{"id":15570,"date":"2019-10-03T12:15:33","date_gmt":"2019-10-03T05:15:33","guid":{"rendered":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/?p=15570"},"modified":"2020-04-07T15:30:44","modified_gmt":"2020-04-07T08:30:44","slug":"rasanya-ngontrak-bareng-anak-indigo-sering-mendadak-horor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rasanya-ngontrak-bareng-anak-indigo-sering-mendadak-horor\/","title":{"rendered":"Rasanya Ngontrak Bareng Anak Indigo: Sering Mendadak Horor"},"content":{"rendered":"<p>Mendadak hidup saya berubah setelah ngontrak di daerah Nologaten. Tapi perubahan ini bukan lantaran saya tiba-tiba ditabok duit sama kru acara <em>reality show<\/em> karena sudah menolong anak gembel yang lagi muter-muter jualan <a href=\"https:\/\/tirto.id\/gorengan-bentuk-kecintaan-dan-toleransi-orang-indonesia-cK1w\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">pisang goreng<\/a> untuk keperluan membeli obat asma ibunya. Bukan juga karena bikin video <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/meresapi-lirik-lagu-tik-tok-maknanya-dalem-cuy\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Tik Tok<\/a> pas lagi aksi mahasiswa dengan lagu Sobat Ambyar dan viral dan dikatain netijen-netijan sok suci: <em>stop making stupid people famous!<\/em><\/p>\n<p>Perubahan dalam hidup saya ini berkelindan dengan kawan sekontrakan saya. Seorang lelaki yang sudah menginjak usia seperampat abad. Sepintas, ia seperti pemuda biasa pada umumnya. Suka membicarakan cewek, pergaulan, dan segala macam. Tetapi saat kondisi-kondisi tertentu, ia bisa tiba-tiba bersikap \u201cdukun.\u201d<\/p>\n<p>Haryanto, nama teman saya itu, mengklaim diberkahi kemampuan supranatural atau dalam bahasa kerennya, ia masuk kategori \u201canak indigo.\u201d Meski ia mengaku baru mengasah kemampuan penerawangan dan tenaga dalamnya dua tahun belakangan ini. Tepatnya setelah belajar mengampu ilmu kanuragan di perguruan yang entah apa namanya.<\/p>\n<p>Saya pertama kali mengenal anak indigo ini satu tahun yang lalu. Ia masih tetangga kecamatan saya di Kabupaten Batang dan kami pernah sama-sama terlibat dalam sebuah proyek kepenulisan buku biografi ulama-ulama dari daerah tersebut. Pada saat-saat itu, saya beberapa kali terlibat pembicaraan dengannya. Dia ternyata hendak melanjutkan di kampus yang sama dengan tempat saya kuliah sekarang.<\/p>\n<p>Saya sempat putus kontak dengannya. Namun, beberapa saat lalu, ia menghubungi saya dan menawari kontrakan. Kebetulan ia nemu orang yang hendak mengoper kontrakan dengan harga agak miring. Singkat cerita, tergiur oleh harga serta fasilitas kontrakan tersebut, saya pun mengiyakan ajakan Haryanto.<\/p>\n<p>Jumat sore, pekan lalu, saya mengangkut barang-barang di indekos lama saya. Haryanto sudah lebih dulu tinggal di kontrakan beberapa hari sebelumnya. Jadi begitu saya sampai, ia bisa bantu-bantu mengangkati barang dari mobil pindahan. Selesai mengangkat barang, kami pun istirahat sembari menikmati kopi. Langit mulai gelap kala itu, meski suara azan Maghrib belum terdengar. Tetapi ada yang bikin saya agak aneh. Haryanto senyam-senyum sendiri dengan kondisi mata terpejam.<\/p>\n<p>\u201cAh, iya, iya. Oke, oh begitu. Ah, sip!\u201d<\/p>\n<p>Ia seolah sedang menyahuti seseorang, kepalanya sesekali mengangguk, namun matanya masih tetap terpejam. Saya celingukan sendiri sembari membatin, <em>apa dia sebenarnya ngajakin saya ngomong ya?<\/em><\/p>\n<p>Beberapa saat kemudian, Haryanto menatap saya dan tersenyum. \u201cPenunggu di pojok sebelah pintu kamar mandi titip salam buat kamu.\u201d<\/p>\n<p>Deg! Bulu rona saya tiba-tiba meremang. Sementara Haryanto terkesan seperti aki-aki di film horor yang merasa mengetahui segalanya. Dengan sikap khidmat sembari bersedekap, ia berkata, \u201cjangan khawatir, beliau nggak akan ganggu kok. Cuma sering diam saja di pojok kamar mandi.\u201d<\/p>\n<p>Saya hendak bertanya seperti apa wujud beliau ini. Tapi anak indigo ini seolah tahu tentang perasaan saya. Ia bilang, dalam terawangannya, si penunggu pojok kamar mandi tersebut adalah seorang kakek tua berjubah putih, memiliki tongkat, dan mengenakan caping. Ingatan saya langsung otomatis memunculkan sosok Raiden, dewa petir yang jadi gurunya Liu Kang dalam permainan Mortal Kombat. Aneh juga, batin saya.<\/p>\n<p>Tak mau meneruskan pembicaraan tentang si beliau ini, saya pun pamit hendak mandi. Namun ketika memasuki kamar mandi, saya mematung agak lama. Membayangkan di pojok pintu ada kakek-kakek aneh yang memperhatikan saya bugil. Merinding lagi saya. Tetapi bukan soal membayangkan penampakan. Ini soal membayangkan hal lain&#8230;<\/p>\n<p>Beberapa hari setelahnya, Haryanto tak lagi menampakkan aura dukunnya. Tapi saya tetap merasa terteror. Khususnya di kamar mandi. Entah kenapa, bayangan kakek-kakek tua berpenampilan seperti Rayden itu cukup membuat saya risih. Saya jadi tidak bisa leluasa menikmati ritual mandi atau boker atau merancap. Sial betul. Saya terus merasa diawasi.<\/p>\n<p>Kenapa tidak dari dulu-dulu saya menyadari kalau Haryanto ini orangnya <em>nglenik<\/em>? Begitulah kadang saya membatin.<\/p>\n<p>\u201cSebenarnya aku nggak mau juga punya kemampuan ini,\u201d ucapnya pada suatu kali ketika ngobrol santai dengan saya. \u201cNggak enak rasanya, ke mana-mana lihat yang begituan.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKamu awalnya kesurupan apa gimana sih?\u201d<\/p>\n<p>Anak indigo ini menggeleng. \u201cSudah turunan dari kakek,\u201d katanya. Lalu ia pun bercerita panjang lebar mengenai masa kecilnya yang sering melihat hal-hal aneh dan petualangannya ketika mendalami ilmu kanuragan di Madura.<\/p>\n<p>\u201cSejak dari Madura itu, aku kayaknya jadi makin peka. Kadang, kalau aku pergi, ada saja demit-demit yang nempel.\u201d<\/p>\n<p>\u201cKok kamu nggak cerita dari dulu-dulu sih?\u201d<\/p>\n<p>\u201cYa karena memang jarang aku ceritakan sih. Cuma dengan orang-orang tertentu yang sudah kuanggap dekat saja. Kenapa? Kamu nyesel ngontrak bareng aku?\u201d ia bertanya sambil ketawa. Tapi saya menggeleng.<\/p>\n<p>Sejak terbuka mengenai kemampuannya, hampir ke mana pun kami pergi, ia akan menceritakan penglihatannya. Ia seolah jadi pemandu wisata untuk hal-hal yang bagi saya tak kasat mata. Wisata horor. Misalnya, di sepanjang gang menuju kontrakan, ia bilang ada sekumpulan geng demit dalam berbagai wujud yang mengambang.<\/p>\n<p>\u201cSebelah sana itu ada pocong, terus ini di sebelah sini semacam kaya hantu tanpa kepala, nah di belakang kamu,\u201d ia menoleh tepat ke arah belakang saya, \u201citu ada sosok hitam legam yang besarnya dua kali badan pesawat.\u201d<\/p>\n<p>Pernah pula ketika sedang duduk-duduk di pinggiran kali dekat kontrakan, anak indigo ini\u00a0 tiba-tiba mengajak saya balik dengan muka pucat. Lalu sesampainya di kontrakan, ia bercerita pada saya mengenai sosok penunggu kali tersebut, seekor ular yang besarnya melebihi rumah kontrakan kami. Saya sih antara takut dan pengin ketawa. Lha ular segede itu malah mengingatkan saya sama animasi murahan yang sering dinaiki Choky Andriano dan Temi Rahady dalam sinetron-sinetron picisannya Indosiar.<\/p>\n<p>Mungkin karena sudah terbiasa, alih-alih senam jantung, saya malah jadi merasa semakin kaya imajinasi dan fantasi. Saya selalu menunggu-nunggu saat ketika aura dukunnya muncul. Dan puncaknya adalah malam tadi.<\/p>\n<p>Ketika saya sedang mencoba menggoda anak indigo ini dengan pura-pura sok kritis dan tak percaya pada hal metafisika yang irasional, sesuatu terjadi. Pada mulanya saya menantang kakek-kakek berwujud Raiden di kamar mandi, lalu menantang yang lainnya agar mulai menampakkan diri. Haryanto geleng-geleng kepala. \u201cHanya karena kamu belum bisa melihat, bukan berarti mereka tidak ada. Pokoknya aku nggak tanggung jawab kalau terjadi apa-apa.\u201d Saya menepuk pundak Haryanto. \u201cCuma bercanda, kok.\u201d<\/p>\n<p>Setelah puas membuat ia tampak bersungut-sungut jengkel, saya merasa pengin kencing. Lalu saya bergegas ke kamar mandi. Akan tetapi, burung saya mendadak kepanasan dan susah mengeluarkan urine. Aneh sekali. Agak lama saya jongkok, mengarahkan si torpedo ke lubang toilet, mencoba rileks, namun sia-sia.<\/p>\n<p>Tiba-tiba, dari arah luar kamar mandi, saya mendengar Haryanto\u2014dengan nada suara datar dan menekan, berkata: \u201cSudah kubilang, hanya karena kamu belum bisa melihat, bukan berarti mereka tidak ada. Jangan meremehkan apa-apa yang tidak kamu ketahui.\u201d<\/p>\n<p><strong>BACA JUGA <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/rasanya-ngontrak-bareng-anak-indigo-bagian-2\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Rasanya Ngontrak Bareng Anak Indigo Bagian 2<\/a><\/strong><strong> dan tulisan <a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/author\/akhyatsulkhan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">Akhyat Sulkhan<\/a>\u00a0lainnya.<\/strong><\/p>\n<p><em>Terminal Mojok merupakan platform User Generated Content (UGC) untuk mewadahi jamaah mojokiyah menulis tentang apa pun. Submit esaimu secara mandiri lewat cara\u00a0<a href=\"https:\/\/mojok.co\/terminal\/kirim-tulisan\/\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">ini<\/a>\u00a0ya.<\/em><\/p>\n<p><em>Pernah menulis di Terminal Mojok tapi belum gabung grup WhatsApp khusus penulis Terminal Mojok? Gabung dulu, yuk. Klik link-nya<\/em>\u00a0<em><a href=\"https:\/\/bit.ly\/wamojok\" target=\"_blank\" rel=\"noopener noreferrer\">di sini.<\/a><\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Haryanto, nama teman saya itu, mengklaim diberkahi kemampuan supranatural atau dalam bahasa kerennya, ia masuk kategori \u201canak indigo.\u201d<\/p>\n","protected":false},"author":27,"featured_media":15675,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_lmt_disableupdate":"","_lmt_disable":"","jnews-multi-image_gallery":[],"jnews_single_post":[],"jnews_primary_category":[],"jnews_override_counter":[],"jnews_post_split":[],"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[3500,3729,1304,949,3730,1365,3732,3731,3733],"class_list":["post-15570","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel","tag-alam-gaib","tag-anak-indigo","tag-cerita-horor","tag-dukun","tag-kemampuan-supranatural","tag-melihat-hantu","tag-mortal-kombat","tag-penampakan","tag-raiden"],"modified_by":"Prima Sulistya","amp_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15570","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/users\/27"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15570"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15570\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media\/15675"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15570"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15570"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/mojok.co\/terminal\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15570"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}