak dalam pikiran masyarakat. Tanpa harus menjual heroisme, relawan akan dan selalu menjadi pahlawan di tengah bencana. Bahkan tanpa mengeksploitasi seperti sinetron pekok ini.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kalau memang ingin mengangkat tema relawan bencana, ya sebaiknya pakai set studio saja. Pemirsa membeli cerita, dan bukan background lokasi yang realistis. Betapa lucu logika bahwa syuting di lokasi bencana akan memuaskan pemirsa dengan nilai realis. Dan terbukti kan, sekarang sinetron TMTM dikecam dan terancam diboikot oleh pemirsa.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Eksploitasi entertainment macam TMTM ini sebenarnya menjadi red flag untuk kita. Kita memang sudah masuk dalam fase krisis hiburan. Bukan jumlahnya yang berkurang, atau kualitasnya yang jongkok. Tapi fase di mana segalanya menjadi sah demi kebutuhan hiburan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konten penuh tipuan dan hiburan yang mencederai perasaan sudah subur. Eksploitasi viralitas dan kemiskinan juga makin menjadi. Dan ketika bicara eksploitasi, pada akhirnya semua bisa diperah. Termasuk duka cita dan masa-masa sulit di tengah bencana.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mau dibawa ke mana lagi industri hiburan? Apa lagi yang akan dieksploitasi? Bisa-bisa, kecelakaan lalu lintas ikut dieksploitasi demi konten hiburan. Eh sudah ding, dengan eksploitasi kecelakaan yang merenggut nyawa Vanessa Angel.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Lalu siapa yang bermasalah? Selera masyarakat yang rendah, atau industri hiburan yang minim kreativitas dan akal sehat? Menurut saya, masyarakat selama ini hanya disuapi saja. Mereka (dipaksa) mengunyah apa yang dijejalkan. Sedangkan yang menyuapi memang terlalu pekok dan tidak berpikir kecuali profit dan rating.<\/span><\/p>\n<p><em>Sumber Gambar:\u00a0<a href=\"https:\/\/unsplash.com\/photos\/IuT4XqfabPs\" target=\"_blank\" rel=\"noopener\">Unsplash<\/a><\/em><\/p>\n<p><em>Editor: Audian Laili<\/em><\/p>\n<p><em><span id=\"Terminal_Mojok_merupakan_platform_User_Generated_Content_UGC_untuk_mewadahi_jamaah_mojokiyah_menulis_tentang_apa_pun_Submit_esaimu_secara_mandiri_lewat_carainiya\">Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/span><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Komedi sekali. <\/p>\n","protected":false},"author":793,"featured_media":155721,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":{"source_name":"","source_url":"","via_name":"","via_url":"","override_template":"0","override":[{"template":"1","single_blog_custom":"","parallax":"1","fullscreen":"1","layout":"right-sidebar","sidebar":"default-sidebar","second_sidebar":"default-sidebar","sticky_sidebar":"1","share_position":"top","share_float_style":"share-monocrhome","show_share_counter":"1","show_view_counter":"1","show_featured":"1","show_post_meta":"1","show_post_author":"1","show_post_author_image":"1","show_post_date":"1","post_date_format":"default","post_date_format_custom":"Y\/m\/d","show_post_category":"1","show_post_reading_time":"0","post_reading_time_wpm":"300","show_zoom_button":"0","zoom_button_out_step":"2","zoom_button_in_step":"3","show_post_tag":"1","show_prev_next_post":"1","show_popup_post":"1","number_popup_post":"1","show_author_box":"0","show_post_related":"0","show_inline_post_related":"0"}],"override_image_size":"0","image_override":[{"single_post_thumbnail_size":"crop-500","single_post_gallery_size":"crop-500"}],"trending_post":"0","trending_post_position":"meta","trending_post_label":"Trending","sponsored_post":"0","sponsored_post_label":"Sponsored by","sponsored_post_name":"","sponsored_post_url":"","sponsored_post_logo_enable":"0","sponsored_post_logo":"","sponsored_post_desc":""},"jnews_primary_category":{"id":""},"jnews_override_counter":{"override_view_counter":"0","view_counter_number":"0","override_share_counter":"0","share_counter_number":"0","override_like_counter":"0","like_counter_number":"0","override_dislike_counter":"0","dislike_counter_number":"0"},"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[13087],"tags":[14441,14439,14442,9400,14440],"class_list":["post-155718","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-pojok-tubir","tag-erupsi-semeru","tag-lokasi-syuting","tag-pengungsian","tag-relawan","tag-terpaksa-menikahi-tuan-muda"],"modified_by":"Audian Laili","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/155718","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/793"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=155718"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/155718\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/155721"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=155718"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=155718"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=155718"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}